TROBOS.CO | Pekan ini, pasar-pasar hewan mulai ramai. Kandang-kandang dadakan bermunculan di pinggir jalan. Idul Qurban semakin dekat dan bersama itu datang pula napak tilas sebuah peristiwa yang usianya sudah ribuan tahun, tapi maknanya tidak pernah usang.
Ritual napak tilas Nabi Ibrahim dan Ismail.
Yang Tidak Mampu, Tenang Saja
Bagi yang mampu, berqurban adalah ibadah yang sangat dianjurkan. Bahkan Nabi SAW pernah mengatakan dengan cukup keras tentang orang yang mampu tapi tidak mau berqurban “Jangan dekat-dekat dengan tempat salat.”
Tapi bagaimana dengan yang tidak mampu? Tidak perlu berkecil hati.
Nabi SAW setiap Idul Qurban menyembelih dua ekor domba besar. Yang pertama disembelih sambil mengucap: “Bismillah Allahu Akbar. Ini qurban Muhammad dan keluarganya.”
Lalu yang kedua: “Bismillah Allahu Akbar. Ini qurban Muhammad dan umatnya.”
Domba kedua itu untuk seluruh umat yang tidak mampu berqurban. Jadi bagi yang belum mampu tahun ini, tenang saja. Nabi sudah menyembelihkan untukmu.
Peristiwa Simbolik yang Perlu Direnungkan
Setiap Idul Qurban menyimpan peristiwa-peristiwa simbolik yang jauh lebih dalam dari sekadar penyembelihan hewan. Ada setidaknya tiga yang perlu kita renungkan bersama.
Pertama, menyembelih binatang bukan sekadar menumpahkan darah dari leher ternak. Di balik itu ada pesan yang lebih besar: kita harus mampu menyembelih nafsu kebinatangan dalam diri kita sendiri.
Nafsu kebinatangan itu berwujud banyak hal keserakahan yang tidak mengenal batas, perilaku tanpa etika, kebebasan seksual yang melampaui aturan, dan ketidakpedulian terhadap halal dan haram.
Kedua, ada pelajaran berharga tentang bagaimana orang tua seharusnya menghargai anak.
Ketika Nabi Ibrahim menerima perintah menyembelih Ismail, ia tidak langsung bertindak. Ia bertanya dulu kepada putranya.
“Wahai anakku, semalam Bapak bermimpi menyembelih dirimu. Bagaimana menurutmu?”
Dan Ismail menjawab dengan jawaban yang melegenda sepanjang zaman: “Wahai Ayah, kalau memang itu perintah Allah, laksanakanlah. Insya Allah Ayah akan melihat saya dalam keadaan sabar.”
Sebuah dialog antara ayah dan anak yang mengajarkan tentang penghormatan, kepercayaan, dan keberanian dalam keimanan.
Ketiga, lahirnya Ismail sebagai anak yang luar biasa tidak terlepas dari keluarga yang luar biasa pula.
Ayahnya adalah Ibrahim manusia dengan keimanan yang melampaui batas nalar. Ibunya adalah Hajar perempuan tangguh yang keberaniannya menjadi abadi dalam ritual Sa’i yang kita lakukan hingga sekarang. Dari perpaduan dua sosok itu, lahirlah Ismail yang dikenang dan diteladani manusia hingga hari kiamat.
Semoga Kita Bisa Meniru Jejak Mereka
Masih banyak simbol lain yang bisa digali dari Idul Qurban. Tapi tiga di atas sudah cukup untuk membuat kita berhenti sejenak tidak hanya sibuk mencari hewan ternak yang paling gemuk, tapi juga merenungkan: apa yang sebenarnya ingin kita sembelih dari diri kita sendiri tahun ini?
Semoga kita diberi kekuatan untuk meniru jejak langkah Ibrahim, Hajar, dan Ismail dengan segenap kemampuan yang kita punya. *
Suharyo, Pemerhati Masalah Sepele









