TROBOS.CO | Kandidat Ketua Umum PBNU periode 2026-2031 dalam Muktamar ke-35 NU yang bakal digelar 27-31 Agustus 2026 di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, terus bergulir.
Sejumlah nama muncul ke permukaan. Ada KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), petahana dan Ketua Umum PBNU saat ini yang menyatakan siap maju kembali untuk menuntaskan program organisasi. Ada pula KH Nasaruddin Umar, Menteri Agama RI yang namanya banyak didorong oleh sejumlah pengurus cabang (PCNU) untuk memimpin PBNU.
Nama lain yang juga mengemuka antara lain KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo yang didukung belasan hingga puluhan PCNU, KH Zulfa Mustofa selaku Wakil Ketua Umum PBNU, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) Ketua PWNU Jawa Timur, serta KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) Ketua PWNU Jawa Tengah. Turut disebut pula Gudfan Arif selaku Bendahara Umum PBNU, KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), Wakil Ketua Umum MUI KH Marsudi Syuhud, serta Pengasuh Ponpes Bina Insan Mulia Cirebon KH Imam Jazuli.
Menganalisis Jejak Langkah Para Kandidat
Dengan pendekatan ilmu jurnalistik, penulis mencoba merekam jejak langkah satu per satu kandidat, sebagai catatan bagi setiap calon.
Kandidat pertama yang disorot adalah KH Yahya Cholil Staquf, petahana dan Ketua Umum PBNU saat ini. Dari banyak analisis, peluangnya terpilih kembali dinilai berat. Namun itu baru sebatas analisis, realitasnya tetap perlu diikuti bersama.
Empat Alasan di Balik Penilaian “Gagal”
Kepemimpinan Gus Yahya dinilai penuh kontroversi. Ide mulia membenahi digitalisasi dan tata kelola organisasi, agar PBNU dan jajaran struktural di bawahnya menjadi modern, profesional, dan transparan, ternyata berjalan lamban dan sulit dilaksanakan. Setidaknya ada empat penyebab mengapa Gus Yahya dinilai “gagal” memimpin nakhoda PBNU.
Pertama, tidak mampu mensolidkan tim. Sampai tahun kedua, keempat, bahkan kelima kepemimpinannya, konflik dengan Rais Aam KH Miftachul Akhyar serta Sekjen H. Syaifullah Yusuf tidak kunjung mereda, bahkan justru meruncing. Kewibawaan ketua umum dinilai belum mampu menyatukan dua kelompok di internal PBNU, sekalipun pendekatan kultural khas NU sudah dilakukan.
Kedua, akibat dari perpecahan tersebut, kepengurusan NU di level wilayah dan cabang menjadi terkatung-katung. Bahkan banyak yang belum mendapatkan SK kepengurusan hingga waktu yang cukup lama, sehingga roda organisasi pun tersendat. Kurangnya kehadiran Gus Yahya ke PWNU dan PCNU turut menjadi penyebab disharmonisasi hubungan internal, ditambah narasi-narasi liar yang tidak terkelola dengan baik.
Ketiga, isu hubungan dengan tokoh yang diduga terkait jaringan Zionisme internasional. Ini menjadi isu paling ramai dan pemicu desakan mundur pada November 2025, setelah PBNU mengundang Peter Berkowitz ke acara Akademi Kepemimpinan NU (AKNU). Isu ini menjadi bola liar, apalagi di tengah situasi hubungan Israel dan Palestina yang semakin memanas. Kalangan Syuriyah menilai tindakan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai Aswaja dan Qanun Asasi NU, terlebih dilakukan di tengah situasi genosida di Palestina.
Keempat, isu pertambangan dan tata kelola keuangan turut menjadi catatan khusus, lantaran disebut ada “bendahara dalam bendahara” dan “sekjen dalam sekjen”, seolah ada dua kapal dengan tujuan berbeda di internal kepengurusan.
Capaian di Balik Kritik
Terlepas dari berbagai kritik tersebut, kepemimpinan Gus Yahya juga memiliki sejumlah capaian yang kerap disebut sebagai “transformasi PBNU”. Di antaranya adalah transformasi kelembagaan dan badan usaha, melalui pendirian sejumlah badan usaha NU seperti NU Green dan NU Infra, guna mendorong kemandirian ekonomi organisasi.
Selain itu, ada pula digitalisasi NU melalui penguatan sistem data ke-NU-an, pembaruan website resmi PBNU, dan komunikasi publik yang lebih terbuka, termasuk lewat program kaderisasi nasional Akademi Kepemimpinan NU (AKNU) untuk melahirkan pemimpin-pemimpin baru NU.
Di kancah global, Gus Yahya turut membawa konsep Humanitarian Islam ke forum internasional, memposisikan NU sebagai rujukan Islam moderat dunia. PBNU juga aktif bersuara soal Palestina, bantuan kemanusiaan, dan perdamaian, sekaligus memperkuat dialog dengan tokoh lintas agama di dalam maupun luar negeri. Tak sedikit pula kader NU yang masuk ke jajaran kabinet dan jabatan strategis pemerintahan, yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai penguatan “peran NU di negara”.
Para pendukungnya kerap membela bahwa Gus Yahya telah membawa PBNU dari organisasi yang semula “hanya seremonial” menjadi lebih strategis, berbadan hukum, dan memiliki lini bisnis sendiri.
Berapa Peluang Gus Yahya Terpilih Kembali?
Berbagai analisis pun berseliweran soal peluang Gus Yahya, berkisar antara 10 hingga 20 persen, di tengah narasi yang beredar masif bahwa duet KH Miftachul Akhyar dan Gus Yahya harus berakhir. Situasi ini membuat langkah tim Gus Yahya yang mengunjungi PWNU dan PCNU se-Indonesia tidak selalu berjalan mulus.
Meski begitu, pemilihan Pesantren Tambakberas Jombang sebagai lokasi muktamar secara kultural dinilai menguntungkan Gus Yahya, mengingat kedekatannya dengan para pengasuh Tebuireng. Sejumlah video yang beredar, dibuat sebelum Tambakberas terpilih sebagai tuan rumah, memperlihatkan dukungan Dr. KH M. Hasib Wahab selaku Ketua Majelis Pengasuh Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas kepada Gus Yahya, meski narasi tersebut mulai mereda menjelang muktamar berlangsung.
Fakta lain, pada muktamar sebelumnya, Gus Yahya didukung penuh jajaran Kementerian Agama se-Indonesia berkat peran Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut, yang saat itu menjabat Menteri Agama. Jaringan ini dimobilisasi sebagai modal dasar kemenangannya. Meski demikian, faktor utama kemenangan saat itu tetap disebut berasal dari dukungan penuh H. Syaifullah Yusuf, yang belakangan justru “pecah” setelah keduanya sama-sama berada di PBNU, seiring langkah Gus Yahya yang dinilai melaju kencang meninggalkan komitmen awal.
Pengamat Mitsuo Nakamura melihat Muktamar NU selalu memiliki kekhasan tersendiri, bahwa di balik kemeriahannya, proses negosiasi kepentingan di dalam muktamar tidak pernah sederhana, karena melibatkan tarik-menarik pengaruh struktural maupun kultural yang kuat.
Yusron Aminulloh, Wartawan Senior










