TROBOS.CO | Kematian adalah kata yang sering membuat manusia bergidik. Tidak ada yang benar-benar ingin membicarakannya, apalagi membayangkan kapan waktunya tiba.
Padahal, kematian adalah pintu yang pasti dilalui setiap manusia. Ketika waktunya datang, tidak ada yang mampu menunda, apalagi mengelak.
Yang menjadi persoalan bukanlah apakah kita akan mati. Itu sudah pasti. Pertanyaannya, bagaimana kita akan mati? Sebab kematian bukan sekadar berakhirnya napas. Ia adalah perjalanan meninggalkan dunia menuju kehidupan yang jauh lebih panjang (alam barzah).
Kepulangan Jiwa yang Tenang
Ada kematian yang terasa seperti ruh dicabut. Ada pula kematian yang dirasakan sebagai ruh yang dijemput dengan penuh ketenangan. Bagi orang beriman, tentu bukan sekadar kematian yang diharapkan, melainkan kematian yang membawa dirinya pulang kepada Allah dalam keadaan diridhai.
Al-Qur’an menggambarkan indahnya kepulangan itu. “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30).
Betapa indah sebuah kepulangan. Seperti seorang musafir yang telah lama berjalan, kemudian melihat rumahnya dari kejauhan. Tidak ada lagi kegelisahan. Tidak ada lagi beban perjalanan. Yang ada hanyalah ketenangan karena tahu ke mana harus pulang.
Husnul Khatimah dan Tanda-Tandanya
Inilah yang sering disebut husnul khatimah, akhir kehidupan yang baik. Sebaliknya, akhir kehidupan yang buruk disebut su’ul khatimah. Karena itu, orang beriman tidak hanya berdoa agar panjang umur. Lebih dari itu, ia memohon agar umur yang panjang berujung pada akhir yang baik.
Sebagian tanda husnul khatimah disebutkan dalam hadits, seperti seseorang meninggal dalam keadaan mengucapkan kalimat tauhid, meninggal dengan dahi berkeringat, atau memperoleh kematian pada keadaan dan waktu tertentu yang memiliki keutamaan dalam syariat. Ada pula hadits yang menyebut keutamaan meninggal pada hari Jumat. Namun tanda-tanda itu bukanlah ukuran mutlak untuk menghakimi nasib seseorang. Hanya Allah yang mengetahui keadaan hamba-Nya.
Karena itu, senyum di wajah orang yang wafat sering membuat keluarga yang ditinggalkan merasa tenteram. Bisa jadi itu menjadi tanda kebaikan, tetapi kita tidak boleh memastikan bahwa seseorang pasti masuk surga hanya berdasarkan tanda lahiriah. Surga adalah rahmat dan keputusan Allah.
Menyiapkan Rumah yang Akan Ditempati Selamanya
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita mempersiapkan kepulangan. Jangan sampai kita sibuk menghias rumah yang akan ditinggalkan, tetapi lupa menyiapkan rumah yang akan kita tempati selamanya.
Kematian sesungguhnya bukan sesuatu yang harus ditakuti secara berlebihan. Yang perlu ditakuti adalah pulang kepada Allah dengan membawa dosa, hati yang keras, dan amal yang terlalu sedikit. Sebab kematian hanyalah pintu. Yang menentukan kebahagiaan kita adalah apa yang ada di balik pintu itu.
Setiap Pagi, Kesempatan Memperbaiki Akhir Cerita
Maka setiap pagi ketika masih diberi kesempatan membuka mata, sesungguhnya Allah sedang memberi kita kesempatan memperbaiki akhir cerita. Meminta maaf, bersedekah, memperbaiki salat, menolong sesama, meninggalkan maksiat, dan memperbanyak amal saleh adalah cara kita menyiapkan kepulangan.
Pada akhirnya, kita semua akan sampai pada hari ketika nama kita tidak lagi dipanggil untuk bekerja, berdagang, bercanda, atau menikmati dunia. Kita akan dipanggil untuk pulang.
Semoga ketika panggilan itu datang, kita tidak pulang sebagai orang yang takut karena merasa belum siap. Semoga kita pulang sebagai hamba yang tenang, dengan hati yang ridha dan diridhai.
Sebab kematian yang paling indah bukanlah kematian yang datang ketika kita telah memiliki segala sesuatu. Tetapi kematian yang datang ketika Allah telah ridha kepada kita.
Suharyo, pemerhati masalah sepele










