TROBOS.CO | LUMAJANG – Upacara Hari Pendidikan Nasional, Jumat (2/5/2026), di SDN Blukon, Kecamatan Lumajang, Kabupaten Lumajang, nyaris terhenti di momen yang paling sakral. Tali pengibar bendera tiba-tiba putus. Seluruh peserta upacara sontak terhenti menunggu, tidak tahu harus berbuat apa.
Tapi di barisan murid, ada satu anak kecil yang justru bergerak maju.
Wahyu, siswa kelas 2, mengangkat tangannya dan meminta izin kepada gurunya untuk memanjat tiang bendera setinggi 10 meter sendirian demi memasang kembali tali yang putus itu.
Dan ia melakukannya.
Minta Izin, Lalu Langsung Naik
Guru kelasnya, Ibu Aini Hakim, masih ingat betul momen itu.
“Begitu terlihat tali bendera putus, anak ini langsung memberanikan diri meminta kepada gurunya agar diizinkan naik tiang bendera memasang kembali tali yang putus,” terang Ibu Iin, sapaan akrab wali kelas 2 SDN Blukon itu.
Tidak ada keraguan di wajah Wahyu. Tidak ada ketakutan yang ia perlihatkan. Dengan lincah ia memanjat tiang setinggi 10 meter itu, memasang kembali talinya, lalu turun seolah itu hal yang biasa ia lakukan.
Begitu tali terpasang kembali, upacara pun dilanjutkan dan berlangsung khidmat hingga selesai.
Anak Desa dengan Cinta yang Besar
Bu Iin tidak menyembunyikan rasa bangganya. Bagi dia, apa yang dilakukan Wahyu bukan sekadar aksi nekat seorang bocah. Itu adalah cerminan karakter.
“Memang dia anak desa, tapi cintanya kepada pendidikan begitu dalam,” katanya.
Wahyu dikenal sebagai murid yang memiliki rasa cinta tinggi terhadap sekolahnya. Dan hari itu, di hadapan seluruh warga sekolah, ia membuktikannya dengan cara yang tidak akan mudah dilupakan.
“Kami sebagai gurunya merasa bangga. Anak sekecil itu punya rasa peduli,” pungkas Ibu Aini Hakim.
Di Hari Pendidikan Nasional yang seharusnya menjadi momen refleksi tentang masa depan generasi bangsa, Wahyu bocah kelas 2 SD dari Lumajang justru yang memberikan pelajaran paling nyata hari itu.
Ahmad Lukman Hakim









