Hafal Al-Quran Usia 7 Tahun: Anak Guru, Orang Tua Murid

banner 2560316

TROBOS.CO | Bocah itu masih ingusan. Usianya baru tujuh tahun, tapi ia sudah merampungkan hafalan Al-Quran 30 juz hanya dalam enam bulan. Orang-orang geleng kepala. Ada yang tak percaya, ada yang tertegun, ada yang diam-diam malu.

Wajar. Orang dewasa saja kerap bergelut bertahun-tahun hanya untuk menyelesaikan beberapa juz. Tapi bocah ini melakukannya dengan cara yang membuat kita bertanya-tanya: sebenarnya, siapa yang lebih layak disebut “dewasa” di sini?

Dalam banyak hal, anak-anak justru melampaui orang tuanya. Bukan soal pengalaman atau pengetahuan duniawi, melainkan soal sesuatu yang jauh lebih mendasar kejujuran, ketulusan, dan husnudzon. Anak tidak pandai berpura-pura. Tidak terlatih menipu. Apalagi korupsi.

Sementara orang tua, dengan segala pengalaman hidupnya, justru sering terjebak dalam buruk sangka, kalkulasi kepentingan, dan kompromi yang menggerus integritas. Anak selalu husnudzon. Orang tua sering sebaliknya.

Maka dalam banyak hal, orang tua semestinya siap duduk sebagai “murid” belajar dari kesederhanaan dan kejujuran anak-anaknya sendiri.

Kita sering mencemaskan masa depan generasi muda. Tapi cobalah jujur: siapa yang lebih banyak melanggar aturan? Siapa yang menimbulkan kerusakan ekonomi? Siapa yang menggerogoti kepercayaan publik lewat praktik korupsi?

Jawabannya bukan anak-anak.

Indonesia pernah menempati posisi memalukan sebagai salah satu negara paling korup di dunia. Pelakunya bukan remaja tanggung. Pelakunya adalah mereka yang sudah cukup umur untuk tahu bahwa apa yang mereka lakukan itu salah.

Ingat kasus contek massal di Surabaya beberapa waktu lalu? Anak-anak melakukannya bukan atas inisiatif sendiri. Mereka mencontek karena disuruh oleh guru, oleh orang tua, oleh sistem yang lebih takut pada angka di rapor daripada karakter di dalam dada.

Anak-anak itu hanya menurut. Yang menciptakan budaya curang adalah dunia orang dewasa.

Dari situ kita teringat pada sebuah adagium lama yang tetap relevan hingga hari ini: orang jujur pasti unggul, sementara yang curang pasti hancur. Kalimat itu sederhana. Tapi kita orang dewasa terus saja membuktikan betapa sulitnya menjalaninya.

Mungkin sudah saatnya kita belajar dari bocah tujuh tahun itu. Yang hafal 30 juz. Yang belum sempat belajar cara berbohong.

Tim Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *