Lumajang Makin Menua, Hampir 1 dari 5 Warga Lansia

banner 2560316

TROBOS.CO | Ada perubahan yang pelan-pelan terjadi di sekitar kita. Jumlah warga lanjut usia (lansia) semakin banyak. Di kampung-kampung, tempat ibadah, pasar, kegiatan sosial, maupun berbagai komunitas, wajah-wajah yang sudah berusia 60 tahun ke atas makin mudah ditemui.

Ternyata, perubahan itu bukan sekadar perasaan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, 17,95 persen penduduk Lumajang pada 2025 sudah berusia 60 tahun ke atas. Artinya, kalau ada 100 orang di Lumajang, hampir 18 di antaranya adalah lansia.

banner 300250

Angka itu cukup untuk menggambarkan bahwa Lumajang sedang menghadapi perubahan demografi yang serius. Penduduknya semakin panjang usia, sementara kebutuhan untuk melayani kelompok usia lanjut juga semakin besar.

Yang menarik, kenaikan ini bukan terjadi tiba-tiba. Sepuluh tahun sebelumnya, pada 2015, proporsi lansia di Lumajang masih 13,09 persen. Kemudian naik menjadi 15,40 persen pada 2020, 16,42 persen pada 2022, dan mencapai 17,95 persen pada 2025. Jadi, dalam kurun sekitar sepuluh tahun, proporsi lansia bertambah hampir lima poin persentase.

BPS mencatat proporsi lansia di Jawa Timur pada 2025 sebesar 15,40 persen, sementara secara nasional penduduk lansia mencapai 11,97 persen. Dengan angka 17,95 persen, Lumajang memiliki proporsi lansia yang lebih tinggi dibandingkan Jawa Timur maupun Indonesia secara keseluruhan.

Fenomena ini tentu tidak perlu dilihat sebagai sesuatu yang menakutkan. Justru bertambahnya jumlah penduduk lansia antara lain menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang mampu mencapai usia lanjut. Namun, di sisi lain, ada pekerjaan rumah yang ikut tumbuh bersama bertambahnya usia penduduk.

Selama ini, ketika berbicara tentang lansia, perhatian sering kali langsung tertuju pada kesehatan. Padahal persoalannya lebih luas. Lansia membutuhkan lingkungan yang aman, akses pelayanan kesehatan yang mudah, ruang untuk beraktivitas, kesempatan bersosialisasi, serta dukungan agar tetap mandiri.

Sebab, tidak sedikit lansia yang masih aktif. Ada yang masih bekerja, ada yang mengurus usaha keluarga, ada yang aktif di masjid, organisasi, kelompok olahraga maupun kegiatan sosial. Bahkan tidak sedikit yang masih menjadi tempat anak dan cucu meminta nasihat. Jadi, usia 60 tahun bukan berarti seseorang kemudian berhenti memiliki peran justru pengalaman hidup yang mereka miliki menjadi sesuatu yang tidak bisa digantikan begitu saja.

Tantangannya kemudian bukan sekadar bagaimana membuat orang hidup lebih panjang, melainkan bagaimana mereka menjalani usia panjang itu: sehat, mandiri, tetap aktif, dan merasa dihargai.

Di sinilah keluarga memiliki peran pertama. Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam menyediakan kebijakan dan pelayanan. Sementara masyarakat, komunitas, organisasi sosial, maupun dunia usaha bisa ikut menciptakan ruang agar lansia tetap memiliki tempat di tengah kehidupan sosial. Tidak harus selalu dalam bentuk program besar kegiatan olahraga bersama, pemeriksaan kesehatan, kegiatan keagamaan, pertemuan sosial, pelatihan keterampilan, sampai sekadar menyediakan ruang berkumpul bisa menjadi bagian dari kehidupan lansia yang lebih baik.

Ada satu hal sederhana yang sering terlupakan. Lansia bukan kelompok yang tiba-tiba muncul dalam kehidupan kita. Mereka adalah orang-orang yang sebelumnya juga pernah muda, bekerja, membesarkan anak, membangun keluarga, dan ikut menggerakkan kehidupan di sekitarnya. Dan hampir semua orang yang berumur panjang suatu saat akan berada di posisi yang sama.

Hari ini kita mungkin sedang mengantar orang tua berobat. Hari ini kita mungkin sedang menemani bapak atau ibu mengikuti kegiatan. Tetapi beberapa puluh tahun mendatang, bisa jadi kitalah yang membutuhkan perhatian yang sama.

Karena itu, ketika BPS mencatat 17,95 persen penduduk Lumajang sudah masuk kelompok lansia, angka tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai statistik. Ada manusia di balik angka itu ada cerita, pengalaman, dan jasa panjang yang telah mereka berikan.

Lumajang sedang memasuki babak baru demografi. Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah jumlah lansia akan bertambah, tetapi sudah siapkah Lumajang menjadi tempat yang nyaman bagi mereka yang semakin panjang usia?

Nugroho Dwi Atmoko

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *