TROBOS.CO | Setiap hari, media sosial kita dipenuhi hujatan, celaan, fitnah, dan caci maki yang berseliweran tanpa henti. Seseorang dihukum oleh opini publik sebelum fakta yang utuh benar-benar diketahui. Yang viral dianggap benar. Klarifikasi tenggelam oleh derasnya arus prasangka.
Di tengah kondisi seperti ini, ada sebuah kisah yang perlu kita renungkan kisah yang dinisbatkan sebagai pelajaran keadilan Allah kepada Nabi Musa AS.
Dikisahkan seorang saudagar kaya kehilangan dompetnya di tepi sungai. Tidak lama kemudian, seorang anak kecil menemukan dompet itu dan membawanya pergi. Lalu datanglah seorang lelaki buta yang beristirahat di tempat yang sama.
Ketika saudagar kembali dan mendapati dompetnya hilang, ia menuduh lelaki buta itu sebagai pencuri. Dalam kemarahannya, ia membunuh lelaki buta tersebut.
Jika hanya melihat dari permukaan, pertanyaan itu wajar muncul: di mana letak keadilan? Mengapa anak kecil yang membawa dompet tidak dihukum, sementara orang buta yang tidak tahu apa-apa justru menjadi korban?
Namun Allah memperlihatkan kepada Nabi Musa bahwa di balik peristiwa tersebut terdapat fakta-fakta yang tidak diketahui manusia.
Dompet itu ternyata adalah jalan dikembalikannya hak anak kecil yang dahulu pernah diambil oleh saudagar itu dari ayahnya. Sedangkan lelaki buta itu ternyata pernah membunuh ayah anak kecil tersebut di masa lalu.
Apa yang tampak tidak adil di mata manusia ternyata mengandung keadilan yang sempurna dalam ilmu Allah.
Kisah ini mengajarkan satu hal yang sering kita lupakan: pengetahuan manusia sangat terbatas. Kita sering menilai hanya dari apa yang terlihat di permukaan padahal ada banyak hal yang tidak kita ketahui, dan mungkin tidak akan pernah kita ketahui.
Relevansinya dengan Kondisi Bangsa Hari Ini
Pelajaran ini sangat relevan dengan kondisi kita saat ini. Begitu banyak hujatan, celaan, dan cacian yang ditujukan kepada presiden maupun para penyelenggara negara setiap harinya.
Kritik tentu merupakan bagian yang wajar dan sehat dalam kehidupan demokrasi. Tapi kritik berbeda dengan fitnah. Dan perbedaan pendapat berbeda dengan kebencian.
Tidak sedikit orang yang merasa telah mengetahui seluruh keadaan bangsa hanya dari potongan video, unggahan media sosial, atau narasi yang beredar di ruang digital. Padahal perjalanan sebuah negara tidak sesederhana yang tampak di layar telepon genggam.
Sikap yang lebih bijaksana adalah tidak tergesa-gesa menghakimi.
Kadang diam lebih baik daripada ikut menyebarkan prasangka. Kadang menunggu lebih bijak daripada terburu-buru menjatuhkan vonis.
Bukan berarti pemerintah tidak boleh dikritik. Tapi karena kita menyadari bahwa tidak semua hal dapat kita lihat secara utuh. Kita tidak mengetahui hikmah apa yang sedang Allah siapkan. Kita juga tidak mengetahui bagaimana kondisi bangsa ini beberapa tahun ke depan.
Sejarah berkali-kali membuktikan: kebijakan yang dahulu dicaci, pada akhirnya terbukti membawa manfaat. Sebaliknya, ada pula hal yang dahulu dipuji, ternyata menyisakan masalah di kemudian hari.
Maka, mari kita jaga lisan dan jari-jari kita. Jangan mudah terbawa arus kebencian. Jangan mudah menjadi bagian dari penyebar fitnah. Dan jangan merasa paling mengetahui masa depan bangsa ini.
Karena manusia hanya melihat apa yang ada di hadapannya sedangkan Allah mengetahui apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi.
Di tengah kegaduhan yang tidak berkesudahan, mungkin salah satu sikap terbaik adalah tetap berpikir jernih, menjaga adab, memperbanyak doa untuk negeri, dan menyerahkan perkara yang belum kita ketahui kepada Allah SWT.
Wallahu a’lam bish-shawab. *









