TROBOS.CO | Usai Rakornas Baznas ditutup Kamis (15/10/2026) petang, banyak peserta langsung pulang ke daerah masing-masing. Namun tak sedikit yang memilih bermalam di ibu kota. Keesokan harinya, Jumat (16/10/2026), mereka salat Jumat di Masjid Istiqlal, lalu berkeliling menikmati suasana Jakarta, dari Tugu Monas hingga Hotel Indonesia.
Rombongan pengurus Baznas Lumajang juga bersiap pulang. Karena kereta api Pandalungan berangkat pukul 20.30, pimpinan Baznas Lumajang menunaikan salat Jumat lebih dulu di Istiqlal.
Kajian, Qiroah, lalu Khutbah Tanpa Teks
Di masjid terbesar di Indonesia yang dibangun sejak era Bung Karno itu, khutbah Jumat ternyata didahului kajian Islam. Tema Jumat itu adalah Urgensi Nasab dalam Pandangan Islam terkait Waris. Setelah kajian selesai, salat belum langsung dimulai. Jemaah lebih dulu menyimak qiroah Surah Ali Imran ayat 43-45.
Atas takdir Allah, khatib hari itu adalah KH Abdullah Gymnastiar, Pembina Pesantren Darut Tauhid, yang akrab disapa Aa Gym. Dalam khutbahnya yang disampaikan tanpa teks, ia mengangkat tema Menjaga Diri dan Keluarga dari Fitnah Akhir Zaman.
“Sekarang kita berada pada zaman informasi. Di era ini banyak fitnah. Tapi tidak perlu khawatir, sebab kehidupan ini berada dalam genggaman Allah,” jelasnya.
Sukses yang Sebenarnya
Menurut Aa Gym, banyak orang keliru memaknai sukses. Ukurannya sering berhenti pada banyaknya materi, tingginya jabatan, luasnya ilmu, dan ketenaran.
Ia mengingatkan, sukses yang benar adalah dijauhkan dari neraka. Untuk apa terkenal dan berjabatan tinggi jika kelak harus berakhir di neraka? Dalam hidup, katanya, yang terpenting adalah jangan menjadi orang yang lemah jiwanya, sebab jiwa yang lemah pasti kalah oleh nafsu.
Enam Kiat Menjadi Orang Sukses
Aa Gym lalu menguraikan hal-hal yang harus dimiliki agar seseorang sukses di tengah kehidupan yang penuh fitnah. Pertama, memperbanyak amal saleh, karena dengan bekal itu hidup menjadi tenang. Siapa yang ingin sukses wajib belajar agama. “Kenal Allah, tidak silau dengan dunia,” ujarnya.
Kedua, menyempurnakan salat. Orang yang salat dekat dengan Allah, dan posisi paling dekat dengan-Nya adalah saat sujud. “Perbanyaklah berdoa,” tegasnya.
Ketiga, membiasakan sedekah dan membayar zakat. Orang yang berinfak dicintai Allah, sebagaimana disebut dalam Surah Ali Imran, dan hatinya menjadi lapang. Keempat, memperbanyak membaca Al-Qur’an. Orang yang rajin membacanya pasti berbeda, sebab Al-Qur’an adalah syifa, obat bagi jiwa.
Kelima, menjaga pergaulan. Salah memilih teman itu berbahaya, dan jangan sampai terjebak pada penampilan luarnya saja. Keenam, berhati-hati terhadap yang haram, baik makanan, pakaian, maupun rumah. Orang yang terjebak pada hal haram, katanya, tidak akan pernah benar-benar bahagia.
Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, sebuah khutbah tanpa teks mengingatkan bahwa ukuran sukses bukan seberapa terkenal kita, melainkan ke mana kita pulang kelak.
Suharyo AP, pemerhati masalah sepele










