TROBOS.CO | Ada kalanya sebuah gambar mampu menjelaskan sesuatu yang gagal dijelaskan oleh ratusan halaman laporan.
Infografis yang disusun Prof. Didin S. Damanhuri tentang Vicious Circle (Lingkaran Setan) dan Virtuous Circle (Lingkaran Kebajikan) adalah salah satunya. Dalam satu lembar diagram sederhana, tergambar bagaimana sebuah bangsa dapat terjebak dalam pusaran krisis yang terus berulang sekaligus bagaimana bangsa yang sama bisa keluar dari pusaran itu.
Yang menarik, diagram tersebut tidak menempatkan korupsi sebagai satu-satunya sumber masalah. Ia juga tidak menempatkan kemiskinan sebagai akar tunggal. Justru Prof. Didin menunjukkan bahwa krisis bangsa lahir dari sebuah jaringan sebab-akibat yang saling menguatkan.
Politik transaksional melahirkan biaya politik yang tinggi. Biaya politik yang tinggi mendorong korupsi. Korupsi memperkuat oligarki. Oligarki melahirkan elite yang terkooptasi. Elite yang terkooptasi menghasilkan institusi yang lemah. Institusi yang lemah memperburuk kemiskinan dan ketimpangan. Dan kemiskinan kemudian menjadi lahan subur bagi tumbuhnya kembali politik transaksional.
Siklus itu terus berputar seperti roda yang tidak pernah berhenti.
Di sinilah kekuatan utama diagram tersebut. Ia mengajak kita melihat persoalan bangsa secara sistemik, bukan parsial.
Masyarakat sering kali tergoda mencari kambing hitam. Ketika korupsi meningkat, yang disalahkan adalah pejabat. Ketika ekonomi melemah, yang disalahkan adalah pemerintah. Padahal persoalannya jauh lebih kompleks. Kerusakan yang kita saksikan bukan kumpulan peristiwa yang berdiri sendiri ia telah menjelma menjadi ekosistem yang mampu mereproduksi dirinya sendiri.
Karena itu, mengganti orang tanpa memperbaiki sistem sering kali hanya menghasilkan pengulangan cerita yang sama dengan tokoh yang berbeda. Nama berubah, wajah berubah, partai berubah, bahkan rezim berubah tetapi pola kerusakan tetap bertahan.
Seperti seseorang yang memotong ranting-ranting pohon liar, sementara akarnya tetap dibiarkan hidup di dalam tanah. Cepat atau lambat, ranting-ranting baru akan tumbuh kembali.
Namun Prof. Didin tidak berhenti pada diagnosis. Di sisi lain diagramnya, ia menghadirkan Virtuous Circle Lingkaran Kebajikan.
Jika kerusakan dapat saling memperkuat, ternyata kebaikan memiliki kemampuan yang sama. Transparansi melahirkan kepercayaan publik. Kepercayaan publik meningkatkan partisipasi masyarakat. Partisipasi yang sehat memperkuat pengawasan. Pengawasan yang kuat mendorong lahirnya politik yang bersih. Politik yang bersih melahirkan kepemimpinan yang profesional. Kepemimpinan yang baik menghasilkan ekonomi yang produktif. Dan kesejahteraan yang meningkat akan memperkuat kembali partisipasi publik.
Di sinilah pelajaran yang sangat penting. Kebaikan bukanlah peristiwa tunggal. Ia adalah proses yang saling memperkuat dan saling menopang.
Kejujuran melahirkan kepercayaan. Kepercayaan melahirkan kerja sama. Kerja sama melahirkan produktivitas. Produktivitas melahirkan kesejahteraan. Dan kesejahteraan yang sehat akan memperkuat kembali budaya kejujuran.
Sayangnya, dalam kehidupan berbangsa kita sering kali lebih tertarik mencari solusi yang instan. Kita berharap satu kebijakan mampu menyelesaikan seluruh masalah. Kita berharap satu pemimpin mampu mengubah keadaan dalam waktu singkat.
Padahal diagram Prof. Didin mengajarkan bahwa perbaikan bangsa adalah proses membangun mata rantai kebajikan yang saling terhubung. Tidak ada jalan pintas menuju masyarakat yang sehat.
Karena itu, pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah apakah bangsa ini memiliki masalah. Semua bangsa memiliki masalah. Pertanyaan yang lebih penting adalah: lingkaran mana yang sedang kita perkuat?
Apakah kita sedang memberi energi kepada lingkaran setan melalui pembiaran terhadap korupsi, politik uang, ketidakadilan, dan lemahnya institusi? Ataukah kita sedang membangun lingkaran kebajikan melalui transparansi, profesionalisme, partisipasi publik, dan penguatan tata kelola yang baik?
Dalam perspektif ini, masa depan bangsa tidak ditentukan oleh satu peristiwa besar. Ia ditentukan oleh ribuan keputusan kecil yang diambil setiap hari oleh para pemimpin, birokrat, pelaku usaha, akademisi, tokoh agama, dan masyarakat luas.
Setiap keputusan yang mengabaikan integritas sesungguhnya sedang memberi makan lingkaran setan. Sebaliknya, setiap keputusan yang berpihak pada kejujuran dan kemaslahatan sedang memperkuat lingkaran kebajikan.
Nasib sebuah bangsa sering kali tidak ditentukan oleh musuh yang datang dari luar. Ia lebih banyak ditentukan oleh lingkaran yang tumbuh dan berputar di dalam dirinya sendiri.
Maka pertanyaannya kembali kepada kita masing-masing: lingkaran mana yang hari ini sedang kita pilih untuk kita hidupkan? *
Cak Muhid | Pesantren eLKISI Mojokerto, Jawa Timur









