TROBOS.CO | Ada sesuatu yang istimewa dalam sujud. Kita meletakkan bagian tubuh yang paling terhormat, yaitu dahi, ke atas tanah, bumi yang setiap hari kita injak. Kepala yang biasanya tegak memandang dunia, kini merendah di hadapan Sang Pencipta. Di situlah manusia belajar bahwa kemuliaan tidak selalu terletak pada ketinggian, tetapi justru pada kerendahan hati.
Sujud seolah menjadi saat ketika kita berbisik kepada bumi, sementara doa kita menembus langit. Tak ada pengeras suara, tak perlu kata-kata indah, apalagi kalimat yang disusun agar mengundang decak kagum manusia. Cukup hati yang jujur, air mata yang jatuh, dan pengakuan bahwa kita hanyalah hamba yang membutuhkan pertolongan Allah.
Posisi Terdekat Seorang Hamba dengan Tuhannya
Rasulullah Muhammad SAW menegaskan posisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika sedang sujud. Karena itu, beliau menganjurkan umatnya untuk memperbanyak doa ketika sujud. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah bersabda, “Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang sujud. Maka perbanyaklah doa.”
Pesan ini sungguh dalam. Ketika manusia merasa paling rendah, justru saat itulah ia berada dalam posisi yang sangat dekat dengan Allah.
Dunia mengajarkan kita untuk meninggikan diri, memburu jabatan, mengumpulkan kekayaan, dan mengejar penghormatan. Namun, salat mengajarkan jalan yang berbeda: semakin dekat kepada Allah, semakin kita menyadari betapa kecil diri ini.
Subhana Rabbiyal A’la, Pengakuan Jiwa
Dalam sujud, kita mengucapkan, “Subhana Rabbiyal A’la.” Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi. Kalimat pendek ini mengandung pengakuan yang agung. Allah Mahasuci dan Mahatinggi, sedangkan kita adalah manusia yang penuh kekurangan. Kita mudah lupa, sering khilaf, terkadang sombong, bahkan tidak jarang merasa paling benar di hadapan sesama.
Maka sujud bukan sekadar gerakan tubuh. Ia adalah pengakuan jiwa. Kita mengakui kebesaran Allah sekaligus menyadari keterbatasan diri. Kita menyerahkan kesombongan, mengubur keangkuhan, dan memohon ampun atas dosa-dosa yang mungkin tidak diketahui orang lain, tetapi tidak pernah tersembunyi dari pengetahuan-Nya.
Ketika Dahi di Sajadah, tetapi Hati Masih di Dunia
Sayangnya, tidak semua sujud benar-benar menghadirkan hati. Dahi memang menyentuh sajadah, tetapi pikiran masih berkelana ke pasar, kantor, urusan keluarga, cicilan, dan berbagai persoalan dunia. Bacaan sujud meluncur dari lisan, sementara hati belum sepenuhnya hadir. Tubuh sedang menghadap Allah, tetapi pikiran masih sibuk menghadap dunia.
Padahal, boleh jadi di dalam sujud yang tenang tersimpan kesempatan untuk menumpahkan segala kegelisahan. Kita dapat memohon ampun, meminta kesehatan, mengharap rezeki yang halal, memohon ketenteraman keluarga, dan meminta kekuatan menghadapi ujian kehidupan. Bahkan ketika lidah tidak sanggup mengungkapkan semuanya, Allah mengetahui apa yang tersimpan di dalam dada.
Doa yang Dikabulkan dengan Cara-Nya
Allah berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Ghafir ayat 60, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” Ayat ini adalah undangan bagi setiap hamba untuk datang dan meminta. Tidak ada pintu yang terlalu kecil bagi Allah untuk mendengar doa, dan tidak ada persoalan yang terlalu besar bagi kekuasaan-Nya.
Namun, doa yang dikabulkan tidak selalu hadir persis seperti yang kita inginkan. Ada permohonan yang segera terwujud, ada yang harus menunggu, dan ada pula yang Allah ganti dengan sesuatu yang lebih baik. Karena itu, sujud bukanlah transaksi untuk memaksa Allah memenuhi keinginan kita. Sujud adalah bentuk penghambaan, tempat kita berharap sekaligus belajar mempercayakan hasil kepada kebijaksanaan-Nya.
Barangkali selama ini kita terlalu sering mencari pertolongan ke berbagai arah, tetapi kurang bersungguh-sungguh mengetuk pintu langit. Kita sibuk mencari tempat bercerita, padahal dalam sujud tersedia ruang untuk mengadu tanpa takut dihakimi. Kita khawatir manusia tidak memahami kesulitan kita, padahal Allah mengetahui kegelisahan bahkan sebelum air mata jatuh.
Memperpanjang Sujud dengan Menghadirkan Hati
Maka, mari memperpanjang sujud, bukan semata-mata dengan menambah waktu, melainkan juga dengan menghadirkan hati. Jangan terburu-buru bangkit ketika jiwa masih ingin mengadu. Mohonlah ampun atas masa lalu, mintalah kekuatan untuk hari ini, dan titipkanlah hari esok kepada Allah. Sebab, sujud yang baik semestinya tidak hanya mengubah posisi tubuh, tetapi juga memperbaiki arah kehidupan.
Pada akhirnya, kita akan memahami bahwa sujud bukan tanda kehinaan manusia. Justru di sanalah kehormatan seorang hamba menemukan maknanya. Dahi boleh menyentuh bumi, tetapi hati sedang menghadap Zat Yang Mahatinggi. Kita berbisik dalam sunyi, mengakui kelemahan diri, lalu bangkit membawa harapan baru.
Sujudlah dengan hati yang rendah, berdoalah dengan keyakinan, dan pulanglah dari sajadah dengan jiwa yang lebih lapang. Sebab, ketika dahi merendah di bumi, harapan tetap dapat terangkat ke langit.
Penulis: Suharyo AP, SH, pemerhati masalah sepele










