Rahasia Awet Muda Glowing Selamanya Menurut Islam

banner 2560316

TROBOS.CO | Setiap orang mendambakan satu hal yang sama: tetap muda, tetap segar, wajah selalu berseri sepanjang usia. Industri kecantikan dunia bahkan tumbuh subur dari hasrat manusia yang satu ini. Namun jauh sebelum kata “glowing” menjadi tren media sosial, Rasulullah Muhammad SAW telah menitipkan pesan sederhana kepada umatnya: jagalah masa mudamu sebelum datang masa tuamu.

Bagi kalangan muda, nasihat itu barangkali belum terasa maknanya. Tapi bagi mereka yang telah menua, kalimat itu menghunjam dalam, bukan hanya secara fisik, melainkan juga secara spiritual. Ironisnya, sesuatu yang begitu keras diperjuangkan justru pertanda bahwa ia bukan benar-benar milik kita.

banner 300250

Ada logika sederhana yang sering luput dari kesadaran manusia. Sesuatu yang harus dipertahankan mati-matian sesungguhnya menandakan bahwa benda itu belum sepenuhnya menjadi hak milik. Begitu pula dengan “muda” dan “hidup” itu sendiri. Keduanya hanya pinjaman sementara yang bisa diambil kembali kapan saja oleh Sang Pemilik, tanpa perlu izin dari siapa pun.

Seandainya hidup benar-benar milik manusia, tentu tidak akan ada seorang pun yang pernah kehilangannya. Kenyataannya, dunia mencatat kematian setiap detik, tanpa pandang usia maupun status. Rasa takut kehilangan hidup itulah yang kemudian melahirkan perjuangan tanpa henti untuk mempertahankannya.

Sahabat Ali bin Abi Thalib RA pernah menuturkan sebuah hikmah yang dalam maknanya.

النَّاسُ نِيَامٌ، فَإِذَا مَاتُوا، انْتَبَهُوا

Artinya: “Manusia itu dalam keadaan tidur, apabila mati, barulah mereka tersadar.”

Kesadaran penuh itu baru benar-benar hadir ketika ajal menjemput, saat seluruh perbuatan manusia ditampakkan secara utuh, termasuk yang telah lama terlupakan. Allah SWT juga menegaskan hal ini dalam firman-Nya.

قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya: “Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, ia pasti akan menemuimu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS. Al-Jumu’ah: 8)

Meski kematian tak terelakkan, Al-Qur’an justru menawarkan ketenangan, bukan ketakutan. Ada satu resep yang ditawarkan Allah SWT bagi hamba-Nya untuk tetap “hidup”, muda, dan berseri selamanya, yakni senantiasa berada di jalan-Nya.

وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتًۢا ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Artinya: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran: 169)

Kematian, dalam kacamata ini, bukan akhir dari segalanya, melainkan gerbang menuju husnul khotimah, akhir yang baik, yang menjadi dambaan setiap insan beriman. Ibarat permainan dadu yang hasilnya penuh misteri, hidup pun demikian. Agar tidak ada satu momen pun yang terlewat tanpa makna, setiap detiknya perlu “dipertaruhkan” di jalan Allah.

Setelah pulang dari Perang Badar, pertempuran terbesar dalam sejarah perjuangan Islam, Rasulullah SAW justru mengucapkan kalimat yang mengejutkan para sahabatnya.

رَجَعْنَا مِنَ اْلجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَي اْلجِهَادِ اْلأَكْبَرِ. قَالُوا: وَمَا جِهَادُ اْلأَكْبَرِ؟ قَالَ: جِهَادُ اْلقَلْبِ أَوْ جِهَادُ النَّفْسِ

Artinya: “Kita telah kembali dari jihad kecil menuju jihad besar.” Para sahabat bertanya, “Apakah jihad besar itu?” Beliau menjawab, “Jihad hati atau jihad melawan hawa nafsu.”

Perang fisik sebesar apa pun, ternyata masih dikategorikan sebagai “jihad kecil” dibanding perjuangan melawan hawa nafsu dalam diri sendiri. Sebab, memerangi nafsu mencakup perjuangan harta, ilmu, hingga pikiran, sesuatu yang jauh lebih kompleks daripada sekadar pertempuran fisik.

Nafsu yang mendorong manusia berbuat jahat disebut nafsu ammarah. Jika dibiarkan menguasai diri, ia bisa membuat manusia kehilangan sifat kemanusiaannya, terjerumus pada permusuhan dan keserakahan.

وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: “Dan tidaklah aku membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53)

Namun Allah tidak membiarkan manusia sendirian menghadapi nafsu ammarah. Setiap hamba juga dibekali nafsu mulhimah, yang mampu menerima ilham serta membedakan mana jalan takwa dan mana jalan fujur.

وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا

Artinya: “Dan demi jiwa serta penyempurnaannya, Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan jalan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams: 7-8)

Dari sanalah muncul kesempatan untuk bermuhasabah, mengevaluasi diri sepanjang hayat. Proses ini melahirkan nafsu lawwamah, jiwa yang menyesali kesalahannya sendiri dan berjuang untuk memperbaiki diri.

وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

Artinya: “Aku bersumpah demi jiwa yang sangat menyesali dirinya sendiri.” (QS. Al-Qiyamah: 2)

Puncak dari seluruh perjuangan itu adalah nafsu mutmainnah, jiwa yang tenang dan tidak lagi goyah oleh hiruk-pikuk dunia. Jiwa semacam inilah yang kelak dipanggil pulang dengan penuh kemesraan oleh Sang Pencipta.

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ

Artinya: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)

Dalam surga yang dijanjikan itulah, digambarkan tempat tanpa lagi ada yang tua, karena semua yang tua telah kembali muda. Wajah-wajah penghuninya digambarkan berseri-seri, sesuatu yang di masa kini mungkin akrab disebut “glowing”.

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاعِمَةٌۙ لِّسَعْيِهَا رَاضِيَةٌۙ فِيْ جَنَّةٍ عَالِيَةٍۙ

Artinya: “Pada hari itu banyak pula wajah yang berseri-seri, merasa puas karena usaha dan perjuangannya, dalam surga yang tinggi.” (QS. Al-Ghasyiyah: 8-10)

Itulah resep awet muda dan glowing yang sesungguhnya, bukan hasil rangkaian skincare atau prosedur kecantikan, melainkan buah dari perjuangan panjang melawan hawa nafsu, hingga jiwa sampai pada titik ketenangan yang sejati.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Tim Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *