TROBOS.CO | Sosoknya kalem. Bicaranya tidak banyak. Tapi di balik ketenangan pria 59 tahun itu, tersimpan perjalanan hidup yang melampaui batas negara.
Ustaz Abdul Aziz Ketua Takmir Masjid Al Ijtihadi Kalisat, Jember bukan orang biasa yang seumur hidup hanya tinggal di satu tempat. Ia pernah menghabiskan 18 tahun hidupnya di tanah yang kini bernama Timor Leste. Dan di sana, ia meninggalkan jejak yang tidak sedikit.
Awalnya bukan soal dakwah. Abdul Aziz tertarik pada pengembangan pariwisata sebuah bidang yang waktu itu masih sangat sepi perhatian di Timor Timur.
Ia mulai dari hal yang paling sederhana: membuat brosur. Brosur itu kemudian ia sebarluaskan ke berbagai pihak sedikit demi sedikit, tanpa banyak modal, tanpa dukungan lembaga besar.
“Saya rintis dari membuat brosur, disebarluaskan ke berbagai pihak, sehingga akhirnya objek wisata di Timor Leste banyak dikenal,” terangnya.
Hasilnya tidak main-main. Objek wisata yang sebelumnya nyaris tak terdengar perlahan mendapat perhatian publik. Citra pariwisata Timor Leste berubah dan nama Abdul Aziz ikut terangkat bersamanya. Ia kemudian dipercaya sebagai relawan resmi yang bertugas lebih jauh mengenalkan potensi wisata daerah itu.
Di sela-sela kesibukannya di bidang pariwisata, Abdul Aziz tidak pernah meninggalkan satu hal yang lebih penting: dakwah.
Bersama para aktivis Dewan Dakwah yang bergerak di Timor Leste, ia aktif menjangkau wilayah-wilayah terpencil — membawa pesan Islam hingga ke pelosok-pelosok desa yang jarang tersentuh. Dari perjalanan dakwah itu pula, ia menjalin hubungan erat dengan Muhammadiyah di Timor Leste dan akhirnya menjadi salah satu anggota Pimpinan Wilayah Muhammadiyah di sana.
“Muhammadiyah di sana perkembangannya cukup bagus,” kenangnya dengan senyum tipis.
Bahkan pemerintah Timor Leste sempat meminta bantuan Muhammadiyah untuk ikut mengembangkan pendidikan di negeri itu sebuah kepercayaan yang tidak kecil artinya.
Tapi semua itu harus berakhir lebih cepat dari yang dibayangkan.
Ketika Timor Leste memilih memisahkan diri dari Indonesia, Abdul Aziz bersama keluarganya harus eksodus meninggalkan 18 tahun kenangan, kerja keras, dan ikatan yang sudah terjalin kuat di sana.
“Saya dan keluarga eksodus dan akhirnya menetap di sini,” ujarnya, menyebut Kalisat sebagai rumah barunya.
Di tempat yang baru itu, Abdul Aziz tidak lantas berhenti bergerak. Ia bergabung dengan Muhammadiyah Kalisat dan dipercaya menjadi Ketua Takmir Masjid Al Ijtihadi sebuah amanah yang kini sudah ia emban selama 20 tahun.
Dua dekade bukan waktu yang singkat. Tapi bagi Abdul Aziz yang pernah merintis dari nol di negeri orang, mengabdi di tanah sendiri terasa seperti melanjutkan perjalanan yang memang belum selesai.
Tim Trobos.co









