Filosofi Baskom Kosong: Kenapa Otak Manusia Tak Pernah Penuh Ilmu

banner 2560316

TROBOS.CO | Pernahkah terlintas pertanyaan, apa sebenarnya guna pengajian, tausiyah, atau membaca berlembar-lembar buku tarikh dan buku inspiratif lainnya? Pertanyaan itu sering muncul, terutama dari mereka yang merasa ilmu yang dipelajari tak kunjung terasa cukup.

Namun sebelum menjawabnya dengan kata-kata, ada baiknya mengajak si penanya untuk memperhatikan sesuatu yang sederhana: sebuah baskom kosong.

Coba bayangkan baskom itu mulai diisi koral. Setelah tampak penuh, ditambahkan pasir, lalu air, disusul garam, gula, dan akhirnya tepung. Anehnya, semua bahan itu tetap bisa masuk ke dalam baskom yang sama.

Rahasianya sederhana. Selalu ada ruang kosong di sela-sela benda besar yang bisa diisi oleh benda-benda yang lebih halus dan lebih kecil. Koral menyisakan celah untuk pasir, pasir menyisakan celah untuk air, dan seterusnya, hingga baskom itu benar-benar penuh secara sempurna.

Begitu pula dengan otak dan pikiran manusia. Hari ini mungkin diisi ilmu fiqh, esok ditambah ilmu tasawuf, lalu matematika, ilmu pengetahuan alam, kimia, dan berbagai disiplin ilmu duniawi lainnya. Semua itu ternyata tidak membuat otak menjadi penuh dan berhenti menerima.

Sebab masih ada rongga-rongga kosong yang siap diisi. Karena itu, jangan buru-buru mengatakan otak sudah penuh, apalagi mengklaim isinya sudah melimpah ruah. Selama rongga itu ada, ilmu baru akan selalu menemukan tempatnya.

Mengisi otak, pada dasarnya, sama seperti mengisi ruang-ruang kosong tadi. Otak menjadi lebih terisi, keyakinan kian mantap, semangat semakin bergelora, dan iman turut tumbuh subur bersamanya.

Orang yang telaten mengisi rongga-rongga kosong di otaknya, lambat laun akan berubah menjadi magnet kuat bagi ilmu dan pengetahuan baru. Semakin banyak ia belajar, semakin ia menarik hal-hal baru untuk dipelajari lagi.

Buahnya bukan sekadar kepandaian. Ada rasa yang tumbuh, perasaan semakin dekat dengan pemilik kehidupan, sang pencipta dan pemberi rezeki, pemelihara hidup yang kelak akan meminta pertanggungjawaban atas segala yang telah diberikan-Nya.

Maka, tak ada kata terlambat untuk belajar. Tak ada pula kata tua dalam menambah ilmu. Otak tidak akan pernah tumpul selama terus diasah dengan khazanah pengetahuan, wawasan, dan pengalaman baru.

Yakinlah, setiap upaya kecil untuk terus mengisi pikiran akan berdampak positif bagi kecerdasan. Sebab semakin sering otak diisi, justru semakin mantap ia bekerja bukan semakin penuh dan berhenti menampung.

Suharyo, AP – Pemerhati Masalah Sepele

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *