TROBOS.CO | Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ
“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan kepada mereka…” (QS. Al-Hadid: 16)
Ayat ini bukan sekadar teguran kepada orang lain. Ia adalah panggilan lembut sekaligus peringatan keras untuk diri kita sendiri: sudahkah hati kita benar-benar tunduk kepada Allah?
Kita telah lama mengenal Islam. Kita telah mendengar Al-Qur’an berkali-kali. Nasihat tentang kematian, akhirat, dosa, pahala, surga, dan neraka pun bukan sesuatu yang asing lagi di telinga kita. Namun, mengapa begitu banyak nasihat yang masuk ke telinga tetapi tidak sampai menggetarkan hati?
Mungkin bukan karena kita tidak tahu. Mungkin hati kita yang mulai terbiasa.
Kita terbiasa mendengar ayat, tetapi tidak menangis. Terbiasa mendengar azan, tetapi masih menunda shalat. Terbiasa membaca Al-Qur’an, tetapi tidak berusaha mengamalkannya. Terbiasa mengetahui dosa, tetapi masih mengulanginya berkali-kali. Bahkan terkadang kita lebih cepat tersentuh oleh berita dunia daripada peringatan dari Allah sendiri.
Allah mengingatkan agar kita jangan seperti umat terdahulu yang telah menerima kitab. Mereka melewati masa yang panjang, hingga akhirnya hati mereka menjadi keras.
Hati yang keras adalah ketika kemaksiatan tidak lagi membuat kita gelisah. Ketika dosa terasa biasa saja. Ketika meninggalkan kebaikan tidak lagi membuat kita menyesal. Ketika nasihat dianggap sebagai gangguan, sementara pujian justru menjadi sesuatu yang kita sukai dan cari-cari.
Padahal, hidup ini terus berjalan menuju satu kepastian yang tak bisa dihindari siapa pun: kematian.
Maka jangan menunggu tua untuk berubah. Jangan menunggu sakit untuk mendekat kepada Allah. Jangan menunggu kehilangan untuk belajar bersyukur. Jangan pula menunggu musibah datang baru kita belajar kembali bersujud.
Belum tibakah waktunya kita kembali? Kembali kepada Al-Qur’an, kembali kepada shalat, kembali kepada dzikir, kembali kepada taubat, dan kembali menjadi hamba yang rendah hati di hadapan Allah.
Jika hari ini hati kita masih bisa tersentuh oleh ayat ini, bersyukurlah. Itu tanda bahwa pintu untuk kembali masih terbuka lebar. Jangan biarkan hati menjadi keras hanya karena terlalu lama menunda-nunda.
Ya Allah, lembutkan hati kami. Hidupkan hati kami dengan mengingat-Mu. Jadikan Al-Qur’an cahaya dalam kehidupan kami, dan tuntunlah kami untuk senantiasa tunduk kepada kebenaran-Mu.
Belum tibakah waktunya? Mungkin jawabannya: sekaranglah waktunya.
Fathur Rohman










