NKRI dan Prabowo: Kapal Bersama Menuju Negara Adil Makmur

banner 2560316

TROBOS.CO | Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah sebuah inovasi kelembagaan karya para ulama dan cendekiawan, our founding parents of the best minds and souls. Rancangannya dirumuskan dalam UUD 1945 sebagai deklarasi perang melawan penjajahan dalam segala bentuknya, sekaligus strategi untuk memenangkan perang itu. Begitulah suasana kebatinan para pendiri bangsa kala itu.

NKRI sebagai Kapal Bersama

NKRI dirancang sebagai kapal bersama bangsa Indonesia yang bhinneka tunggal ika, berlayar menuju pelabuhan negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Papan permainan (game board) UUD 1945 menjunjung tinggi ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Dengan papan itu, gotong royong dirayakan, bukan saling sikut, sikat, dan tendang seperti yang menurut penulis terjadi sejak UUD 2002 berlaku.

banner 300250

Dalam rancangan yang menurut penulis disusun kaum sekuler kiri dan liberal radikal itu, pengkhianatan dan korupsi menjadi pilihan sikap yang paling rasional.

Akar Oligarki sejak Zaman VOC

Penulis menggambarkan Nusantara di bawah kerajaan dan kesultanan Islam, sebelum kedatangan VOC, sebagai kawasan yang damai dan makmur. Menurutnya, VOC datang bukan hanya untuk berdagang rempah-rempah, tetapi juga membawa kristenisasi dan kemudian penjajahan. Perang Jawa 1825-1830 yang dipimpin Pangeran Diponegoro ia sebut sebagai bukti paling otentik perlawanan terhadap penjajah, yang dihadapi dengan strategi utama devide et impera. Pasukan Diponegoro, tulisnya, memposisikan diri sebagai bagian dari kekhalifahan Turki Usmani, dan perang itu menguras keuangan pemerintah kolonial Belanda.

Salah satu inovasi Belanda sebagai kampiun kapitalisme adalah pasar saham pertama di dunia. Sebagai kongsi dagang, VOC dinilai berhasil menebar bibit awal oligarki, yakni komplotan politisi busuk, pemilik modal, dan birokrat korup, baik di dalam negeri maupun di Belanda. Istilah londo ireng, kata penulis, sudah ada sejak dulu untuk menyebut mereka yang berkomplot dengan londo tulen. Nusantara pun terpapar penyakit Belanda sejak hasil perkebunan mentah Indonesia dibawa ke Eropa.

Paradoks Indonesia dan Motif Prabowo

Penyakit Belanda itu, menurut penulis, dipelihara hingga zaman reformasi. Itulah yang oleh Prabowo disebut paradoks Indonesia: rakyat miskin hidup di negeri yang kaya raya. Paradoks ini, tulisnya, menjadi motif utama Prabowo sejak memutuskan menjadi tentara hingga hari ini. Bagi Prabowo, sejak UUD 2002 berlaku, NKRI telah terang-terangan dibelokkan ke haluan yang keliru, sehingga cita-cita proklamasi kian jauh panggang dari api.

Penulis menilai Prabowo kini menghadapi perlawanan oligarki yang dulu hanya oligarki picisan dan kini sudah menjadi oligarki penuh binaan sepuluh tahun pemerintahan Jokowi. Menurutnya, kejatuhan rupiah, pasar saham, kelangkaan BBM, dan kenaikan harga sembako adalah aksi subversi para oligarki itu untuk menjatuhkan Prabowo.

Umat Islam, TNI, dan Polri Membersamai Nahkoda

Umat Islam, yang menurut penulis telah lama terbukti menjadi komponen utama bangsa dalam perlawanan terhadap penjajahan, bersama TNI dan Polri perlu membersamai Prabowo menyelesaikan perubahan haluan kapal NKRI yang bersejarah ini. Laju kapal akan melambat, dan mungkin kapal akan sedikit oleng karena para penumpang elite di geladak atas ribut dan gaduh, mengganggu nahkoda.

Umat Islam sebagai penumpang terbesar di geladak bawah, tulisnya, perlu tenang mempertahankan titik berat kapal agar tetap rendah. Dengan begitu kapal tidak kehilangan stabilitas, mampu tegak kembali, dan tiba di tujuan: baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang baik dengan Tuhan Yang Maha Pengampun.

Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan tidak mewakili sikap redaksi.

Daniel Mohammad Rosyid, Rosyid College of Arts, Gunung Anyar, Surabaya, Sabtu, 17 Oktober 2026

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *