TROBOS.CO | Pagi itu ada tamu istimewa di kantor BAZNAS Lumajang. Usianya 63 tahun. Wajahnya berseri-seri. Ia datang diantar anaknya, Senin, 22 Juni 2026 bukan untuk meminta sesuatu, melainkan untuk menunjukkan sesuatu.
Sesuatu yang kini menopang hidupnya kembali: sepasang kaki palsu.
Pria itu bernama Supardi, warga Desa Dari Kemuning, Kecamatan Senduro, Lumajang. Ia hadir didampingi Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Jawa Timur, Ali Muslimin. Dengan bangga, Supardi memperlihatkan kaki palsunya kepada Ketua BAZNAS Lumajang, Drs. M. Nur Sjahid, dan Wakil Ketua II, Suharyo AP, S.H.
“Kulo seneng sanget,” ucapnya saya senang sekali.
Kalimat itu sederhana. Tapi bagi Supardi, kata-kata itu menyimpan perjalanan panjang yang tidak mudah.
Kisah Supardi berawal dari kejadian yang terdengar sepele: menginjak paku. Namun luka itu tidak kunjung sembuh. Infeksi terus meluas, hingga akhirnya dokter memutuskan bahwa kaki kirinya harus diamputasi. Tak ada pilihan lain.
Sebelum musibah itu, Supardi adalah sopir bus jurusan Jember–Jakarta. Profesi itu satu-satunya sumber penghidupan bagi keluarganya. Ayah dua anak ini satu dari istri pertama, satu dari istri kedua menanggung beban yang tidak ringan.
Sejak kakinya diamputasi, ia tidak bisa lagi memegang setir. “Saya lebih banyak diam di rumah, tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya pelan.
Hidup Supardi tidak berhenti jatuh di situ. Istri pertamanya telah tiada cerai karena meninggal dunia. Istri keduanya pun pergi, meninggalkannya justru di saat ia paling membutuhkan. Sejak kaki Supardi tidak lagi berfungsi, sang istri memilih tidak lagi bersamanya.
Sepi. Tidak bisa bekerja. Ditinggal pasangan. Semua datang hampir bersamaan.
Ali Muslimin, yang mendampingi Supardi hari itu, tahu betul bagaimana kerasnya masa-masa itu. Ia pun berkisah bahwa Supardi termasuk beruntung dalam satu hal: proses pembuatan kaki palsu yang biasanya memakan waktu lama, kali ini berjalan cepat.
“Begitu saya pesan untuk Supardi, kaki palsunya langsung digarap,” kenangnya.
Kaki palsu itu dibuat di Sidoarjo. Harganya tidak murah kini sudah di atas empat juta rupiah, naik dari harga sebelumnya yang berkisar tiga setengah juta. BAZNAS Lumajang menanggung biayanya.
Ketua BAZNAS Lumajang, M. Nur Sjahid, menyampaikan pesan yang dalam kepada Supardi saat menerimanya. Gunakan kaki palsu itu sebaik-baiknya, dan yang lebih penting jaga terus semangat hidupmu.
Pesan itu rupanya sudah terasa dampaknya. Kini Supardi bisa berjalan lagi. Ia tidak lagi terpaku di rumah dalam diam. Meski pekerjaan sebagai sopir sudah menjadi kenangan, setidaknya ia bisa bergerak. Bisa melangkah.
“Kini tidak bersedih terlalu dalam seperti waktu lalu,” tulisnya. Dan di wajahnya yang berseri-seri pagi itu, Supardi membuktikannya sendiri.
Di usia 63 tahun, ia datang ke kantor BAZNAS bukan sebagai orang yang meminta belas kasihan melainkan sebagai orang yang ingin mengucapkan terima kasih. Dan itu, barangkali, adalah bentuk bangkit yang paling bermartabat.
Suharyo AP









