Senin yang Mengubah Dunia: Antara Maulid, Ikhtilaf, dan Cinta kepada Nabi

banner 2560316

TROBOS.CO | Ada satu hari yang mengubah sejarah manusia: Senin. Pada hari itulah Rasulullah Muhammad dilahirkan. Pada hari yang sama pula, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih, beliau menerima wahyu pertama. Dan pada Senin pula, 63 tahun kemudian, Rasulullah meninggalkan dunia.

Namun ada sesuatu yang sering luput dari perhatian kita: hari Senin memiliki dasar yang kuat, tetapi tanggalnya tidak sesederhana yang sering kita kira.

banner 300250

Para ahli sirah berbeda pendapat mengenai tanggal kelahiran Rasulullah. Tanggal 12 Rabiulawal memang sangat masyhur, tetapi bukan satu-satunya pendapat yang berkembang di kalangan ulama. Demikian pula tanggal wafat beliau, hingga kini masih menjadi wilayah perbedaan di antara para sejarawan Islam.

Di sinilah kita belajar satu prinsip penting: kemasyhuran tidak selalu berarti kepastian. Justru di titik inilah epistemologi Qurani menuntut kita untuk jujur terhadap ilmu, membedakan antara yang pasti, yang kuat, yang masyhur, dan yang masih diperselisihkan.

Persoalan belum selesai sampai di situ. Ketika berbicara tentang peringatan Maulid, kita memasuki wilayah yang berbeda: wilayah fiqh dan ijtihad. Sebagian ulama membolehkannya karena di dalamnya terdapat pembacaan sirah, shalawat, sedekah, dan ungkapan kecintaan kepada Rasulullah. Sebagian ulama lainnya tidak membolehkannya karena Rasulullah, para sahabat, dan generasi awal tidak menjadikannya sebagai perayaan keagamaan khusus.

Di sinilah umat sering terjebak. Perbedaan pendapat yang seharusnya menjadi ruang ilmu justru berubah menjadi arena saling menuduh. Yang merayakan dituduh tidak mengikuti sunnah. Yang tidak merayakan dituduh tidak mencintai Rasulullah. Benarkah sesederhana itu? Tidak.

Seseorang yang merayakan Maulid tidak otomatis lebih mencintai Nabi daripada orang yang tidak merayakannya. Begitu pula sebaliknya, seseorang yang tidak merayakan Maulid tidak otomatis lebih mencintai Nabi daripada orang yang merayakannya. Sebab cinta kepada Rasulullah bukan monopoli sebuah kelompok. Yang berbeda hanyalah cara memahami bagaimana cinta itu diwujudkan.

Maka jangan jadikan persoalan khilafiyah sebagai alat untuk mengukur iman seseorang. Kita boleh berbeda dalam pilihan hukum, boleh berbeda dalam metode, boleh mengatakan “menurut pendapat yang saya ikuti, ini lebih kuat.” Tetapi jangan mudah mengatakan bahwa perbedaan pendapat berarti seseorang tidak mencintai Rasulullah ﷺ. Itu bukan lagi perdebatan ilmiah, melainkan penghakiman terhadap hati manusia, padahal yang mengetahui isi hati hanyalah Allah.

Pertanyaan yang lebih penting sebenarnya bukan “tanggal berapa Rasulullah lahir” atau “apakah engkau merayakan Maulid atau tidak”. Pertanyaan yang jauh lebih serius adalah, apa yang lahir dalam diri kita setelah mengenal Rasulullah.

Sebab Rasulullah tidak datang hanya untuk dikenang, beliau datang untuk diteladani. Jika Maulid membuat kita mengenal sirah, memperbanyak shalawat, memperbaiki akhlak, memperkuat sedekah dan kecintaan kepada Rasulullah, maka nilai-nilai itu jangan berhenti di podium dan mimbar. Dan jika seseorang memilih tidak memperingatinya karena mengikuti pendapat ulama yang melarang, maka jangan pula pilihan itu dijadikan alasan untuk mencela saudara yang berbeda pandangan.

Sebab ukuran kecintaan kepada Rasulullah bukan sekadar apa yang kita lakukan pada bulan Rabiulawal. Ukuran cinta itu terlihat sepanjang hidup, apakah kita jujur seperti beliau, amanah seperti beliau, adil seperti beliau, penuh kasih sayang kepada sesama seperti beliau, dan tunduk kepada Allah sebagaimana beliau tunduk.

Ironis jika umat begitu keras memperdebatkan cara mencintai Rasulullah, tetapi akhlak Rasulullah justru hilang dari cara kita berdebat. Kita membela Nabi dengan mencaci saudara Nabi. Kita membela sunnah dengan kehilangan adab sunnah itu sendiri. Kita berbicara tentang cinta kepada Rasulullah sambil memutus ukhuwah dengan sesama Muslim. Di mana letak keteladanan itu sesungguhnya?

Rasulullah memang harus dicintai, tetapi cinta kepada beliau tidak boleh membuat kita kehilangan ilmu. Dan ilmu tentang beliau pun tidak boleh membuat kita kehilangan kasih sayang kepada umatnya. Inilah kedewasaan epistemologis yang semestinya kita miliki, tegas pada prinsip, tetapi santun dalam perbedaan. Yang qath’i kita pegang bersama, yang zhanni kita diskusikan dengan ilmu, yang khilafiyah kita hadapi dengan adab, dan hati manusia kita serahkan sepenuhnya kepada Allah.

Rasulullah lahir pada Senin. Beliau menerima wahyu, mengubah manusia, membangun peradaban. Kemudian pada Senin pula beliau wafat. Namun wafatnya Rasulullah tidak berarti wafatnya risalah. Justru sejak saat itu, pertanyaan besar beralih kepada kita: apa yang akan kita lakukan dengan warisan kenabian itu?

Karena itu, mungkin Maulid yang paling penting bukanlah sekadar peringatan tentang kelahiran Rasulullah, melainkan kelahiran kembali nilai-nilai Rasulullah dalam kehidupan kita. Bukan hanya suara shalawat yang menggema, tetapi kejujuran yang hidup. Bukan hanya kisah Nabi yang dibacakan, tetapi akhlaknya yang dipraktikkan. Bukan hanya kecintaan yang diucapkan, tetapi sunnah yang diperjuangkan.

Sebab tanggal kelahiran beliau masih diperselisihkan, tanggal wafat beliau juga masih diperselisihkan. Tetapi tidak boleh ada perselisihan di hati kita tentang siapa Muhammad. Beliau adalah Rasulullah, dan kita semua, yang merayakan maupun yang tidak merayakan Maulid, adalah umat Muhammad.

Maka jangan biarkan perbedaan dalam cara mencintai Nabi membuat kita kehilangan persaudaraan sebagai umat Nabi. Sebab Rasulullah telah wafat, tetapi risalahnya belum selesai. Dan barangkali pertanyaan paling tajam untuk kita bukanlah “apakah engkau merayakan Maulid?”, melainkan: jika Rasulullah melihat kehidupanmu hari ini, adakah sesuatu dari dirimu yang membuat beliau mengenali bahwa engkau benar-benar umatnya?

Cak Muhid

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *