TROBOS.CO | LUMAJANG – Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, menghormati pemimpin adalah bagian dari kedewasaan berpikir. Bukan berarti harus selalu setuju dalam segala hal, tetapi setidaknya menjaga adab, etika, dan cara berbicara.
Hari ini, terlalu banyak orang mudah mencaci, menghina, dan nyinyir di media sosial. Sedikit-sedikit menghujat, sedikit-sedikit memprovokasi. Seolah merasa paling benar, padahal belum tentu pernah ikut memikul tanggung jawab sebesar para pemimpin.
Kritik Itu Penting, Tapi Harus Beretika
Kritik itu boleh, bahkan penting. Namun kritik yang baik adalah kritik yang memberi solusi, bukan sekadar melampiaskan emosi. Jangan sampai kebiasaan nyinyir membuat hati menjadi keras dan kehilangan rasa hormat kepada siapa pun yang sedang mengabdi untuk masyarakat.
Pemimpin juga manusia. Mereka bisa salah, bisa kurang, dan bisa khilaf. Tetapi menghina dan merendahkan bukanlah ciri masyarakat yang beradab.
Bangsa Besar dari Rakyat yang Santun
Bangsa besar lahir dari rakyat yang mampu menjaga persatuan, menghormati pemimpinnya, dan tetap santun dalam menyampaikan perbedaan.
Kalau tidak mampu membantu, minimal jangan memperkeruh suasana. Jangan menjadi bagian dari orang-orang yang kerjanya hanya mencari kesalahan, menyebar kebencian, dan menikmati kegaduhan.
Penutup
Mari biasakan budaya menghormati, bukan budaya mencaci. Karena negeri ini tidak akan maju jika dipenuhi orang yang gemar nyinyir, tetapi minim kontribusi.
Lumajang, 11 Mei 2026
Redaksi TROBOS.CO









