TROBOS.CO | Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia telah memantik kegelisahan lama di panggung global, terutama di Barat. Bukan karena Indonesia melakukan sesuatu yang salah, tetapi justru karena Indonesia mulai melakukan sesuatu yang selama ini dihindari: bersikap mandiri.
Demikian analisis Ulul Albab, Dosen FIA Universitas Dr. Soetomo sekaligus Ketua ICMI Jawa Timur, dalam catatannya yang diterima TROBOS.CO.
Di tengah narasi besar yang dibangun Amerika Serikat dan sekutunya tentang “tatanan dunia berbasis aturan” (rules-based order) , ada ironi yang jarang diakui. Aturan itu kerap kali lentur, bahkan menghilang, ketika kepentingan Barat sendiri yang dipertaruhkan.
Invasi bisa disebut “intervensi kemanusiaan”. Sanksi ekonomi dijustifikasi sebagai “alat perdamaian”. Tetapi ketika negara lain mencoba menjalin hubungan di luar orbit Barat, tiba-tiba muncul istilah “ancaman stabilitas global”.
Di titik inilah kunjungan Presiden Prabowo ke Moskow menjadi penting. Bukan sekadar diplomasi bilateral, tetapi justru bentuk koreksi terhadap ketimpangan narasi global.
Selama ini, negara-negara berkembang seperti Indonesia sering kali didorong untuk memilih: bersama Barat atau dianggap menyimpang. Padahal dunia telah berubah. Kekuatan global tidak lagi tunggal. Rusia, Tiongkok, dan blok baru seperti BRICS telah membuka alternatif, bukan tanpa masalah, tetapi cukup untuk mematahkan monopoli lama. Indonesia membaca ini dengan jernih.
Kerja sama di sektor energi, misalnya, menjadi kebutuhan nyata. Ketika harga energi global bergejolak dan pasokan tidak stabil, menutup pintu terhadap Rusia hanya karena tekanan politik adalah kemewahan yang tidak bisa dimiliki negara berkembang.
Namun Barat kerap melihatnya berbeda. Hubungan dengan Rusia dianggap sebagai penyimpangan, seolah-olah dunia masih berada dalam satu garis komando moral yang sama. “Inilah ilusi bahwa Barat masih menjadi satu-satunya pusat legitimasi global. Padahal, legitimasi hari ini sedang diperebutkan,” tulis Ulul Albab.
Kritik Barat terhadap negara-negara yang menjalin hubungan dengan Rusia sering kali mengabaikan rekam jejaknya sendiri. Dari Timur Tengah hingga Asia, intervensi Barat telah meninggalkan jejak panjang konflik, instabilitas, dan ketergantungan. Namun narasi tentang “demokrasi” dan “hak asasi manusia” tetap dijadikan alat pembenaran.
“Kabar baiknya, Indonesia tampaknya mulai lelah dengan standar ganda ini,” tegasnya.
Langkah Prabowo ke Kremlin mengirimkan pesan tegas: bahwa Indonesia tidak akan lagi menjadi objek dalam permainan geopolitik global. Indonesia ingin menjadi subjek, aktor yang menentukan pilihan berdasarkan kepentingan nasionalnya sendiri, bukan tekanan eksternal.
Tentu, ini bukan tanpa risiko. Tekanan diplomatik, potensi sanksi tidak langsung, hingga stigma politik bisa saja muncul. Tetapi justru di sinilah ujian sejati politik luar negeri “bebas aktif” . Apakah ia hanya retorika historis, atau benar-benar menjadi prinsip operasional?
“Jika Indonesia mundur hanya karena tekanan, maka ‘bebas aktif’ tak lebih dari slogan kosong. Namun jika tetap melangkah, maka Indonesia sedang menulis ulang perannya di dunia,” ujar Ulul Albab.
Yang juga menarik adalah bagaimana kerja sama ini tidak berhenti pada transaksi ekonomi, tetapi merambah ke industrialisasi dan teknologi. Ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak sekadar mencari keuntungan jangka pendek, tetapi sedang membangun fondasi kemandirian jangka panjang.
“Dan mungkin, inilah yang paling membuat Barat gelisah,” tulisnya.
Sebab selama ini, relasi global sering kali dibangun dalam pola ketergantungan: negara berkembang sebagai pasar dan penyedia bahan mentah, sementara teknologi dan nilai tambah tetap berada di pusat-pusat kekuatan lama. Ketika pola ini mulai digugat, maka ketegangan menjadi tak terelakkan.
Kunjungan ke Rusia, dengan demikian, adalah bagian dari pergeseran yang lebih besar. Dunia tidak lagi tunggal. Narasi tidak lagi dimonopoli. Dan negara-negara seperti Indonesia mulai menyadari bahwa mereka memiliki ruang untuk menentukan arah sendiri.
Barat boleh saja tidak nyaman dengan kenyataan ini. Tetapi ketidaknyamanan itu justru menjadi tanda bahwa perubahan sedang berlangsung. Dan Indonesia tidak ingin sekadar menyaksikan perubahan itu. Indonesia ingin ikut mendorongnya.
Ulul Albab, Dosen FIA Universitas Dr. Soetomo, Ketua ICMI Jawa Timur.









