Dari Ngabar, KH. Fathur Rohman: Dakwah Harus Jadi Arsitektur Peradaban

banner 2560316

TROBOS.CO | Di balik hangatnya suasana Haflah Ied 1447 H di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar, ada sesuatu yang bergerak lebih dalam dari sekadar silaturahim. Sebuah penegasan arah. Sebuah diagnosis zaman.

Dan suara itu datang dari Dr. KH. Fathur Rohman, M.Pd.I yang kali ini tak sekadar menyampaikan sambutan, tapi merumuskan seruan strategis tentang masa depan dakwah di Indonesia.

Realitas hari ini, kata KH. Fathur Rohman, sudah berbeda. Tantangan yang dihadapi umat tidak lagi datang dalam bentuk yang bisa dilihat dan dilawan secara langsung. Ia hadir lebih halus melalui cara berpikir, gaya hidup, dan arus budaya digital yang perlahan menggeser orientasi umat dari akar nilainya.

Ruang-ruang yang dulu diisi oleh dakwah, kini perlahan diambil alih oleh narasi sekuler, gaya hidup permisif, dan standar nilai yang tercerabut dari wahyu.

Di sinilah pernyataan KH. Fathur Rohman terasa paling menghantam: “Dewan Da’wah tidak mungkin berjalan sendiri.”

Kalimat itu bukan sekadar ajakan berkolaborasi. Itu adalah pengakuan bahwa pertarungan sudah berskala sistemik. Jika dakwah berjalan sendiri-sendiri sementara arus sekularisasi bekerja secara terstruktur dan masif, maka hasilnya sudah bisa ditebak.

KH. Fathur Rohman menegaskan bahwa dakwah tidak cukup lagi berhenti di mimbar. Tidak cukup hanya menjadi agenda tahunan atau kegiatan seremonial yang ramai di momen tertentu lalu sunyi kembali.

Dakwah harus naik kelas menjadi sistem kaderisasi yang terstruktur, jaringan sosial yang hidup, dan yang lebih besar dari itu: arsitektur peradaban.

Penekanannya soal pentingnya pesantren mengirim dai ke daerah-daerah bukan sekadar soal distribusi sumber daya manusia. Ini adalah strategi penetrasi peradaban. Karena yang sesungguhnya dipertaruhkan bukan sekadar kehadiran fisik para dai tapi siapa yang membentuk cara berpikir umat di akar rumput.

Ada penyakit laten dalam banyak gerakan dakwah yang jarang disadari: bangga dengan sejarah, tapi gagal melanjutkan perjuangan.

KH. Fathur Rohman menyentil ini dengan halus namun tajam. Menyebut nama Mohammad Natsir dan para tokoh dakwah terdahulu tidak cukup. Yang harus diwarisi bukan sekadar nama besar, tapi manhaj perjuangan, militansi gerakan, dan kesungguhan berkorban.

Tanpa itu semua, sejarah hanya akan menjadi museum kebanggaan bukan sumber kekuatan yang menggerakkan.

Ketika KH. Fathur Rohman menyebut kembali Ittihadul Ma’ahid, itu bukan romantisme terhadap organisasi lama. Itu adalah isyarat bahwa dakwah hari ini membutuhkan jaringan yang benar-benar hidup dan bergerak.

Di era sekarang, kekuatan tidak semata ditentukan oleh siapa yang paling benar. Tapi siapa yang paling terhubung, terstruktur, dan terorganisir.

Tanpa jaringan pesantren yang solid, kader tidak terdistribusi, dakwah tidak merata, dan umat kehilangan pembinaan yang berkelanjutan.

Kalimat yang dikutip KH. Fathur Rohman dari almarhum Ustaz Syuhada’ Bahri itu terdengar sederhana. Tapi ia bukan sekadar slogan emosional.

Ini adalah tesis tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya.

Karena masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kebijakan negara, pertumbuhan ekonomi, atau stabilitas politik semata. Ia juga dan justru terutama ditentukan oleh siapa yang membentuk akidah, akhlak, dan cara berpikir umatnya dari generasi ke generasi.

Dan itu, sepenuhnya, adalah wilayah dakwah.

Haflah Ied di Ngabar bukan garis akhir dari sebuah pertemuan besar. Ini adalah titik awal konsolidasi.

Pesan KH. Fathur Rohman mengerucut pada satu kesimpulan: dakwah harus keluar dari zona nyaman, masuk ke ruang-ruang strategis, dan membangun sistem yang kokoh bukan sekadar kegiatan yang datang dan pergi.

Jika tidak, ruang publik akan terus diisi oleh nilai-nilai yang tidak sejalan dengan ruh Islam.

Sejarah selalu berpihak pada mereka yang punya visi, membangun sistem, dan menyiapkan kader. Dari Ngabar, KH. Fathur Rohman telah memberikan jawabannya.

Kini pertanyaannya kembali ke kita semua: apakah umat siap menjalankannya?

Tim Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *