TROBOS.CO | Dapat beasiswa dari BAZNAS Lumajang? Bersiaplah untuk lebih dari sekadar menerima uang saku. Ada satu syarat yang tak biasa — dan justru itulah yang membuat program ini berbeda.
Setiap Jumat Legi, mahasiswa penerima beasiswa BAZNAS Kabupaten Lumajang berkumpul di Aula Kantor BAZNAS untuk satu agenda rutin: Khataman Al-Qur’an. Bukan sekali-sekali. Setiap bulan, tanpa absen.
Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dan mahasiswi dari sembilan perguruan tinggi di Kabupaten Lumajang, yaitu Universitas Islam Syarifuddin, STKIP PGRI, STKIP Muhammadiyah, STIT Muhammadiyah, STAIBU, Universitas Lumajang, ITB Widya Gama, Polinema, dan SIT Miftahul Midad.
Masing-masing kampus mengirimkan lima mahasiswa sebagai penerima beasiswa. Total ada 12 mahasiswa yang hadir dalam kegiatan khataman kali ini.
Ketua BAZNAS Lumajang, Drs. M. Nur Sjahid, MA, menjelaskan bahwa keikutsertaan dalam khataman Al-Qur’an bukan sekadar anjuran — melainkan bagian dari komitmen yang harus dipenuhi para penerima beasiswa.
“Ini bentuk rasa syukur agar mendapat barokah,” ujarnya singkat, tapi penuh makna.
Nur Sjahid menegaskan bahwa BAZNAS tidak ingin mencetak penerima beasiswa yang hanya pandai mengambil manfaat. Ada tanggung jawab moral yang melekat pada setiap rupiah yang diterima.
Caranya? Melalui ikatan kegiatan keagamaan yang konsisten — dan khataman Al-Qur’an bulanan ini adalah salah satunya.
Filosofinya sederhana: bantuan materi harus berjalan beriringan dengan pembinaan spiritual. Keduanya tak bisa dipisahkan.
Usai khataman, giliran Wakil Ketua II BAZNAS Lumajang, Suharyo, SH, menyampaikan tausiyah kepada para mahasiswa.
Ia membuka dengan mengingatkan tiga nikmat besar dari Allah yang sering terlupakan: diciptakan sebagai sebaik-baik makhluk, diberi petunjuk hidup berupa Al-Qur’an sebagai guidance of life, dan diutusnya Rasulullah Muhammad SAW sebagai teladan nyata dari kalangan manusia sendiri.
Dari sana, Suharyo mengutip pemikiran ulama besar Dr. Yusuf Al-Qardhawi tentang lima tugas utama generasi Muslim masa kini:
Pertama, mendalami Al-Qur’an dan Islam secara sungguh-sungguh — mencintai Al-Qur’an dengan cara membacanya, sebagaimana yang baru saja mereka lakukan hari ini.
Kedua, menghayati ajaran agama agar tidak menjadi Muslim yang “kering” — beragama hanya di permukaan, tanpa rasa.
Ketiga, mengamalkan ajaran agama secara maksimal, ikhlas, dan penuh kesungguhan dalam kehidupan sehari-hari.
Keempat, mendakwahkan ajaran agama kepada mereka yang membutuhkan pencerahan.
Kelima, membela agama ketika ada pihak yang berusaha mengotorinya.
“Para mahasiswa diharapkan menjadi pemeluk agama yang memenuhi kelima tugas tersebut, agar menjadi Muslim yang kaffah,” pungkas Suharyo.
Tim Trobos.co









