TROBOS.CO | LUMAJANG – Beragama itu bukan untuk sesekali. Bukan untuk musim tertentu. Bukan hanya saat Ramadan atau hari raya tiba.
Beragama harus tekun, sungguh-sungguh, dan istiqomah.
Demikian ditegaskan Penasihat PD Muhammadiyah Lumajang, Suharyo AP, dalam pengajian Ahad pagi PCM Yosowilangun, Ahad (10/5/2026).
“Walau berat, ibadah harus ditekuni, dijalani penuh kesungguhan, dan istiqomah,” tegasnya di hadapan jamaah.
Tiga Karakter yang Lahir dari Ketekunan Beragama
Mengutip pemikiran Prof. Dr. Hamka, Suharyo menjelaskan bahwa orang yang sungguh-sungguh menjalankan agamanya akan membuahkan tiga karakter mulia yang menjadi fondasi kepribadian.
Pertama, menjadi orang yang jujur — sidik. Kejujuran bukan sekadar tidak berbohong, tapi menjadi cara hidup yang mengalir dari dalam.
Kedua, menjadi orang yang bisa dipercaya — amanah. Kepercayaan orang lain adalah buah yang tidak bisa dipaksakan, hanya tumbuh dari konsistensi.
Ketiga, memiliki rasa malu — haya’. Rasa malu dalam pengertian Islam bukan kelemahan, melainkan rem alami yang menjaga seseorang dari perbuatan yang tidak layak.
Dengan ketiga karakter itu, kata Suharyo, orang yang menjalankan ajaran agama akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bahkan, lama-lama akan ketagihan — ada yang terasa kurang jika ada satu amalan yang ditinggalkan.
Empat Bonus yang Nilainya Tidak Ternilai
Di luar ketiga karakter itu, Suharyo memaparkan empat bonus yang Allah siapkan bagi hamba-Nya yang tekun beribadah.
Bonus pertama: sakinah ketenangan dan kedamaian hati. Di tengah kehidupan yang penuh guncangan, hati yang tenang adalah kekayaan yang tidak bisa dibeli dengan apapun.
“Terlebih di tengah kehidupan yang banyak guncangan, menjadikan hati tidak mudah gelisah,” jelasnya.
Bonus kedua: maghfiroh ampunan dari Allah. Tidak ada manusia yang bersih dari salah, khilaf, dan dosa. Tapi bagi yang tekun beristighfar dan memohon ampun, pintu pengampunan Allah selalu terbuka.
Bonus ketiga: derajat takwa. Allah mengangkat derajat hamba-Nya yang tekun beribadah menjadi orang yang bertakwa. Sebagaimana dirumuskan Nabi SAW, takwa adalah takut kepada Allah dan takut berbuat maksiat — sebuah kemampuan yang hanya bisa diberikan oleh Allah sendiri.
Bonus keempat: sabar. Bukan hanya sabar dalam menghadapi musibah, tapi sabar dalam melaksanakan perintah Allah, sabar dalam menjauhi larangan-Nya, dan sabar dalam menghadapi ujian, cobaan, dan tantangan yang silih berganti dalam kehidupan.
Empat bonus yang nilainya jauh melampaui apa pun yang bisa ditawarkan dunia. *
Tim Trobos.co









