Jelang HUT RI ke-81, Dewan Dakwah Lumajang Gelar Renungan Kebangsaan

banner 2560316

TROBOS.CO | Menjelang peringatan HUT RI ke-81, pengurus Dewan Dakwah Kabupaten Lumajang mengadakan renungan kebangsaan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk berpikir jernih tentang kondisi bangsa dan langkah yang harus dilakukan dalam menghadapi gejolak dan tantangan ke depan.

Acara yang diikuti sekitar 40 orang, terdiri atas Muslimat Dewan Dakwah dan pengurus Dewan Dakwah, dilaksanakan di objek wisata hutan pinus lereng Semeru, tepatnya di Poncosumo, Kecamatan Candipuro, Sabtu (8/8/2026). Hampir seluruh pengurus hadir dalam acara yang digelar di alam bebas tersebut.

banner 300250

Rombongan berkumpul di Kantor Dewan Dakwah mulai pukul 08.00 pagi dan berangkat pukul 09.00 menuju lokasi, dengan jarak tempuh yang membutuhkan waktu sekitar dua jam. Turut hadir Ketua KBPII Kabupaten Lumajang Jamal Abdullah Alkatiri, bersama sejumlah undangan lainnya.

Kegiatan renungan kebangsaan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Penasihat Dewan Dakwah Kabupaten Lumajang Drs. Yusuf Effendi dan Ketua Dewan Dakwah Suharyo, A.P., S.H.

Suharyo, A.P., S.H. memaparkan empat modal menghadapi tantangan masa depan | Foto: Dok. Dewan Dakwah Lumajang

Dalam paparannya, Yusuf Effendi menjelaskan tentang peran Dewan Dakwah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. “Dewan Dakwah adalah himpunan orang-orang yang siap menerima amanah dalam meneruskan peran Rasulullah SAW di dalam mencerahkan kehidupan, agar Islam benar-benar dirasakan sebagai rahmat bagi sekalian alam,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kegiatan utama Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia adalah mendorong segenap komponen masyarakat untuk melaksanakan Pancasila secara murni dan konsekuen. “Karena nilai-nilai Pancasila itu selaras dengan syariat Islam. Dewan Dakwah bertugas menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila adalah nilai-nilai Islam, sehingga masyarakat akan paham bahwa ajaran yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad bersifat universal,” jelasnya.

Yusuf Effendi turut mengutip pernyataan Bung Karno yang menyebut bahwa semua negara boleh membanggakan ideologi masing-masing, tetapi ideologi-ideologi itu pada akhirnya akan tumbang. Semua bangsa di dunia, menurutnya, pada dasarnya akan berideologikan Pancasila, meski tidak dengan nama Pancasila. “Peraturan perundang-undangan yang bermuara pada Pancasila akan membenarkan bila kaidah-kaidah Islam dijadikan sebagai rujukan yang tepat untuk undang-undang dan peraturan negara,” tambahnya.

Sementara itu, Suharyo dalam paparannya menjelaskan tentang tantangan berat yang akan dihadapi ke depan. “Ada empat modal yang harus kita miliki,” tegasnya.

Modal pertama adalah iman. Sehebat apa pun guncangan yang mendera, apabila iman seseorang mantap, ia tidak akan mudah goyah. “Memang iman itu kadang naik kadang turun, tetapi kalau bangsa ini memiliki support iman yang kuat, posisi kita akan tetap bertahan di atas,” jelasnya.

Modal kedua adalah amal saleh. Menurut Suharyo, bagi aktivis organisasi Dewan Dakwah, memiliki amal saleh menjadi penting agar hidup tidak sekadar berteori. Modal ketiga berupa jaringan yang kuat, di mana sesama muslim saling menjaga antarsahabat perjuangan, sehingga satu sama lain saling menguatkan.

Modal keempat, agar bisa tetap eksis, setiap orang harus memiliki keahlian, sekecil apa pun itu. “Orang yang memiliki keahlian pasti dibutuhkan orang lain,” papar Suharyo mengakhiri paparannya.

Tim Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *