Ketika Hasil Mengkhianati Proses: Antara Ikhtiar dan Tawakal

banner 2560316

TROBOS.CO | Ada kalimat motivasi yang sangat populer: “Hasil tidak akan mengkhianati proses.” Kalimat ini termasuk viral karena sering berseliweran di dinding kamar, dijadikan status WhatsApp, atau ditulis dengan latar matahari terbenam di media sosial.

Kalimat ini memberi semangat kepada orang-orang yang sedang berjuang. Seolah-olah selama seseorang sudah bekerja keras, begadang, berdoa, dan menjalankan semua tahapan dengan benar, maka hasil yang baik tinggal menunggu waktu dan sesuai dengan ekspektasi. Masalahnya, kehidupan sering kali tidak sebaik desain poster motivasi.

banner 300250

Ketika Kerja Keras Tak Berbuah Seperti Harapan

Ada orang yang akan mengikuti ujian. Berbagai persiapan dilakukan, belajar semalaman secara mati-matian, istiqamah, dan berdoa tanpa putus sampai hari H-nya. Tapi apa hendak dikata, nilai ujian tidak sesuai harapan. Ada orang yang sudah membangun usaha bertahun-tahun, tetapi bisnisnya tetap berjalan terseok-seok. Ada orang yang sudah berusaha menjadi manusia baik, tetapi tetap saja mendapat masalah.

Lalu muncul pertanyaan yang agak mengganggu: benarkah hasil selalu mengikuti proses? Atau jangan-jangan selama ini kita terlalu percaya diri kepada proses, sampai lupa bahwa manusia hanya bisa berusaha, bukan menentukan seluruh hasil?

Dua Mahasiswa Doktoral dan Dua Kejutan

Ada kisah nyata dua mahasiswa yang sama-sama mengikuti pendidikan S3 atau program doktor, dan sedang berjuang menyelesaikan disertasi. Satu sedang bersiap ujian proposal disertasi, sedangkan satunya berjuang mengikuti tahapan ujian tertutup dan membutuhkan tanda tangan empat penguji.

Teman yang bersiap ujian proposal merupakan sosok yang penuh semangat. Setiap masukan dan saran promotor serta co-promotor dicatat, diperbaiki, lalu dikerjakan. Tentu saja ini menjadi modal keyakinan dan percaya diri menghadapi ujian tersebut.

Singkat cerita, tibalah waktu ujian proposal. Ia datang dengan persiapan matang. Dalam pikirannya mungkin ada keyakinan sederhana: “Saya sudah mengikuti semua arahan, pasti hasilnya juga sesuai harapan.” Namun, setelah ujian selesai, ia keluar ruangan dengan wajah yang tidak seperti orang baru mendapatkan kabar baik. Bukan karena gagal, tetapi karena revisinya cukup banyak.

Ia kemudian berkata dengan nada kecewa, kira-kira begini: bukankah hasil tidak mengingkari proses? Mengapa proses panjang yang sudah dilakukan justru menghasilkan revisi sebanyak itu?

Di tempat lain, ada mahasiswa doktoral yang sedang membutuhkan tanda tangan beberapa penguji untuk melanjutkan tahap ujian tertutup disertasi. Ia sudah mengirim pesan, tetapi beberapa penguji belum merespons. Ia mulai pesimis. Dalam pikirannya, urusan tanda tangan ini akan menjadi perjalanan panjang: datang ke kampus, menunggu dosen, pulang, lalu datang lagi.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ketika datang ke kampus, satu per satu penguji yang sebelumnya sulit dihubungi tiba-tiba muncul. Tanda tangan yang diperkirakan menjadi masalah panjang justru selesai dalam waktu singkat. Ia pun hanya bisa mengucapkan, “Alhamdulillah.”

Hidup Bukan Mesin Fotokopi

Dua kisah nyata tersebut seperti sedang menertawakan keyakinan manusia yang terlalu rapi membuat perhitungan. Kita sering mengira kehidupan berjalan seperti mesin fotokopi. Masukkan proses yang bagus, keluar hasil yang bagus. Masukkan kerja keras, ikhtiar, dan berdoa, kemudian keluar kesuksesan.

Padahal hidup bukan mesin otomatis. Ada banyak hal yang tidak berada dalam kendali manusia. Ada waktu yang belum tepat. Ada keadaan yang tidak kita ketahui. Ada pintu yang tertutup bukan karena kita tidak pantas masuk, tetapi mungkin karena ada jalan lain yang sedang disiapkan.

Ini jarang disadari dengan sepenuh hati oleh makhluk terbaik di bumi ini. Banyak yang lebih mengedepankan logika dan rasionalitas, sementara dalam hidup ada hal-hal yang tidak bisa dirasionalkan atau dilogikakan. Perjalanan hidup tidak selalu kalkulasi alias penuh kepastian laksana satu ditambah satu sama dengan dua.

