TROBOS.CO | Iman itu penting. Iman selain bekal menuju akhirat, juga untuk menuntun langkah hidup di dunia.
Iman menjadi cahaya ketika jalan terasa gelap. Dan menjadi pengingat ketika manusia mulai tergoda melakukan sesuatu yang dilarang Allah.
Iman bukan sekadar urusan lisan, melainkan urusan hati yang kemudian dibuktikan melalui perbuatan.
Dalam kehidupan, ada orang pandai berbicara tentang kejujuran, tetapi masih mudah berbohong. Ada yang rajin menasihati orang lain, tetapi lupa menasihati dirinya sendiri.
Karena itu, ukuran iman tidak berhenti pada apa yang diucapkan, tetapi juga terlihat pada apa yang dilakukan ketika tidak ada orang lain yang menyaksikan.
Iman bertempat di hati, sedangkan buahnya tampak dalam perilaku. Hati yang dipenuhi keyakinan kepada Allah akan melahirkan rasa takut untuk berbuat dosa sekaligus semangat untuk melakukan kebaikan.
Orang yang kuat imannya biasanya rajin salat dan bersungguh-sungguh dalam beribadah.
Namun, ibadah yang baik tidak semestinya berhenti di atas sajadah. Ia harus menjalar ke tempat kerja, pasar, kantor, sawah, dan ke setiap ruang tempat manusia menjalankan kehidupannya.
Iman yang kuat membuat seseorang tetap jujur meskipun tidak diawasi atasan. Ia tetap bekerja dengan baik meskipun tidak ada yang memeriksa.
Ia tidak mengurangi timbangan meskipun pembeli tidak mengetahui. Ia tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya meskipun kesempatan terbuka lebar.
Mengapa demikian? Karena ia merasa selalu berada dalam pengawasan Allah.
Atasan mungkin tidak melihat. Kamera pengawas mungkin tidak merekam. Orang lain mungkin tidak mengetahui. Namun, bagi orang beriman, tidak ada satu pun perbuatan yang luput dari pengetahuan Allah.
Inilah salah satu kekuatan iman. Ia menjadi pengawas yang melekat dalam diri manusia. Pengawas yang tidak membutuhkan seragam, tidak memerlukan kamera, dan tidak harus hadir dalam bentuk teguran. Ia bekerja melalui hati nurani yang hidup.
Al-Qur’an mengingatkan dalam Surah Al-Hadid ayat 4 bahwa Allah bersama manusia di mana pun mereka berada dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.
Kesadaran seperti inilah yang membuat seseorang tetap berada di jalan yang benar, sekalipun tidak ada manusia yang mengawasinya.
Iman juga berkaitan erat dengan lingkungan pergaulan. Teman bisa menjadi jalan menuju kebaikan, tetapi bisa pula menjadi pintu menuju keburukan.
Seseorang yang semula rajin beribadah dapat menjadi lalai ketika terus-menerus berada dalam lingkungan yang menjauhkan dirinya dari Allah.
Sebaliknya, teman yang baik dapat membangunkan semangat ibadah yang mulai redup.
Ketika kita malas salat, ia mengingatkan. Ketika kita mulai menyimpang, ia menasihati. Ketika kita terjatuh dalam kesalahan, ia membantu kita bangkit.
Rasulullah mengingatkan bahwa seseorang mengikuti agama atau kebiasaan teman dekatnya.
Karena itu, hendaklah setiap orang memperhatikan siapa yang dijadikan teman dekatnya.
Bertemanlah dengan siapa saja dalam urusan kemanusiaan, tetapi pilihlah teman dekat yang membantu kita menjaga iman.
Sebab tidak semua orang yang membuat kita tertawa akan membantu kita ketika harus mempertanggungjawabkan kehidupan di hadapan Allah.
Lalu, apakah iman seseorang akan selalu kuat sepanjang hidupnya?
Tidak selalu. Iman dapat bertambah dan dapat pula berkurang. Hati manusia mengalami perubahan. Ada saatnya semangat beribadah begitu tinggi, tetapi ada pula masa ketika hati terasa kering dan ibadah menjadi berat.
Karena itu, iman harus dirawat. Sebagaimana tanaman membutuhkan air dan sinar matahari, iman membutuhkan ilmu, ibadah, zikir, pergaulan yang baik, serta kesungguhan untuk menaati perintah Allah.
Jangan merasa aman hanya karena hari ini rajin salat. Jangan pula berputus asa ketika pernah melakukan kesalahan. Yang terpenting adalah terus memperbaiki diri, memohon ampun kepada Allah, dan berusaha agar hari esok lebih baik daripada hari ini.
Di sinilah pentingnya memahami hubungan antara iman dan ihsan.
Iman adalah keyakinan kepada Allah dan perkara-perkara yang diperintahkan untuk diimani. Ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya.
Jika kita tidak mampu melihat-Nya, kita menyadari bahwa Dia selalu melihat kita.
Kesadaran ihsan inilah yang membuat ibadah tidak sekadar menjadi gerakan tubuh. Salat bukan hanya berdiri, rukuk, dan sujud.
Bekerja bukan sekadar menyelesaikan tugas. Berbuat baik bukan sekadar mencari pujian manusia.
Semuanya dilakukan dengan kesadaran bahwa Allah mengetahui isi hati dan melihat setiap perbuatan.
Pada akhirnya, iman bukan hanya persoalan seberapa fasih kita berbicara tentang Allah, tetapi seberapa sungguh-sungguh kita menaati-Nya.
Bukan hanya seberapa sering kita datang ke masjid, tetapi juga seberapa jujur kita ketika berada di luar masjid.
Sebab iman yang hidup akan melahirkan pribadi yang dapat dipercaya. Ia baik ketika dilihat maupun ketika tidak dilihat. Ia bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga hak orang lain, menghormati sesama, dan tidak mudah tergoda melakukan keburukan.
Iman memang menjadi bekal menuju akhirat. Namun, sebelum menjadi bekal di akhirat, iman harus lebih dahulu menjadi pedoman hidup di dunia.
Dipetik dan diolah dari materi arahan Ketua Baznas Lumajang, Drs. KH. Nur Sjahid, MA.
Suharyo AP, SH, pemerhati masalah sepele










