TROBOS.CO | Ada nama yang selalu disebut ketika orang berbicara tentang bakti seorang anak kepada ibunya. Nama itu bukan milik raja, bukan milik panglima perang, bukan pula milik ulama besar dengan ribuan murid.
Nama itu milik seorang pemuda miskin dari Yaman, yang bahkan tidak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah SAW. Tapi Rasulullah sendiri yang menyebut namanya. Dan penduduk langit pun kagum padanya.
Uwais Al Qarni.
Kehidupan Uwais jauh dari kata mudah. Ia yatim. Ia miskin. Di tubuhnya tumbuh penyakit kulit yang membuatnya tampak berbeda dari orang-orang di sekitarnya.
Tapi dari lisannya, tidak pernah keluar satu pun keluhan.
Yang ada hanya doa memohon kepada Allah agar diberi kesabaran dan ketabahan untuk menjalani semua yang telah ditetapkan-Nya. Uwais menerima hidupnya dengan lapang dada yang sulit dipahami oleh kebanyakan manusia.
Dan seluruh tenaga, pikiran, serta waktunya ia persembahkan untuk satu hal: berbakti kepada ibunya.
Ibunya lumpuh. Ibunya buta. Dan ibunya punya satu keinginan yang terasa mustahil bagi seorang pemuda miskin tanpa kendaraan: pergi haji ke Makkah.
Uwais tidak berkata tidak. Ia tidak mencari alasan. Ia mencari cara.
Caranya tidak biasa. Setiap hari, selama berbulan-bulan, Uwais menggendong seekor anak sapi naik turun bukit untuk melatih kekuatan ototnya. Hari demi hari, beban itu semakin berat seiring sapi yang tumbuh besar dan kekuatan Uwais pun tumbuh bersama itu.
Sampai akhirnya, hari itu tiba. Uwais menggendong ibunya. Berjalan kaki dari Yaman ke Makkah. Ribuan kilometer. Demi menunaikan keinginan seorang ibu yang bahkan tidak bisa berjalan sendiri.
Bukan penduduk bumi saja yang tergetar menyaksikan ini. Penduduk langit pun ikut kagum.
Di dalam hati Uwais, ada kerinduan yang luar biasa kepada Rasulullah SAW. Keinginan bertemu sang Nabi adalah impian yang ia simpan dalam-dalam.
Suatu hari, ibunya mengizinkannya pergi ke Madinah. Uwais berangkat dengan hati yang berdebar. Tapi sang ibu berpesan: cepatlah kembali.
Setibanya di Madinah, Rasulullah sedang tidak ada — beliau sedang pergi berperang. Uwais berdiri di persimpangan pilihan yang menyakitkan: menunggu Nabi pulang, atau menepati janji kepada ibu untuk segera kembali.
Uwais memilih ibunya.
Ia pulang ke Yaman tanpa pernah menatap wajah Rasulullah. Hanya menitipkan salam melalui Aisyah RA — sebuah pesan kecil dari hati yang begitu besar cintanya.
Ketika kabar tiba bahwa gigi Rasulullah patah dalam Perang Uhud, Uwais melakukan sesuatu yang membuat orang-orang di sekitarnya tercengang.
Ia mematahkan giginya sendiri.
Bukan karena gila. Bukan karena tidak waras. Tapi karena rasa cinta dan empatinya kepada Rasulullah begitu dalam ia ingin merasakan sakit yang sama dengan orang yang paling ia cintai, meski tak pernah sekalipun bertemu dengannya.
Rasulullah SAW tidak melupakan Uwais. Kepada Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, beliau berpesan agar mencari pemuda dari Yaman itu karena doanya sangat mustajab.
Dua sahabat terbaik Nabi pun mencari Uwais, bukan untuk memberi, tapi untuk meminta didoakan.
Dan ketika Uwais akhirnya wafat, para malaikat mengiringi jenazahnya.
Begitulah Uwais Al Qarni pemuda miskin berpenyakit kulit dari Yaman yang tidak pernah terkenal di mata manusia pada masanya. Tapi ia adalah pemuda yang dikagumi Nabi, ditunggu surga, dan dicintai sepenuh hati oleh ibunya. *
Suharyo, Pemerhati Masalah Sepele | Sumber: NU Online