Ikhtiar dan Tawakal, Dua Hal yang Tak Boleh Dipisah

Dalam konteks yang lebih dalam, yaitu sisi spiritual, manusia mengenal istilah ikhtiar dan tawakal. Ikhtiar mengajarkan manusia untuk bergerak, berusaha, dan tidak menyerah. Tetapi tawakal mengingatkan bahwa manusia bukan pemilik mutlak hasil akhir.

Masalahnya, manusia sering lebih mudah melakukan ikhtiar daripada tawakal. Kita rajin bekerja, tetapi sulit menerima ketika hasil yang diperoleh berbeda. Kita berusaha maksimal, tetapi kecewa ketika kenyataan tidak mengikuti rencana. Seolah-olah setelah melakukan usaha, sang Kholiq memiliki ‘kewajiban’ memberikan hasil sesuai daftar permintaan sang makhluq.

Padahal mungkin bukan begitu cara kerja kehidupan. Bisa jadi proses panjang bukan hanya untuk menghasilkan sesuatu, namun merupakan jalan untuk mengubah seseorang. Orang yang mengalami kegagalan belajar kesabaran. Orang yang mengalami penundaan belajar keteguhan. Orang yang menghadapi ketidakpastian belajar bahwa dirinya bukan pusat dari seluruh kejadian.

Kadang manusia terlalu sibuk mengejar hasil sampai lupa bahwa ada proses sedang mendidiknya.

Pohon Besar Tak Tumbuh dalam Semalam

Sebuah pohon tidak tumbuh besar dalam satu malam. Tetapi manusia sering ingin menjadi “pohon besar” setelah beberapa kali menyiram dirinya sendiri. Tidak semua melalui cara instan, cukup membaca buku satu minggu lalu berharap menjadi ahli. Cukup membuka usaha beberapa bulan lalu berharap langsung sukses. Atau berbuat baik lalu berharap langsung mendapat balasan.

Ada kalanya manusia lupa bahwa sang Kholiq mempunyai pertimbangan tersendiri dalam menentukan jalan hidup manusia. Ada pertimbangan-pertimbangan yang tidak harus makhluk tahu ketika sang Kholiq berkehendak.

Namun, bukan berarti manusia boleh bermalas-malasan. Pasrah tanpa usaha bukan tawakal, ini sama dengan menyerah sebelum bertanding. Yang perlu diperbaiki bukan semangat berusaha, melainkan keyakinan bahwa ada yang menjadi ranah manusia dan ada yang memang mutlak dan prerogatif sang Kholiq.

Ruang untuk Kejutan dari Sang Kholiq

Bekerja keras itu wajib, tetapi kemudian merasa paling tahu tentang hasilnya harus dibuang jauh-jauh. Mungkin inilah alasan mengapa manusia membutuhkan kerendahan hati. Ada kalanya keberhasilan bukan hanya hasil dari kemampuan kita, tetapi juga karena ada banyak hal yang diam-diam membantu kita: doa orang lain, kesempatan yang datang tiba-tiba, orang baik yang kita temui, dan tentu saja kehendak Sang Kholiq.

Pada akhirnya, kalimat “hasil tidak mengingkari proses” perlu dibaca dengan lebih dewasa. Bukan berarti setiap proses panjang pasti menghasilkan apa yang kita inginkan. Tidak harus berarti setiap kerja keras pasti dibayar sesuai harapan. Tetapi setiap proses selalu meninggalkan poin positif yang perlu disikapi dengan bijak, yaitu pengalaman, pelajaran, ketahanan, dan kedewasaan.

Manusia boleh menyusun rencana setebal apa pun. Halal membuat target, jadwal, strategi, dan prediksi. Tetapi jangan kesampingkan menyediakan ruang untuk kejutan dari Sang Kholiq. Manusia bertugas menjalani proses, bukan mengatur seluruh hasil. Adagium “Jangan hanya menggunakan jalur darat dan laut, tapi juga jalur langit” patut menjadi pertimbangan dalam setiap proses.

Barangkali masalah terbesar bukan karena hasil sering mengkhianati proses, tetapi karena kita terlalu yakin dan over confident bahwa hasil harus selalu mengikuti perhitungan kita. Bisa jadi Sang Kholiq sedang mengajarkan satu hal sederhana: berusaha sebaik mungkin, tetapi jangan pernah merasa paling tahu tentang bagaimana akhir sebuah cerita.

“Di dunia ini tidak ada yang pasti, hanya ada satu kepastian, yaitu ketidakpastian itu sendiri.”

Zainul Hidayat

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *