Siapa Orang Baik Itu? Ini Jawaban Nabi dan Makna Tobat

banner 2560316

TROBOS.CO | Siapa sebenarnya orang baik itu? Apakah orang yang rajin beribadah, panjang umurnya, tinggi ilmunya, atau orang yang tidak pernah melakukan dosa?

Pertanyaan sederhana ini mengajak kita bercermin. Sebab, terkadang kita begitu mudah menilai keburukan orang lain, tetapi lupa memeriksa kekurangan diri sendiri.

banner 300250

Dalam sebuah kisah yang populer dalam ceramah keagamaan, seorang Badui bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang siapa orang baik itu.

Nabi menjelaskan bahwa orang baik adalah orang yang panjang umurnya dan banyak amal baiknya. Umur yang panjang menjadi kesempatan untuk menanam lebih banyak kebaikan, menolong sesama, dan memperbaiki kekurangan diri.

Namun, bagaimana dengan orang yang umurnya pendek? Apakah ia kehilangan kesempatan menjadi orang baik? Tentu tidak. Dalam ajaran Islam, panjang umur bukan satu-satunya ukuran kebaikan. Yang lebih penting adalah bagaimana umur itu digunakan.

Ada orang yang hidup puluhan tahun, tetapi sedikit meninggalkan manfaat. Ada pula yang usianya tidak panjang, tetapi kebaikannya terus dikenang setelah ia meninggal dunia.

Persoalannya bukan sekadar berapa lama kita hidup, melainkan berapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan.

Sebab, umur adalah perjalanan, sedangkan amal adalah bekal. Tidak semua orang yang berjalan jauh sampai ke tujuan, dan tidak semua orang yang perjalanannya singkat pulang dengan tangan kosong.

Si Badui kemudian melanjutkan pertanyaannya. Bagaimana jika seseorang pernah berbuat dosa? Apakah ia masih bisa menjadi orang baik?

Pertanyaan ini terasa dekat dengan kehidupan kita. Bukankah tidak ada manusia yang selalu benar? Kita pernah salah dalam berbicara, keliru dalam bertindak, menyakiti perasaan orang lain, bahkan mungkin melakukan sesuatu yang kemudian kita sesali sepanjang hidup.

Islam tidak mengajarkan manusia untuk berputus asa karena dosa. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertobat.

Pesannya jelas: masa lalu yang kelam tidak harus menjadi masa depan yang gelap. Selalu ada jalan kembali bagi orang yang sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri.

Dosa memang beragam. Ada dosa kecil dan dosa besar. Ada kesalahan yang dilakukan sendirian, ada pula keburukan yang dilakukan bersama-sama.

Ada dosa yang hanya melibatkan hubungan manusia dengan Allah, ada juga kesalahan yang melukai hak dan perasaan sesama manusia.

Karena itu, pertobatan bukan sekadar mengucapkan istigfar, melainkan juga menyesali kesalahan, berhenti melakukannya, bertekad tidak mengulanginya, dan memperbaiki hak orang lain yang pernah kita langgar.

Masalahnya, dosa yang terus dipelihara dapat membuat hati semakin keras. Ketika hati mengeras, seseorang mudah mencari pembenaran atas kesalahannya sendiri.

Ia sulit menerima nasihat, berat meminta maaf, dan merasa harga dirinya jatuh hanya karena harus mengakui kekeliruan. Bahkan, ketika orang lain berbuat buruk kepadanya, ia merasa berhak membalas dengan keburukan yang lebih besar.

Di sinilah kita perlu berhati-hati. Jangan sampai kesalahan orang lain menjadi alasan bagi kita untuk ikut melakukan kesalahan. Jangan sampai luka yang kita terima justru membuat kita gemar melukai.

Membalas keburukan dengan keburukan mungkin memuaskan emosi sesaat, tetapi belum tentu menyelesaikan persoalan.

Kadang-kadang, kemenangan terbesar justru terjadi ketika kita mampu menahan diri dari perbuatan yang sebenarnya sanggup kita lakukan.

Orang baik bukanlah orang yang tidak pernah salah. Orang baik adalah orang yang tidak betah berlama-lama tinggal dalam kesalahannya.

Ketika tergelincir, ia berusaha bangkit. Ketika menyakiti, ia berani meminta maaf. Ketika menerima nasihat, ia bersedia mendengarkan. Dan ketika menyadari dirinya keliru, ia tidak sibuk mencari kambing hitam untuk menyelamatkan muka.

Tentu, bertobat tidak cukup hanya dengan merasa bersalah. Jika kesalahan kita merugikan orang lain, kita perlu berusaha memperbaikinya.

Jika pernah memfitnah, kita harus meluruskan fitnah itu. Jika pernah mengambil hak orang lain, kita harus mengembalikannya. Jika pernah menyakiti hati seseorang, kita perlu meminta maaf dengan tulus.

Sebab, kesungguhan bertobat semestinya terlihat dalam perubahan perilaku, bukan hanya terdengar dalam ucapan.

Maka, sebelum sibuk menilai siapa orang baik dan siapa orang buruk, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita menjadi lebih baik daripada kemarin?

Sudahkah kita meminta maaf atas kesalahan yang kita lakukan? Sudahkah kita memaafkan orang yang pernah menyakiti kita? Dan sudahkah keberadaan kita membawa manfaat bagi orang-orang di sekitar kita?

Pada akhirnya, menjadi orang baik bukan perlombaan untuk terlihat paling suci. Ini adalah perjalanan panjang untuk terus memperbaiki diri. Jangan merasa paling benar hanya karena belum melihat kesalahan orang lain pada diri sendiri.

Jangan pula merasa tidak punya harapan hanya karena masa lalu kita dipenuhi kekeliruan. Selama Allah masih memberi kesempatan hidup, pintu pertobatan tetap terbuka bagi siapa saja yang sungguh-sungguh kembali kepada-Nya.
Umur panjang adalah kesempatan, amal baik adalah bekal, dan pertobatan adalah jalan pulang. Jangan habiskan umur untuk membanggakan kebaikan sendiri atau menghitung dosa orang lain. Gunakanlah waktu yang tersisa untuk memperbanyak amal, memperbaiki kesalahan, dan menjadi manusia yang kehadirannya membawa kebaikan.

Suharyo, pemerhati masalah sepele

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *