TROBOS.CO | Paguyuban Wredha Husada Sejahtera (PWHS) Kabupaten Lumajang mengadakan halal bihalal di Alka Cafe & Resto, Rabu (15/4/2026).
Tema halal bihalal: “Merajut Silaturahmi dan Mempererat Tali Persaudaraan.” Diperkirakan yang hadir sebanyak 40 orang.
Ketua PWHS, drg. Budi Santoso, mengatakan PWHS rutin mengadakan kegiatan, antara lain berupa rekreasi, sosial, dan pembinaan mental spiritual.
drg. Budi Santoso menghimbau para anggota organisasi yang dipimpinnya untuk aktif mewujudkan program yang dicanangkan dan diputuskan melalui rapat.
“Hal tersebut untuk memberi manfaat kepada sesama. Khususnya jika ada anggota yang sakit, kita mengadakan santunan sosial,” jelasnya.
Ketua Panitia halal bihalal PWHS, H. Sulsum, yang juga eks Ketua PWHS, mengucapkan terima kasih kepada seluruh anggota yang berkontribusi terhadap pelaksanaan halal bihalal dan keberlangsungan PWHS.

H. Sulsum mengutip pendapat tokoh yang menyatakan bahwa dalam hidup bermasyarakat, jangan sampai mengungkap kejelekan orang lain. Itu tidak ada gunanya dan akibatnya bisa fatal.
Selain itu, ia berpesan segenap warga PWHS tidak suka membicarakan kejelekan atau kekurangan orang lain. “Selain bisa melukai perasaan sesama, juga tidak ada manfaatnya,” tegasnya.
Hikmah halal bihalal disampaikan oleh Ketua Dewan Dakwah Kabupaten Lumajang, H. Suharyo AP, SH. Dia mengupas tentang halal bihalal yang di dalamnya ada dua hal, yaitu saling memaafkan dan silaturahmi.
“Silaturahmi bisa memperpanjang umur, begitulah kata Nabi,” seperti dikutip Suharyo. Yang tak kalah penting adalah sikap mau memaafkan kepada orang lain.
Suharyo mengutip hasil survei di Amerika yang menyimpulkan bahwa umur seseorang berpotensi diberi panjang umur sekitar 5 tahun jika memiliki kebiasaan berikut:
Pertama, selalu berpikir positif atau positive thinking. Bahasa agamanya disebut husnudzon, alias baik sangka. Orang yang selalu baik sangka akan mendapatkan apa yang disangkakan. Dalam hadis qudsi dikatakan, “Allah tergantung pada prasangka hamba-Nya.”
Kedua, sikap optimis menghadapi segala sesuatu. Orang yang optimis punya harapan besar, apa yang dicita-citakan, diinginkan, diungkap dalam doanya bisa terwujud karena pertolongan Allah.
Sebaliknya, kalau orang pesimis, dia tidak punya harapan. Dalam bahasa anak muda disebut madesu alias masa depan suram.
“Maka mari kita biasa optimis,” ujar Suharyo.
Suharyo mengajak seluruh anggota PWHS melanjutkan prestasi Ramadan kemarin. Selain itu, juga meniru tujuh kebiasaan Nabi SAW:
- Tidak pernah meninggalkan salat tahajud
- Biasa tadabur Al-Qur’an
- Salat jamaah
- Salat Dhuha
- Bertanya pada diri sendiri: “Akan berbuat baik apa hari ini?”
- Menjaga wudhu (kalau batal, wudhu lagi)
- Menjaga hatinya selalu ingat kepada Allah
Tim Trobos.co









