TROBOS.CO | Sebelum Mukamat NU ke 35 di PP Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang. Mari kita baca menyeluruh sejak sebelum Munas, Pasca Munas hingga Muktamar esok.
Munas PBNU kemarin di Ploso, adalah performa wajah harian PBNU. Satu tapi tidak menyatu, duduk bersama tapi membawa hati dan pikiran berbeda. Baju boleh sama putih, tapi masyarakat lihat warna yang berbeda.
Adegan-adegan sidang yang diwarnai perseteruan, persis adegan munas partai. Marwah Kyai Nahdlatul Ulama (NU) sebagai tokoh ulama yang memimpin pesantren sekaligus pilar penggerak organisasi Islam terbesar di Indonesia, diabaikan. Ruang teduh jadi panas, kharisma dan kekentalan kyai dirusak satu dua oknum.
Dan kalau diruntut ulang, tidak jauh dari peran dua tokoh sebagai “maha sutradara”. Kelompok KH Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) dan kelompok Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Pernah saya urai detail di https://epaper.hariandisway.com/books/HARIAN-DISWAY-12-JANUARI-2026/.
Tapi catatan tentang Munas NU sudah banyak dianalisa. Tapi penulis ingin menyoroti tokoh NU satu ini, Prof. Dr. Ir. H. Mohammad Nuh, DEA menjabat sebagai Ketua/Sekretaris Steering Committee(SC) dalam gelaran Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama.
Siapa tidak kenal Prof Nuh. Perjalan panjang menorehkan karya monumental dalam dunia pendidikan. Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA adalah Guru Besar dan Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Beliau adalah mantan Rektor ITS periode 2003–2006. Ia banyak melahirkan pola kepemimpinan di ITS.
Pernah menjabat sebagai Rektor ITS periode 2003–2006. Beliau dikukuhkan sebagai rektor pada usia 42 tahun, menjadikannya rektor termuda dalam sejarah kampus tersebut.
Beliau memimpin Kementerian Pendidikan Nasional dari 22 Oktober 2009 hingga 20 Oktober 2014, dimana salah satu kebijakan besar yang beliau kawal adalah implementasi Kurikulum 2013 (K-13).
Pak Nuh, dikenal “arsitek” pendidikan tinggi di NU. Terkenal “tangannya dingin”. Pak Nuh menjabat sebagai Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (YARSIS). Melalui yayasan ini, ia memimpin dan menaungi pengelolaan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA)
Peran dan dedikasi Prof. Nuh meliputi:
Pengembangan Institusi: Ia dikenal memiliki andil besar dalam memajukan Unusa hingga mencapai akreditasi Unggul, serta menjadikan RSI sebagai rumah sakit pendidikan yang paripurna.
Vonis Positif: Mantan Mendikbud ini terus mengawal Unusa agar tidak menjadi universitas yang stagnan, melainkan menjadi kampus development yang terus tumbuh.
Arah Strategis: Di bidang kesehatan, ia secara konsisten berpesan agar para lulusan tenaga medis Unusa menyeimbangkan penguasaan teknologi dengan komunikasi interpersonal yang baik kepada pasien.
Integritas Sebagai Basic
Tidak Ada yang membantah, kalau penulis memberi label Pak Nuh manusia penuh integritas. Puluhan tahuan ia menjaga itu dan mempertankan itu dengan aktivitas dan karyanya yang luar biasa.
Tidak banyak guru besar tapi punya gaya kepemimpan yang kuat seperti pak Nuh. Dalam teori: Pemimpin berintegritas adalah sosok yang menyelaraskan tindakan dengan nilai moral, menjaga konsistensi antara kata dan perbuatan, serta memegang teguh kejujuran di situasi sulit.
Stephen R. Covey, Menekankan bahwa integritas adalah kunci utama. Pemimpin yang berintegritas selalu menepati janji dan memegang komitmen. Covey juga menekankan perlunya keselarasan antara character (karakter moral) dan competence (kompetensi).
Bahkan, Trevino & Brown: Dalam studinya mengenai kepemimpinan etis (ethical leadership), mereka menyatakan bahwa pemimpin berintegritas adalah figur moral yang tindakannya sesuai secara normatif serta menjadikan kejujuran dan altruisme sebagai pedoman.
Jujur, Prof Nuh mampu mewujudkan itu.
Tapi kenapa pak Nuh berubah saat ada dilingkungan PBNU ? Wibawanya berkurang sampai rebutan mike. Statemennya dianggap pro satu pihak. Posisinya menjadi representasi kelompok Gus Ipul. Wajah teduh pak Nuh, bukan lagi mampu menenangkan warga nadliyin.
Beberapa Gus menyebut, menyayangkan tokoh pendidikan tinggi dikalangan NU ini tidak netral. Dukung Satu kelompok betul-betul mengurangi integritasnya.
Tapi kalau dirunut kebelakang, memang bisa dibaca saat pak Nuh, tiba-tiba menjadi tim ahli Sekolah Rakyat, yang digagas Preasiden Prabowo, aplikasinya dipimpin Gus Ipul. Banyak pihak sudah menyayangkan saat itu, pak Nuh seoalah-olah menjadi “anak buah” Gus Ipul. Padahal kapasitas, integritas dan karya Prof jauh diatas Gus Ipul.
Penggagas Sekolah Rakyat adalah Presiden Prabowo Subianto.
Memutus rantai kemiskinan antargenerasi lewat pendidikan gratis, inklusif, dan berkualitas untuk anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem
Pak Nuh tidak perlu “turun gunung” atasi sekolah rakyat. Cukup menugasi timnya yang muda-muda. Terlalu kecil masalah yan diatasi kebesaran nama besarnya. Sama dengan posisi di PBNU. Terlalu riskan maha guru yang mampu wujudkan kampus NU kelevel nasional bahkan dunia, tercemar dengan terlibat urusan “rebutan” kekuasaan di PBNU. *
Yusron Aminulloh, Wartawan Senior










