TROBOS.CO | Ada sebuah penyakit hati yang sering tidak disadari: merasa aman dari azab dan peringatan Allah. Seseorang bisa saja hidup dalam kelapangan, rezeki terasa cukup, usaha berkembang, keluarga baik-baik saja, lalu ia mengira bahwa semua itu adalah tanda bahwa Allah meridhainya. Padahal, belum tentu demikian.
Allah memberikan peringatan yang sangat tegas dalam QS. Al-A’raf ayat 96-99:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ٩٦ أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ ٩٧ أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ ٩٨ أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ ٩٩
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan, maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan.” Kemudian Allah bertanya: “Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami pada malam hari ketika mereka sedang tidur? Atau apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksaan Kami pada waktu dhuha ketika mereka sedang bermain? Apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tidak ada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf: 96-99)
Perhatikan, Allah tidak mengatakan bahwa orang yang sedang tidur pasti selamat. Tidak pula orang yang sedang sibuk bekerja, bermain, menikmati kehidupan, atau merasa segala sesuatu baik-baik saja di sekelilingnya.
Bahaya terbesar bukan hanya datangnya musibah, melainkan ketika hati kehilangan rasa takut kepada Allah. Merasa aman dapat membuat manusia berhenti bertaubat, meremehkan dosa, meninggalkan nasihat, menganggap kemaksiatan sebagai hal biasa, bahkan merasa tidak lagi membutuhkan perbaikan diri.
Sebaliknya, seorang mukmin hidup di antara harap dan takut. Ia berharap rahmat Allah, tetapi tidak pernah merasa dirinya pasti aman dari kesalahan dan hukuman-Nya. Ia bersyukur ketika mendapatkan nikmat, tetapi sekaligus bertanya kepada dirinya sendiri: apakah nikmat ini semakin mendekatkannya kepada Allah, atau justru membuatnya lalai dan lupa diri.
Karena itu, jangan tertipu oleh kelapangan hidup. Kesehatan bukan jaminan keselamatan. Kekayaan bukan tanda pasti keridhaan. Jabatan bukan bukti kemuliaan. Panjang umur pun bukan jaminan kesempatan untuk bertaubat di kemudian hari.
Selama Allah masih memberi kesempatan, perbanyaklah istighfar, perbaiki amal, tinggalkan maksiat, dan jangan pernah merasa aman dari peringatan Allah. Sebab orang yang cerdas bukanlah orang yang merasa dirinya sudah selamat, melainkan orang yang selalu berusaha mencari keselamatan sebelum datang hari ketika penyesalan tidak lagi berguna.
Fathur Rohman










