TROBOS.CO | Umat Islam Lumajang kembali berduka. Selasa (22/9/2026) siang, KH Dzulkifli Abas, Pengasuh Pondok Pesantren Nurut Tauhid, Desa Wonorejo, Kecamatan Kedungjajang, meninggal dunia di usia 49 tahun.
KH Dzulkifli Abas mengembuskan napas terakhir setelah dirawat selama lima hari di rumah sakit. Kabar wafatnya tokoh agama yang juga menjabat Sekretaris DPC Partai Gerindra Kabupaten Lumajang itu dengan cepat menyebar dan mengejutkan banyak pihak.
Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam, terutama bagi keluarga besar pesantren, para santri, jamaah, serta masyarakat yang selama ini mengenalnya. Di rumah duka, warga berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir dan mendoakan almarhum.
Jumlah warga yang hadir untuk takziah cukup banyak. Bahkan, salat jenazah dilaksanakan dua gelombang karena jamaah yang datang terus memadati lokasi.
Di antara warga yang hadir tampak sejumlah tokoh Kabupaten Lumajang. Bupati yang juga Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Lumajang, Bunda Indah Amperawati, turut hadir menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum. Hadir pula Penasihat Partai Gerindra, Drs. Ir. H. Bambang Hidayat Sampurna, bersama sejumlah tokoh lainnya di tengah warga yang datang, menunjukkan luasnya hubungan sosial dan pengabdian almarhum selama hidupnya.
Rektor UINSYA Wonorejo Lumajang, Drs. H. Satuyar Mufid, MA, serta Ketua Baznas Kabupaten Lumajang, Drs. Nur Sjahid, MA, juga hadir bersama tiga wakil ketua. Kehadiran para tokoh tersebut menambah suasana haru di rumah duka.
Bagi masyarakat, wafatnya KH Dzulkifli Abas bukan sekadar kehilangan seorang pengasuh pesantren. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang memiliki peran dalam kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan di Lumajang.
Di tengah suasana duka, doa terus dipanjatkan untuk almarhum. Ketua Yayasan Kyai Syarifuddin, KH Dr. Abdul Wadud Nafis, yang akrab disapa Gus Wadud, memimpin doa bagi almarhum agar memperoleh ampunan dan rahmat Allah SWT.
Kepergian KH Dzulkifli Abas meninggalkan jejak yang akan dikenang keluarga, santri, jamaah, sahabat, dan masyarakat. Siang itu, rumah duka di Wonorejo menjadi tempat bertemunya banyak orang dalam satu suasana: melepas seorang tokoh dengan doa dan penghormatan terakhir.
Tim Trobos.co










