Menjadi Tua yang Bermakna

banner 2560316

TROBOS.CO | Pada akhirnya, kehidupan adalah perjalanan matahari. Ia terbit dengan penuh cahaya, menanjak menuju puncak kekuatan, lalu perlahan bergerak menuju ufuk senja. Tidak ada yang perlu disesali dari senja, sebab senja bukanlah kegagalan matahari untuk bersinar. Senja adalah puncak kematangannya. Justru pada saat itulah langit menghadirkan warna-warna terindah yang tidak pernah muncul ketika fajar maupun siang hari.

Demikian pula manusia. Masa muda adalah musim menanam, masa dewasa adalah musim bertumbuh, sedangkan masa tua adalah musim memanen hikmah.

Jika pada masa muda seseorang sibuk mengumpulkan pengalaman, maka pada masa tua ia mulai memahami makna di balik pengalaman itu. Hal-hal yang dahulu tampak besar perlahan mengecil, dan hal-hal yang dahulu dianggap sepele justru tampak paling berharga. Sebab usia mengajarkan apa yang tidak mampu diajarkan oleh buku, dan waktu memperlihatkan apa yang tidak mampu dijelaskan oleh teori.

Menjadi tua bukanlah tentang tubuh yang mulai melemah, melainkan tentang jiwa yang seharusnya semakin matang. Sebagaimana pohon yang baik tidak diukur dari hijaunya daun, tetapi dari manisnya buah, demikian pula manusia tidak diukur dari kekuatan fisiknya, melainkan dari kebijaksanaan yang tumbuh dalam dirinya.

Rambut yang memutih bukan sekadar tanda bertambahnya usia, tetapi lembaran-lembaran sejarah yang ditulis oleh waktu di atas kepala manusia. Setiap helainya membawa cerita, pelajaran, kegagalan, perjuangan, dan rahmat Allah yang tak terhitung jumlahnya.

Sayangnya, banyak orang memandang usia tua seperti daun yang gugur dari ranting kehidupan. Padahal orang beriman memandangnya sebagai musim panen. Pada masa inilah seseorang memiliki kesempatan untuk melihat hidup dari ketinggian yang tidak dapat dilihat ketika masih berada di tengah keramaian dunia.

Ia mulai menyadari bahwa tidak semua yang dikejar layak dikejar, tidak semua yang ditangisi layak ditangisi, dan tidak semua yang dibanggakan akan dibawa pulang ketika perjalanan berakhir.

Ada saat ketika manusia menyadari bahwa hidup bukanlah tentang seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, tetapi seberapa banyak yang berhasil ditinggalkan dalam bentuk kebaikan. Sebab pada akhirnya, manusia bukan dikenang oleh apa yang dimilikinya, melainkan oleh jejak yang ditorehkannya. Harta akan berpindah tangan, jabatan akan berganti nama, dan popularitas akan dilupakan oleh generasi berikutnya. Namun ilmu, manfaat, doa, dan keteladanan akan terus hidup bahkan ketika pemiliknya telah lama meninggalkan dunia.

Menjadi tua dengan bermakna adalah ketika seseorang berhenti menghitung berapa tahun yang telah dilaluinya, lalu mulai menghitung berapa kebaikan yang masih bisa ia berikan. Ia tidak lagi sibuk bertanya berapa lama sisa perjalanan yang dimiliki, tetapi bertanya apa yang bisa dipersembahkan sebelum perjalanan itu berakhir.

Ia memahami bahwa usia bukanlah hitungan mundur menuju ketiadaan, melainkan hitungan maju menuju perjumpaan dengan Allah.

Maka senja kehidupan bukanlah waktu untuk tenggelam dalam penyesalan, melainkan waktu untuk menikmati keindahan langit yang mulai berubah warna. Sebagaimana musafir yang semakin dekat dengan kampung halamannya akan semakin rindu untuk pulang, demikian pula seorang mukmin yang telah menempuh perjalanan panjang akan semakin merasakan kerinduan kepada Rabb-nya. Setiap hari yang berlalu bukanlah kehilangan, tetapi langkah yang semakin mendekatkannya kepada tujuan akhir perjalanan.

Karena itu, menjadi tua sesungguhnya adalah sebuah seni. Seni menerima perubahan tanpa kehilangan harapan. Seni melepaskan dunia tanpa membenci kehidupan. Seni menikmati keterbatasan tanpa kehilangan makna. Dan yang paling indah, seni mempersiapkan kepulangan dengan hati yang tenang, karena mengetahui bahwa di ujung perjalanan ini ada Allah yang selama ini membersamai setiap langkah kehidupannya.

Senja bukanlah akhir cahaya. Ia adalah cahaya yang sedang pulang kepada sumbernya. Demikian pula usia tua bukanlah akhir kehidupan, melainkan awal dari perjalanan pulang yang sesungguhnya.

Cak Muhid, Pesantren Elkisi Mojokerto, Jawa Timur

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *