TROBOS.CO | Filosof Plato pernah berkata sesuatu yang membuat telinga panas. “Untung saya dilahirkan sebagai laki-laki. Wanita itu temannya setan.”
Kalimat itu sarkas. Meremehkan. Tidak rasional. Dan jelas sangat tidak adil bagi separuh dari seluruh manusia yang pernah lahir ke dunia ini.
Tapi justru di sinilah letak ironinya. Dunia yang pernah melahirkan pandangan sehina itu, pada saat yang sama juga melahirkan penghormatan tertinggi bagi perempuan justru dari tradisi yang paling dalam.
Dalam Islam, wanita bukan sekadar makhluk pendamping. Ia adalah tiang. Ia adalah doa yang berjalan.
Surga ada di bawah telapak kaki kaum ibu. Tanpa wanita, dunia terasa sepi dan hampa. Kalimat-kalimat itu bukan sekadar pepatah ia adalah keyakinan yang mengakar dalam ajaran agama dan peradaban.
Wanita bukan hanya tempat disemai calon manusia di rahimnya. Jauh sebelum sang bayi lahir, sudah ada doa yang terus mengalir dari bibirnya doa yang tak pernah berhenti bahkan saat tidur pun.
Ya Allah, jadikan anak kami pemimpin bagi orang-orang beriman. Enak dipandang. Menentramkan hati. Dan kelak yang menuntun kami menuju surga-Mu.
Ada keistimewaan yang sering luput dari perhatian kita.
Ketika seorang ibu mengandung, setiap tendangan kaki bayi yang terasa menyakitkan di perutnya itu bukan sekadar rasa sakit biasa. Dalam pandangan Islam, sakit itu menggugurkan dosa.
Dan saat proses melahirkan tiba di saat rasa sakit mencapai puncaknya pahala terus bertambah. Dosa terus berguguran.
Kaum ibu memang luar biasa. Mereka berjuang bahkan sebelum sang anak mengenal dunia. Dan perjuangan itu tidak pernah benar-benar berhenti bahkan setelah anak itu dewasa, bahkan setelah rambut sang ibu memutih.
Setiap ibu menyimpan satu harapan sederhana yang melampaui semua keinginan duniawi.
Ia tidak ingin anaknya menjadi orang kaya semata. Ia tidak menuntut anaknya menjadi terkenal. Yang ia minta hanya satu kelak, anaknya menjadi penghuni surga.
Caranya? Rajin beribadah. Perbuatannya memukau hati orang lain. Mengharumkan nama keluarga. Dan di saat-saat terakhir saat orang tua itu nazak anaklah yang membisikkan kalimat lailahaillallah di telinganya.
Itulah puncak dari semua doa yang pernah dipanjatkan seorang ibu. Bukan harta. Bukan jabatan. Tapi kehadiran sang anak di momen yang paling sakral dalam hidup manusia.
Tak heran jika seorang ibu begitu kecewa ketika anaknya tumbuh menjadi pribadi yang membuat onar. Atau lebih dalam lagi dalam doanya yang sunyi seorang ibu pernah memohon kepada Allah agar rahimnya tidak mengandung calon koruptor.
Doa yang sederhana. Tapi betapa beratnya beban yang ada di baliknya.
Dunia telah mementaskan banyak wanita hebat — perempuan-perempuan yang harum namanya melampaui zamannya. Salah satunya adalah Raden Ajeng Kartini.
Setiap 21 April, kita memperingati namanya. Wanita yang religius, yang berpikir melampaui batas zamannya, yang memperjuangkan hak kaum perempuan untuk mendapat pendidikan dan diperlakukan setara.
Wanita — dari dulu hingga kini — selalu berada di dua kutub sekaligus. Dicaci sekaligus dipuji. Dihina oleh Plato, dimuliakan oleh para nabi. Dianggap lemah oleh sebagian, namun menjadi kekuatan terbesar bagi peradaban.
Selamat pagi, para kaum ibu. Selamat Hari Kartini.
Tanpa kalian, dunia ini tak pernah benar-benar lengkap. ***
Suharyo AP, Pemerhati Masalah Sepele









