Jangan Terlalu Cepat Memutuskan, Jaga Akal dan Lisan di Era Disrupsi

banner 2560316

TROBOS.CO | Kita sedang hidup di era yang penuh disrupsi. Disrupsi teknologi telah mengubah cara manusia memperoleh informasi. Disrupsi komunikasi telah mengubah cara manusia menyampaikan berita. Bahkan disrupsi informasi telah membuat batas antara berita, opini, dugaan, persepsi, dan fakta menjadi semakin tipis.

Sebuah informasi dapat berpindah dari satu orang kepada jutaan orang hanya dalam hitungan menit. Sebuah potongan video dapat dipisahkan dari konteksnya. Sebuah kalimat dapat dipenggal dari pembicaraan panjang. Sebuah gambar dapat diberi narasi baru. Sebuah kabar yang belum jelas sumbernya dapat berulang kali dibagikan sampai akhirnya terasa seperti sebuah kebenaran.

banner 300250

Di sinilah manusia membutuhkan ketenangan sebelum mengambil keputusan. Sebab tidak semua yang sampai kepada kita harus segera kita percaya, dan tidak semua yang kita percaya harus segera kita sebarkan.

Ketika Kita Menjadi Mata Rantai

Ada informasi yang benar. Ada informasi yang keliru. Ada informasi yang sebagian benar tetapi kehilangan konteks. Ada pula informasi yang sumbernya belum jelas, sehingga kita memang belum memiliki dasar yang cukup untuk mengatakan bahwa informasi tersebut benar.

Persoalannya, ketika kita langsung ikut menyebarkannya, kita tidak lagi sekadar menjadi orang yang menerima informasi. Kita telah menjadi bagian dari rantai penyebarannya. Dan di sinilah persoalannya menjadi serius.

Kalau ternyata informasi itu benar, kita mungkin telah ikut menyampaikan sebuah kebenaran. Tetapi kalau ternyata bohong, kita ikut menyebarkan kebohongan. Kalau ternyata fitnah, kita ikut memperpanjang fitnah. Kalau ternyata hanya dugaan, kita ikut mengubah dugaan menjadi seolah-olah kenyataan. Bahkan kadang kita tidak tahu siapa yang pertama membuatnya, dari mana sumbernya, dalam konteks apa ia muncul, dan apakah sudah pernah diverifikasi.

Tetapi kita sudah ikut menyebarkannya. Jempol kita bergerak lebih cepat daripada akal kita.

Menahan Diri Bukan Berarti Tak Peduli

Inilah salah satu tantangan terbesar manusia di era disrupsi. Kita tidak hanya dituntut mampu membaca informasi, tetapi juga mampu menahan diri terhadapnya. Menahan diri bukan berarti tidak peduli. Menahan diri berarti memberi kesempatan kepada akal untuk bertanya: dari mana informasi ini berasal, siapa yang mengatakan, apa buktinya, apakah konteksnya lengkap, dan apakah ada sumber yang dapat diverifikasi? Lalu satu pertanyaan yang paling jujur: apakah saya sedang menyampaikan fakta, atau hanya mengulang apa yang saya dengar?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini penting karena manusia sering lupa bahwa membagikan informasi juga merupakan sebuah tindakan. Kita mungkin merasa hanya menekan satu tombol, padahal di balik satu tombol itu ada kemungkinan sebuah informasi bergerak ke puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang.

Karena itu, persoalannya bukan hanya “Bolehkah saya membagikan ini?” Pertanyaan yang lebih dalam adalah: “Apakah saya memiliki alasan yang cukup untuk ikut menyebarkannya?”

Ketika Akhlak Bertemu Epistemologi

Di sinilah akhlak bertemu dengan epistemologi. Kita tidak hanya bertanya tentang benar atau salah, tetapi juga tentang bagaimana kita mengetahui bahwa sesuatu itu benar atau salah.

Sebab orang yang ingin menjaga lisannya dari kebohongan tidak cukup hanya berniat untuk tidak berbohong. Ia juga harus berhati-hati agar tidak mengucapkan kembali kebohongan orang lain tanpa menyadarinya. Demikian pula orang yang ingin menjaga dirinya dari fitnah, tidak cukup hanya dengan tidak menciptakan fitnah. Ia perlu berhati-hati agar tidak menjadi mata rantai yang membuat fitnah terus hidup.

Maka di tengah derasnya arus informasi, terkadang diam adalah bentuk tanggung jawab intelektual. Bukan karena kita tidak punya pendapat, bukan pula karena kita tidak peduli, tetapi karena kita sadar bahwa belum semua informasi layak diberi suara kita. Ada saatnya kita berkata, “Saya belum tahu.” Ada saatnya kita berkata, “Saya belum menemukan sumber yang cukup.” Ada saatnya kita memilih tidak membagikan sesuatu sebelum kebenarannya jelas.

Dan itu bukan kelemahan. Justru di tengah dunia yang mendorong manusia untuk selalu cepat berkomentar, kemampuan menahan diri adalah bentuk kedewasaan.

Berhenti Sejenak Sebelum Ikut Mengalir

Sebab kita tidak pernah tahu ke mana sebuah informasi akan berjalan setelah keluar dari tangan kita. Mungkin hanya menjadi percakapan biasa. Mungkin menjadi kesalahpahaman, kepanikan, atau tuduhan. Mungkin menjadi fitnah. Atau mungkin menjadi kebohongan yang terus diulang sampai orang lupa bahwa pada awalnya ia hanyalah sebuah informasi yang belum pernah diverifikasi.

Maka sebelum menjadi bagian dari arus itu, berhentilah sejenak. Periksa sumbernya, pahami konteksnya, timbang kebenarannya, pertimbangkan akibatnya, baru kemudian tentukan apakah informasi itu layak diteruskan. Di era yang penuh disrupsi, menjaga kebenaran bukan hanya tugas orang yang membuat berita. Menjaga kebenaran juga menjadi tanggung jawab orang yang memilih untuk menyebarkannya.

Dan mungkin, pada zaman ketika satu jempol mampu membuat sebuah kabar berlari lebih cepat daripada proses klarifikasinya, salah satu bentuk wara’ intelektual adalah menyadari bahwa tidak semua yang kita dengar harus kita katakan, tidak semua yang kita baca harus kita sebarkan, dan tidak semua yang viral layak kita jadikan kebenaran.

Sebab jangan sampai kita sibuk membicarakan bahaya hoaks, tetapi tanpa sadar jempol kita justru menjadi kendaraan hoaks itu sendiri.

Berhenti. Periksa. Pahami. Baru bicara.

Tim Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *