Ada Adat Selamatan di Balik Sepinya Khitan Massal BAZNAS Gucialit Lumajang

banner 2560316

TROBOS.CO | Dari kuota 20 anak, hanya 8 yang akhirnya naik ke meja petugas medis. Khitan massal BAZNAS Kabupaten Lumajang di Kecamatan Gucialit, Rabu, 24 Juni 2026, berjalan lancar tapi dengan kursi yang separuhnya kosong.

Dua dari 10 anak yang semula terdaftar pun absen. Hilmi Saputra (5 tahun) tidak bisa hadir karena sakit, sementara Alifiandra (10 tahun) mengundurkan diri. Keduanya adalah warga Desa Jeruk.

“Yang batal ikut sunat, Hilmi Saputra tidak datang karena sakit, dan Alifiandra mengundurkan diri,” kata Kepala Puskesmas Gucialit, dr. Feidyando A., di sela kegiatan.

Dokter muda asal Surabaya itu memastikan bahwa dari sisi kesiapan, pihak puskesmas tidak ada yang kurang. Tenaga medis, obat-obatan, dan fasilitas sudah disiapkan jauh-jauh hari. “Insyaallah semuanya siap,” imbuhnya.

Kesiapan teknis memang tidak diragukan. Yang menjadi tanda tanya justru di sisi lain: mengapa antusiasme warga jauh di bawah ekspektasi?

Camat Gucialit, H. Bambang, mengaku bangga dengan kehadiran BAZNAS yang selalu aktif membantu memenuhi kebutuhan masyarakat termasuk khitan yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim.

Namun di balik rasa bangganya, ada keheranan yang tidak bisa disembunyikan. Sosialisasi sudah dilakukan secara masif, bahkan sampai ke tingkat desa secara door-to-door. Hasilnya tetap tidak sesuai harapan.

“Di sosialisasikan ke desa sudah, door-to-door juga sudah,” akunya dengan nada heran.

Bambang akhirnya menemukan jawaban atas keheranannya itu: adat. Warga Gucialit, katanya, memiliki kebiasaan turun-temurun yang cukup kuat jika anak dikhitan, harus ada selamatan yang mengiringinya. Bukan soal biaya khitannya, melainkan soal prosesi adat yang melekat di sekelilingnya.

Karena khitan massal BAZNAS tidak disertai selamatan, banyak keluarga yang memilih menunggu — menggelar khitan sendiri di waktu yang bisa mereka siapkan prosesi adatnya sekalian.

Bambang sudah mencoba meyakinkan warga bahwa urusan selamatan bisa dilakukan belakangan. Tapi rupanya saran itu tidak banyak digubris. “Kayaknya saran saya gak digubris,” kelakarnya sambil tersenyum.

Terlepas dari rendahnya partisipasi di Gucialit, program khitan massal BAZNAS Lumajang tahun ini tetap berjalan di 10 kecamatan dengan kuota masing-masing 20 anak per wilayah. Setiap peserta mendapatkan layanan khitan gratis sekaligus uang saku Rp350.000.

Kegiatan di Puskesmas Gucialit hari itu turut dihadiri aparat Polsek, Koramil, pihak puskesmas, dan kecamatan. Mereka bahu-membahu memastikan acara berjalan tertib dan nyaman bagi anak-anak yang hadir.

Delapan anak tetap pulang dengan senyum dan kantong yang sedikit lebih tebal dari biasanya.

Lukman Hakim

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *