TROBOS.CO | Dalam kehidupan, kita kerap dihadapkan pada pemahaman bahwa amal akan berbuah pahala kelak di akhirat. Pemahaman ini benar, namun tidak sepenuhnya lengkap. Sesungguhnya, semasa hidup pun manusia sudah menerima yang namanya pahala, berupa anugerah kebahagiaan, maupun dosa yang berujung pada derita kesengsaraan.
Tubuh manusia tersusun dari sel sebagai kumpulan molekul yang memiliki inti, berisi rangkaian ATCG dalam kode DNA, sesuatu yang sesungguhnya bisa “bercerita”. Jika DNA diibaratkan sebagai buku resep universal, maka perjalanan hidup adalah yang menuliskan catatannya.
Setiap kali seseorang memilih sikap sabar atau serakah, otak merespons dengan membentuk dan memperkuat jalur sinapsis tertentu. Sirkuit saraf keserakahan cenderung melahirkan stres kronis dan trauma, rasa serba kurang, serta kecemasan yang menciptakan keterikatan bagaikan penjara pikiran, ibarat rasa lapar yang justru makin menjadi setiap kali diberi makan. Semakin sering diulang, sirkuit ini pun semakin menebal.
Trauma batin semacam ini dipercaya menempelkan penanda molekuler yang mengunci gen peningkat imunitas dan justru mengaktifkan gen pemicu peradangan. Sebaliknya, sirkuit saraf kesabaran, ketenangan, dan kesadaran batin melahirkan mental yang tangguh, kedamaian jiwa, serta gaya hidup yang lebih seimbang dan lapang dada. Kondisi ini mengirim sinyal biokimia untuk melepaskan stres, sehingga ekspresi gen bergeser ke arah pemulihan seluler dan ketahanan tubuh.
Efek dari perilaku dan kondisi jiwa ini diyakini akan selalu berbekas. Dalam kacamata fisika kuantum dan kosmologi modern, terdapat gagasan mengenai kekekalan informasi, bahwa seluruh interaksi fisik, mulai dari gerakan, gesekan kulit, hingga pemikiran di otak, membawa informasi masa lalu, sekarang, dan yang akan datang, dan energinya tidak pernah benar-benar hilang.
Gagasan ini menemukan gemanya dalam Al-Qur’an. Surah An-Nur ayat 35 menyatakan bahwa cahaya Allah meliputi langit dan bumi, mengindikasikan keterhubungan segala kejadian di alam semesta yang kita tempati. Tak ada sesuatu pun yang benar-benar hilang, sejalan dengan gambaran kesinambungan dari dunia hingga akhirat sebagaimana disebutkan dalam Surah Yasin ayat 65, yang menggambarkan hari ketika mulut manusia tertutup, sementara tangan berbicara dan kaki menjadi saksi atas segala perbuatannya. Peristiwa itu terjadi secara otomatis, tubuh sendiri yang bercerita dan bertanggung jawab tanpa perlu proses pertanyaan maupun interogasi. Buah dari perbuatan di dunia inilah yang kelak dituai di alam kubur, alam barzakh, hingga hari pembalasan.
Jiwa yang disucikan akan mengalami kebebasan dari tarikan gravitasi materi dunia. Ia melayang ringan menuju tempat yang tinggi di alam barzakh, yang disebut sebagai Illiyin, sesuai jalan lurus atau shiratal mustaqim, yakni jalan orang-orang yang diberi nikmat. Sebaliknya, jiwa yang dikotori oleh keserakahan dan terbebani materi akan senantiasa merasa terhimpit dan terpenjara dalam kecemasan yang mencekam, mengantarkannya pada lapisan bawah alam barzakh yang disebut Sijjin.
Karena itu, sangat perlu bagi setiap insan untuk memperbanyak amal saleh selagi hidup, karena di dalamnya tersimpan reward atau pahala. Ada mekanisme dalam tubuh yang mengeluarkan hormon ketenangan dan kepuasan saat seseorang berbuat baik, yang pada gilirannya turut memperkuat daya tahan tubuh terhadap masuknya bibit penyakit, sehingga tubuh tetap sehat dan bugar. Inilah anugerah pahala nonmateri yang diterima seketika itu juga.
Sejalan dengan itu, sejumlah studi di Amerika menyebut bahwa masyarakat yang gemar beramal cenderung merasa lebih berbahagia, mulai dari sekadar memberi senyuman hingga gemar membantu sesama, disertai kohesivitas sosial yang menjauhkan diri dari rasa kesepian. Tak heran pula bila muncul anggapan bahwa mereka yang rajin berbagi cenderung tampak lebih awet muda dibanding usia sebenarnya, sesuatu yang tergolong langka bahkan di negara maju sekalipun. Itulah buah dari kerelaan berkurban, menyembelih ego keserakahan dengan memperbanyak berbagi dan beramal.
Pada akhirnya, manusia diberi ilham untuk memilih antara menyempurnakan jiwanya dengan kesucian melalui banyak beramal, atau mengotorinya dengan ego keserakahan. Pilihan inilah yang sangat menentukan datangnya kebahagiaan atau kesengsaraan, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sungguh berbahagialah mereka yang menyucikan jiwanya, dan merugilah mereka yang mengotorinya.
Ir. Widodo Djaelani, Jember










