TROBOS.CO | Ada ironi yang diam-diam menghantui dunia akademik kita. Riset dikerjakan bertahun-tahun, diterbitkan di jurnal bereputasi, disitasi oleh sesama peneliti lalu berhenti di sana. Tidak sampai ke meja kebijakan. Tidak terasa di lapangan. Tidak mengubah nasib petani, nelayan, atau pelaku UMKM yang seharusnya menjadi tujuan akhir dari seluruh kerja keilmuan itu.
Itulah salah satu benang merah yang muncul dalam Seminar Nasional ICMI Organisasi Wilayah Jawa Timur, Sabtu, 4 Juli 2026, di Universitas Airlangga Surabaya sebuah forum yang lebih dari sekadar seremonial akademik.
Kepala BSDM Jawa Timur, Dr. Ramlyanto, langsung menyebut akar masalahnya: kegagalan dalam knowledge translation into policy and impactful action. Para ilmuwan kampus, menurutnya, kerap kurang gigih (tenacity) dalam memperjuangkan temuan-temuan mereka agar benar-benar menjadi kebijakan yang berdampak. Ditambah gejala the curse of expertise pakar yang terlalu tenggelam dalam bahasa keilmuannya sendiri hingga lupa berbicara kepada dunia nyata.
Solusinya, menurut Ramlyanto, adalah ekosistem kolaborasi yang melibatkan pemerintah, kampus, masyarakat, dan media secara bersamaan. Bukan kerja sendiri-sendiri.
Ekonom senior Bank Jatim, Dr. Sunarsip, membawa peserta seminar melihat peta yang lebih luas. Pusat gravitasi ekonomi global sedang bergeser ke Asia, dengan peran China yang kian dominan dan pengaruh BRICS yang terus menguat. Ketergantungan Asia pada Amerika Serikat dan Eropa perlahan berbalik arah.
Di tengah pergeseran itu, Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo mengambil haluan baru lebih mandiri di bidang energi dan pangan agar Rupiah tidak mudah dimainkan pasar global. Prabowonomics, sebut Sunarsip, mengadopsi sebagian model pembangunan China yang terbukti mampu mendorong pertumbuhan 8 persen per tahun selama satu dekade. Sementara ekonomi regional Jawa Timur yang berpijak pada sumber daya lokal terbukti cukup tangguh menghadapi gejolak geoekonomi global.
Ketua Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Jawa Timur, Dr. Ir. Daniel Rohi, MEng.Sc., IPU, mengingatkan kembali pesan Bung Hatta: intelektual adalah garam masyarakat. Bukan hiasan dinding, bukan pemegang trofi. Garam yang menggarami, yang memberi rasa, yang dirasakan manfaatnya oleh orang banyak.
Rohi menekankan bahwa pembangunan transformatif harus sekaligus inklusif agar seluruh potensi nasional yang beragam dapat dimanfaatkan secara optimal. Integritas intelektual, baginya, adalah syarat mutlak agar karya-karya keilmuan tetap memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang beradab. Ekosistem kolaborasi dalam knowledge translation, tambahnya, pada dasarnya adalah gotong royong saripati Pancasila yang sudah lama kita miliki.
Prof. M. Nafik dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga mengingatkan bahwa karya ulul albab tidak boleh berhenti di jurnal-jurnal terscopus. Ia harus berakhir beyond campus sebagai praktik terbaik yang nyata bagi UMKM, yang menciptakan lapangan kerja, yang mengubah kekayaan agro-maritim Nusantara menjadi nilai tambah yang menyejahterakan masyarakat.
Hilirisasi, tegasnya, membutuhkan peran aktif intelektual. Tanpa itu, sumber daya yang melimpah hanya akan terus diekspor mentah dan menguntungkan pihak lain.
Sementara itu, Ustaz Taufiq menambahkan dimensi yang sering absen dalam diskusi pembangunan: pijakan ilahiyah. Integritas, satunya kata dengan perbuatan, satunya teori dengan praktik terbaik itulah ciri intelektual yang berTuhan. Kesombongan pakar, ingatnya, berpotensi menghambat kolaborasi dan mematikan proses translasi ilmu ke kebijakan.
Keynote speaker, Prof. Dr. Arief Satria selaku Ketua Umum ICMI sekaligus Kepala BRIN, membawa perspektif yang menggetarkan. Indonesia sesungguhnya telah memiliki karya-karya intelektual yang mendahului banyak peradaban dunia hingga puluhan ribu tahun. Penjajah tidak hanya mengambil rempah-rempah dan hasil bumi mereka juga membawa pergi karya-karya ilmiah kuno yang ditulis para empu dan pujangga Nusantara.
Maka intelektual Muslim di kampus-kampus Indonesia tidak perlu merasa rendah diri dalam diskursus intelektual global. Kita punya akar yang dalam.
Sebagai penutup, tulisan ini ingin menegaskan satu hal. Tugas konstitusional mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum adalah tugas intelektual organik mereka yang tidak nyebong dan tidak ngampret, yang nyaman di laboratorium sekaligus siap berkeringat di pasar dan pesisir.
Panduan knowledge translation itu sebenarnya sudah ada. Ia dirumuskan para ulama dan cendekiawan negarawan dalam UUD 1945 sebagai strategi melawan penjajahan yang dalam konteks Indonesia hari ini bermakna: transformasi untuk lepas dari semburan mulut Naga dan injakan kaki Gajah.
Ilmu yang tidak berkeringat bukan ilmu yang berguna. Ia hanya arsip.
Daniel Mohammad Rosyid









