Kisah Haji Keluarga dr Halimi: Di Balik Penantian Selalu Ada Keindahan

banner 2560316

TROBOS.CO | Ibadah haji adalah impian besar setiap Muslim sebuah panggilan suci yang tidak hanya menggerakkan langkah, tetapi juga menggugah hati yang paling dalam.

Banyak orang sudah mempersiapkan diri lahir dan batin, bahkan finansial, namun tetap belum mendapat giliran. Di sinilah kita belajar bahwa haji bukan semata soal kemampuan. Ia tentang panggilan Allah. Siapa yang dipanggil, dialah yang akan dimudahkan jalannya menuju Baitullah.

Masa tunggu yang panjang bahkan bisa mencapai puluhan tahun sering kali membuat sebagian orang merasa ragu atau menunda niat. Tapi justru di situlah letak ujian kesungguhan itu berada.

Banyak yang menyiasatinya dengan memulai perjalanan ke Tanah Suci melalui umrah sebagai bentuk ikhtiar dan kerinduan yang terus dijaga, agar hati tidak dingin dalam penantian.

Karena sejatinya, setiap langkah kecil menuju Allah tidak pernah sia-sia. Ia akan dicatat sebagai bukti kesungguhan seorang hamba yang ingin menjadi tamu-Nya.

Rabu (13/5/2026), suasana syukur menyelimuti kediaman dr. Halimi Maksum, MMRS. Sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lumajang, beliau menggelar tasyakuran bersama para pimpinan daerah, kerabat, dan handai taulan.

Ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah wujud rasa syukur yang tulus atas panggilan Allah yang akhirnya tiba panggilan yang sudah lama dinantikan.

Dalam kebersamaan yang hangat itu, mengalir doa-doa tulus dari para hadirin. Semoga perjalanan ibadah haji yang akan dilaksanakan bersama istri dan kedua putranya diberi kelancaran, keselamatan, dan keberkahan yang berlimpah.

Rencananya, dr Halimi dan keluarga akan berangkat pada 22 Mei 2026 dan kembali pada 12 Juni 2026 selama 22 hari penuh di Tanah Suci.

Dalam tausiyah yang disampaikan pada momen tasyakuran tersebut, Ustaz Suharyo mengingatkan satu hal yang sering kali terlewat: menjaga fokus dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji, terutama rukun dan wajibnya.

Bukan tanpa alasan. Tanah Suci hari ini penuh dengan godaan yang tidak selalu berbentuk kemaksiatan — bisa sesederhana terlalu asyik berbelanja, terlalu banyak berfoto, atau terlalu lelah karena aktivitas yang tidak perlu.

Pesan itu menjadi pengingat bagi kita semua: haji bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah ibadah yang membutuhkan kesungguhan hati, keikhlasan penuh, dan ketundukan total kepada Allah.

Kisah keluarga dr. Halimi seharusnya menjadi penyemangat bukan hanya bagi mereka yang sudah mendaftar, tapi bagi siapa saja yang masih menyimpan impian itu dalam hati.

Haji bukanlah mimpi yang mustahil. Ia adalah tujuan yang bisa diraih dengan niat yang kuat, usaha yang konsisten, dan doa yang tidak pernah putus.

Jangan menunggu “mampu” dalam segala hal. Karena sering kali, kemampuan itu justru datang setelah kita memantapkan niat.

Mulailah dari sekarang menabung, memperbaiki diri, dan memohon kepada Allah agar suatu saat kita pun dipanggil menjadi tamu-Nya.

Semoga di balik setiap penantian panjang, selalu ada keindahan yang menunggu. Dan semoga kita semua kelak diberi kesempatan yang sama berdiri di hadapan Ka’bah, meneteskan air mata haru, dan merasakan kedekatan yang begitu dalam dengan Sang Pencipta. *

Nugroho Dwi Atmoko

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *