Salman Al Farizi, Juara MTQ Dewasa Lumajang yang Melesat Sejak SD

banner 2560316

TROBOS.CO | Gelaran Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kabupaten Lumajang telah berakhir pada Sabtu malam (18/7/2026) lalu. Salah satu juara favorit yang mencuri perhatian adalah Ustad Moh. Salman Al Farizi, qori tingkat dewasa putera, yang kini bersiap melaju ke tingkat Provinsi Jawa Timur.

Pria kelahiran Pamekasan, Madura, ini sebenarnya sudah tidak asing lagi di kalangan pecinta seni baca Al-Qur’an. Namanya sudah malang melintang di berbagai gelaran seni kalam Ilahi jauh sebelum kemenangannya di Lumajang.

Dalam MTQ yang digelar di pendapa kabupaten, Salman berhasil menyisihkan sejumlah kompetitor yang sama-sama merupakan qori profesional dengan jam terbang tinggi. Dengan nilai 94.00, ia dinobatkan sebagai pemenang golongan dewasa putera, sementara golongan dewasa puteri diraih oleh Lutfiyatul Fatchuyah. MTQ tersebut sendiri diikuti sekitar 10 cabang perlombaan.

Kemenangan Salman kali ini sebetulnya tidak terlalu mengejutkan. Sebab sejak kecil, ia sudah menjadi langganan juara MTQ di kampung halamannya, Jarin, Pademawu, Pamekasan, Madura.

Pria kelahiran 3 Agustus 1999 ini menggemari seni qiroah berkat bimbingan langsung dari ayahandanya, Sanarji, dan ibunya, Evi Sumiyati. Perjalanan panjangnya sebagai qori dimulai sejak usia belia, tepatnya saat duduk di kelas 2 SD, ketika ia meraih juara tartil tingkat kecamatan pada usia 9 tahun.

Prestasi terus mengalir setelahnya. Pada usia 11 tahun ia menjuarai lomba imam sholat tingkat kabupaten, disusul juara MTQ se-Madura pada 2019, hingga juara MTQ nasional antarmahasiswa pada 2022, serta berbagai gelar juara MTQ lainnya di berbagai jenjang.

Alumni UIN Pamekasan ini kini telah berkeluarga dengan seorang hafidhoh asal Sememu, Pasirian, Lumajang. Selain aktif berkompetisi, Salman juga turut membina tilawah para yuniornya di lingkungan sekitar.

Tak lepas dari latar belakang tersebut, ayah mertuanya, KH Nur Kholis Adnan, merupakan sosok yang juga menggemari seni qiroah sekaligus menjabat sebagai Ketua Jamiyatul Qurra (Jamqur), dan sehari-hari aktif membina bidang qiroah serta mengasuh pondok pesantren.

Untuk mengasah kemampuannya, sejumlah guru qiroah telah ia datangi untuk berguru, mulai dari tingkat kampung hingga nasional. Salah satunya adalah Ustad Syamsuri Firdaus, qori internasional asal NTB yang namanya belakangan kian mendunia.

Sebagai qori profesional dan berbakat, suami dari Harisma MI ini punya cita-cita besar untuk menjadi qori nasional maupun internasional. Sebagai pengagum qori internasional Ustad Darwin Hasibuan, Salman memiliki suara khas yang cukup mendukung bakat mulianya itu.

“Favorit saya lagu Jiharka,” ujarnya, merujuk pada salah satu jenis lagu wajib yang harus dikuasai seorang qori profesional.

Ihwal kenangan paling berkesan selama mengikuti berbagai gelaran MTQ, qori yang merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara ini mengaku momen paling membekas adalah saat MTQ RRI tingkat nasional di Kendari, Sulawesi Tenggara, pada 2022. Saat itu ia berkesempatan bertemu langsung dengan para delegasi qori dan qoriah profesional dari seluruh nusantara.

“Bangga dan nikmat rasanya,” tuturnya mengenang.

Untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan keindahan suaranya, Salman mengaku selalu menjalani latihan rutin, berguru pada senior yang lebih berpengalaman, berolahraga, serta menjaga pola makan dengan disiplin. Kombinasi disiplin fisik dan spiritual inilah yang menurutnya menjadi kunci konsistensi prestasinya selama bertahun-tahun.

Deretan panjang prestasi yang telah ia torehkan sejak usia 9 tahun hingga kini menjadi bukti bahwa konsistensi dan bimbingan yang tepat mampu melahirkan qori-qori berkelas nasional bahkan internasional.

Shodiq Syarif

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *