Rahasia Sunah Nabi soal Makan yang Kini Dibedah Sains

banner 2560316

TROBOS.CO | Jauh sebelum ilmu gizi modern lahir, umat Islam sudah punya panduan makan dari Nabi Muhammad SAW. Bukan sekadar anjuran spiritual, aturan itu kini justru mendapat pembenaran dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, mulai dari gastroenterologi hingga neurosains.

Semua berawal dari dua hadis yang sudah akrab di telinga umat Islam. Pertama, tentang kebiasaan makan sebelum benar-benar lapar dan berhenti sebelum kenyang. Kedua, konsep membagi lambung menjadi tiga bagian: sepertiga makanan, sepertiga air, sepertiga ruang untuk udara.

banner 300250

Ayat suci pun menegaskan hal serupa. “Makanlah dan minumlah, dan jangan berlebihan,” demikian bunyi QS Al-A’raf ayat 31. Sebuah pesan sederhana yang, jika ditelusuri lebih jauh, ternyata berlapis makna.

Dari sisi ilmu pencernaan, lambung sebenarnya adalah mesin pencampur mekanis. Dindingnya yang tebal memproses makanan padat bersama asam lambung dan enzim pepsin hingga menjadi bubur halus siap dicerna.

Di sinilah konsep sepertiga ruang udara menemukan penjelasannya. Ruang kosong itu dibutuhkan untuk gerakan pencampuran. Begitu lambung penuh sesak oleh makanan, asam lambung justru terdorong naik ke kerongkongan dan memicu sensasi terbakar yang lazim dikenal sebagai gerd.

Sementara sepertiga air berperan sebagai media hidrolisis, membantu tekstur makanan agar lebih mudah dialirkan ke usus halus. Sebuah keseimbangan yang, menurut kajian ini, sudah diisyaratkan lebih dari seribu tahun lalu.

Aspek berhenti makan sebelum kenyang pun punya penjelasan di ranah neuroendokrinologi, ilmu yang mempelajari hormon. Saat makan, lambung sebenarnya sudah melepaskan hormon kenyang lebih dulu, sebelum sinyal kimiawi itu benar-benar sampai ke otak.

Artinya, rasa kenyang yang kita rasakan sering kali muncul setelah perut sudah melampaui kapasitas ideal. Jeda waktu inilah yang membuat kebiasaan berhenti sebelum benar-benar kenyang menjadi relevan secara fisiologis.

Dampaknya pun merembet ke mikrobiom usus. Makan berlebihan berisiko membuat makanan tak tercerna sempurna, memicu fermentasi oleh bakteri “jahat” yang menghasilkan kembung sekaligus endotoksin pemicu peradangan.

Di luar mekanisme tubuh, konsep halal dan thayib menyoroti sisi lain dari pola makan. Halal menyangkut hukum dan asal-usul makanan, apakah diperoleh dengan cara yang bersih atau justru dari jalan yang dilarang, seperti mencuri dan korupsi.

QS An-Nur ayat 24 bahkan mengingatkan bahwa kelak lidah, tangan, dan kaki akan menjadi saksi atas apa yang pernah dikerjakan. Sementara thayib menitikberatkan pada kualitas dan kesehatan, makanan yang bergizi, bersih, dan tidak membahayakan tubuh.

Ketika kedua unsur itu terpenuhi dan makan dilakukan tanpa berlebihan, gerak peristaltis lambung disebut menjadi lebih lancar. Lonjakan gula darah dan insulin pun lebih terkendali, sehingga pikiran tetap jernih dan emosi lebih stabil.

Nabi SAW sendiri disebut mencontohkan pola makan seimbang dengan sayur dan buah, serta kebiasaan mengunyah secara perlahan, sebuah kebiasaan yang diyakini turut meringankan kerja usus dan otak.

Kajian ini turut menyinggung sejumlah teori seperti kaitan makanan dengan gelombang energi tubuh dan fotografi Kirlian, yang meyakini setiap sel makhluk hidup memancarkan partikel cahaya bernama biofoton. Namun perlu digarisbawahi, teori-teori semacam ini belum menjadi konsensus ilmiah dan masih berada di ranah yang diperdebatkan kalangan sains arus utama.

Begitu pula klaim bahwa niat dan ucapan basmalah dapat mengubah struktur gelombang makanan secara kuantum. Perspektif ini lebih tepat dibaca sebagai renungan filosofis-spiritual, bukan sebagai fakta ilmiah yang telah terbukti secara empiris.

Terlepas dari perdebatan itu, semangat dasarnya tetap relevan. Ajaran Nabi tentang makan bukan sekadar soal mengisi perut, melainkan bagaimana pola makan yang disiplin dan penuh kesadaran bisa membentuk tubuh dan pikiran yang lebih sehat.

Barangkali itulah pelajaran yang sesungguhnya ingin disampaikan lebih dari seribu tahun lalu, jauh sebelum laboratorium dan jurnal ilmiah modern ada: bahwa kesederhanaan dalam makan adalah jalan menuju keseimbangan hidup, baik secara fisik maupun spiritual.

Tim Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *