Ketika Dunia Menjadi Sebab Retaknya Ukhuwah Islamiyah

banner 2560316

TROBOS.CO | Allah Swt. menjadikan ukhuwah Islamiyah sebagai fondasi utama kehidupan umat. Persaudaraan bukan sekadar ikatan emosional, melainkan prinsip akidah yang melahirkan solidaritas, saling melindungi, dan kerja sama dalam kebaikan. Karena itu, setiap ancaman terhadap ukhuwah pada hakikatnya merupakan ancaman terhadap kekuatan umat Islam itu sendiri.

Allah Swt. menegaskan hal ini dalam firman-Nya.

banner 300250

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Ayat ini tidak hanya menyatakan bahwa orang-orang beriman adalah saudara, tetapi juga memerintahkan mereka untuk senantiasa menjaga dan memperbaiki hubungan ketika muncul perselisihan. Menariknya, Al-Qur’an tidak mengatakan “jika mereka bertikai, biarkan mereka menyelesaikannya sendiri”, tetapi memerintahkan seluruh kaum mukminin untuk turun tangan melakukan ishlah atau perdamaian. Artinya, menjaga ukhuwah merupakan tanggung jawab kolektif.

Prediksi Nabi tentang Bahaya Kemenangan

Namun, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa keretakan ukhuwah tidak selalu diawali oleh persoalan akidah atau ibadah. Justru, sering kali ia bermula dari kecintaan yang berlebihan kepada dunia.

Dalam Shahih Muslim nomor 2962, dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا فُتِحَتْ عَلَيْكُمْ فَارِسُ وَالرُّومُ، أَيُّ قَوْمٍ أَنْتُمْ؟ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ: نَقُولُ كَمَا أَمَرَنَا اللَّهُ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ، تَتَنَافَسُونَ، ثُمَّ تَتَحَاسَدُونَ، ثُمَّ تَتَدَابَرُونَ، ثُمَّ تَتَبَاغَضُونَ، أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ، ثُمَّ تَنْطَلِقُونَ فِي مَسَاكِينِ الْمُهَاجِرِينَ، فَتَجْعَلُونَ بَعْضَهُمْ عَلَى رِقَابِ بَعْضٍ

Artinya: Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila Persia dan Romawi telah ditaklukkan untuk kalian, akan menjadi kaum apakah kalian?” Abdurrahman bin ‘Auf menjawab, “Kami akan melakukan sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada kami.” Namun Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat mendalam. Beliau bersabda, “Ataukah justru tidak demikian? Kalian akan saling berlomba-lomba memperebutkan dunia, kemudian saling dengki, kemudian saling membelakangi, kemudian saling membenci, atau semisal itu. Setelah itu kalian akan menguasai urusan orang-orang miskin dari kalangan Muhajirin, lalu sebagian kalian menjadikan sebagian yang lain berada di bawah kekuasaan sebagian yang lain.”

Hadis ini merupakan salah satu prediksi kenabian yang sangat mengagumkan. Ketika hadis tersebut disampaikan, kaum muslimin belum menaklukkan Persia maupun Romawi. Namun Rasulullah ﷺ tidak hanya mengabarkan kemenangan itu, beliau juga mengingatkan bahaya yang muncul setelahnya. Ternyata, ancaman terbesar bukanlah kekalahan di medan perang, melainkan kemenangan yang melahirkan kelalaian, kemewahan, dan perebutan kepentingan dunia.

Lima Tahapan Keretakan Ukhuwah

Hadis tersebut menggambarkan proses rusaknya persatuan umat secara bertahap. Pertama, at-tanafus (التنافس), yaitu persaingan yang semula sehat berubah menjadi perlombaan mengumpulkan harta, jabatan, pengaruh, dan popularitas. Orientasi hidup bergeser dari mencari rida Allah menuju mencari keuntungan pribadi atau kelompok.

Kedua, at-tahasud (التحاسد). Ketika persaingan duniawi tidak terkendali, muncullah hasad. Orang tidak lagi bergembira melihat saudaranya memperoleh nikmat, bahkan berharap nikmat itu hilang. Penyakit hati ini menjadi api yang membakar persaudaraan.

Ketiga, at-tadabur (التدابر). Hasad melahirkan sikap saling membelakangi. Komunikasi terputus, silaturahmi melemah, dan kerja sama berubah menjadi saling menjatuhkan.

Keempat, at-tabaghud (التباغض). Perselisihan berkembang menjadi kebencian. Ukhuwah yang dahulu dibangun di atas iman berubah menjadi permusuhan yang diwariskan dari satu persoalan ke persoalan lain.

Kelima, at-tasallut (التسلط). Puncak dari keretakan itu adalah munculnya kezaliman. Sebagian kaum muslimin mulai menindas, mengeksploitasi, dan memperalat saudaranya sendiri demi kepentingan dunia.

Urutan ini menunjukkan bahwa perpecahan umat bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba. Ia dimulai dari penyakit hati yang tampak sederhana, kemudian berkembang menjadi konflik sosial yang menggerogoti kekuatan umat dari dalam.

Relevan dengan Kondisi Umat Saat Ini

Peringatan Rasulullah ﷺ terasa sangat aktual. Di era media sosial, persaingan memperoleh pengaruh dan popularitas sering kali lebih diutamakan daripada menjaga persaudaraan. Perbedaan pandangan keagamaan, organisasi, bahkan pilihan politik mudah berkembang menjadi saling mencela dan memutus hubungan.

Padahal, para ulama sejak dahulu telah mengingatkan bahwa musuh terbesar umat bukan sekadar tekanan dari luar, melainkan keretakan yang berasal dari dalam. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini merupakan peringatan agar umat tidak terlena oleh keluasan dunia. Nikmat kemenangan dan kemakmuran dapat berubah menjadi bencana apabila tidak disertai rasa syukur, qanaah, dan ketakwaan.

Sejarah Islam membuktikan kebenaran sabda Nabi ﷺ. Setelah wilayah Islam meluas dan kekayaan mengalir, muncul berbagai konflik politik, perebutan kekuasaan, fanatisme kelompok, hingga peperangan antarsesama kaum muslimin. Semua itu berawal dari penyakit hati yang telah diperingatkan Rasulullah ﷺ.

Menjaga Ukhuwah sebagai Jalan Kebangkitan

Ukhuwah tidak akan terjaga hanya dengan slogan. Ia memerlukan keikhlasan, kerendahan hati, kesediaan menerima perbedaan yang dibenarkan syariat, kemampuan berdialog dengan adab, serta kesungguhan mendahulukan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi dan kelompok.

Kita membutuhkan semangat berlomba dalam amal saleh, bukan berlomba mengumpulkan pengaruh. Kita perlu membangun budaya tabayun daripada tergesa-gesa menyebarkan informasi. Kita juga harus membiasakan husnuzan, saling mendoakan, dan saling menasihati dengan hikmah. Persatuan umat bukan berarti menghapus seluruh perbedaan, tetapi menyatukan hati dalam tujuan yang sama, yaitu mencari rida Allah dan menegakkan kemaslahatan umat.

Pada akhirnya, sabda Rasulullah ﷺ menjadi cermin bagi setiap generasi. Selama umat Islam mampu mengendalikan kecintaan kepada dunia dan membersihkan hati dari hasad, kebencian, serta fanatisme sempit, ukhuwah akan tetap kokoh. Namun apabila dunia menjadi tujuan utama, maka sebagaimana peringatan Nabi ﷺ, persaingan akan berubah menjadi hasad, hasad melahirkan permusuhan, dan permusuhan berakhir pada perpecahan.

Maka, menjaga ukhuwah bukan hanya persoalan etika sosial, melainkan bagian dari menjaga amanah keimanan. Sebab umat yang bersatu akan menjadi kuat, sedangkan umat yang tercerai-berai akan kehilangan wibawa dan mudah dikalahkan oleh berbagai kepentingan.

Fathur Rohman, Ketua Dewan Dakwah Jawa Timur

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *