Kapan Kita Boleh Menangis? Bahkan Nabi pun Pernah Melakukannya

banner 2560316

TROBOS.CO | Seorang sahabat pernah bertanya dengan nada yang sedikit gelisah.

“Mengapa saya susah menangis? Apakah itu tanda bahwa hati sudah mati?”

Pertanyaan itu sederhana, tapi menyimpan keresahan yang cukup dalam. Dan mungkin banyak dari kita pernah merasakannya juga berdiri di depan momen yang seharusnya mengharukan, tapi air mata tidak juga datang.

Ada kemungkinan yang pertama: hati sudah kebal. Terlalu sering menghadapi kepedihan sampai tidak lagi bereaksi seperti dulu. Ada pula kemungkinan kedua yang lebih sederhana: pengalaman yang berulang-ulang membuat seseorang menjadi lebih terbiasa, lebih tahan.

Keduanya bukan berarti hati sudah mati. Tapi keduanya tetap perlu diwaspadai.

Sebaliknya, jika air mata itu hadir jika seseorang menangis ketika menghadapi sesuatu yang berat itu bukan tanda kelemahan. Itu pertanda jiwa yang masih sensitif. Jiwa yang masih hidup dan merasa.

Kita sering melihat orang tua menangis. Kadang kita tidak mengerti mengapa.

Bisa jadi karena beban hidup yang mereka tanggung untuk anak-anaknya terasa terlalu berat. Bisa karena memikirkan anak yang dililit hutang. Bisa karena menyaksikan anak yang sakit menahun, atau menghadapi persoalan rumah tangga yang tak kunjung selesai.

Air mata mereka bukan keluhan. Air mata mereka adalah cinta yang tidak lagi cukup hanya disimpan di dalam dada.

Ada yang bertanya kepada Rasulullah SAW: bukankah menangis saat ada yang meninggal itu tidak diperbolehkan?

Beliau menjawab dengan tenang: “Saya menangis karena tangisan kasih sayang.”

Kalimat itu diucapkan saat cucu beliau wafat. Dan itu bukan satu-satunya kali Rasulullah SAW tak kuasa menahan air mata.

Beliau menangis tersedu-sedu ketika putranya Ibrahim wafat. Beliau sangat sedih saat Khadijah dan Abu Thalib meninggalkan dunia. Hatinya terpukul ketika sahabat-sahabat tercintanya Hamzah, Ja’far, dan Zaid bin Haritsah gugur di medan perang.

Beliau pun pernah menangis saat meresapi makna ayat-ayat Allah, khususnya yang berkaitan dengan hisab dan azab hatinya yang lembut tidak sanggup menahan rasa takut dan harap yang bercampur jadi satu.

Dan yang paling menyentuh: Rasulullah SAW pernah menangis karena merindukan umatnya orang-orang beriman yang belum pernah bertemu langsung dengan beliau, tapi beliau cintai sepenuh hati.

Beliau juga menangis karena mengkhawatirkan umatnya terkena azab. Bahkan dalam konteks mendidik, saat memberikan ceramah kepada kaum Anshar setelah Perang Hunain, air mata beliau hadir sebagai bagian dari kedalaman rasa yang beliau sampaikan.

Semua itu adalah bukti. Bukan bukti kelemahan, bukan bukti putus asa melainkan bukti kemanusiaan, kedalaman rasa, dan luasnya cinta kasih seorang manusia yang paling mulia.

Jadi ya kita boleh menangis. Untuk hal-hal yang benar-benar penting. Untuk kehilangan yang nyata. Untuk kekhawatiran yang tulus. Untuk kerinduan yang dalam.

Air mata bukan sesuatu yang harus selalu ditahan. Terkadang, justru air matalah yang paling jujur menceritakan isi hati kita. *

Suharyo, Pemerhati Masalah Sepele

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *