TROBOS.CO | Ada satu pertanyaan yang lebih layak diajukan ketika seseorang mengeluh, “Hidup ini ruwet.” Bukan, “Apa masalahmu?” melainkan, “Apakah engkau masih mampu melihat nikmat Allah?”
Pertanyaan ini terdengar sederhana. Tapi di baliknya tersembunyi sebuah pembongkaran besar terhadap cara manusia memandang hidupnya sendiri. Sebab menurut Al-Qur’an, akar keruwetan hidup sering kali bukan terletak pada realitas yang dihadapi, melainkan pada cara realitas itu dibaca.
Coba perhatikan sekeliling. Langit bergerak dengan keteraturan. Bumi beredar dengan presisi. Matahari tidak pernah terlambat terbit, bulan tidak pernah salah orbit. Air mengalir, benih tumbuh, udara tersedia tanpa diminta.
Bahkan tubuh manusia sendiri bekerja siang dan malam tanpa perlu diperintah. Jantung berdetak sejak seseorang masih dalam kandungan hingga akhir hayatnya, tanpa pernah absen sedetik pun. Semua berjalan dalam sistem yang sangat rapi.
Lalu mengapa manusia tetap merasa hidupnya ruwet? Jawabannya mungkin menyakitkan: yang kacau bukan dunia yang ditempatinya. Yang kusut adalah pikirannya. Yang berisik adalah keinginannya. Yang tidak pernah selesai adalah nafsunya.
Manusia sering mengeluh tentang beratnya hidup. Padahal jika direnungkan, sebagian besar beban yang dipikul bukan berasal dari kenyataan melainkan dari pikirannya sendiri.
Ia menderita karena sesuatu yang belum terjadi. Ia cemas terhadap masa depan yang belum datang, marah terhadap masa lalu yang tak mungkin kembali, dan iri terhadap kehidupan orang lain. Akibatnya, ia hidup di tiga dunia sekaligus: menyesali masa lalu, mengkhawatirkan masa depan, dan melupakan masa kini.
Bukan karena masalahnya terlalu besar. Tetapi karena pikiran sendiri yang menjadikannya lebih besar daripada ukuran sebenarnya.
Dalam Surat Ar-Rahman, Allah mengulang satu pertanyaan sebanyak 31 kali:
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Pengulangan ini bukan tanpa makna. Dalam perspektif epistemologi Qurani, ia menunjukkan bahwa penyakit terbesar manusia bukan kemiskinan, bukan kelemahan, dan bukan keterbatasan melainkan kelalaian kesadaran.
Manusia tidak kekurangan nikmat. Manusia kekurangan perhatian terhadap nikmat. Setelah menyebut langit, Allah bertanya. Setelah menyebut bumi, lautan, penciptaan manusia, hingga surga Allah terus bertanya. Lagi, dan lagi, sebanyak 31 kali, seolah berkata: “Aku telah menunjukkan begitu banyak nikmat. Mengapa engkau masih merasa hidupmu hanya berisi masalah?”
Allah berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.” Kerusakan tidak dimulai dari luar. Ia dimulai dari hati yang tidak pernah puas, dari akal yang tidak mau merenung, dari nafsu yang tidak terkendali.
Ketika hati kehilangan syukur, lahirlah ketamakan. Ketika ketamakan tumbuh, lahirlah persaingan yang tidak sehat. Ketika persaingan membesar, lahirlah konflik dan dari konflik itulah kerusakan berkembang. Fasad di bumi, pada akhirnya, sering berawal dari fasad dalam jiwa manusia sendiri.
Pada hakikatnya, hidup tidak serumit yang dibayangkan. Manusia diciptakan untuk mengenal Allah, diberi amanah untuk beribadah kepada-Nya, diperintahkan berbuat baik kepada sesama, dan diminta menjaga bumi yang dititipkan. Lalu suatu hari, kembali kepada-Nya. Sederhana.
Yang membuatnya rumit adalah ketika manusia ingin menjadi pengatur takdir ingin mengendalikan semua keadaan, ingin memiliki segala sesuatu, ingin disukai semua orang, ingin berhasil dalam semua urusan. Padahal dunia memang tidak dirancang untuk memenuhi seluruh keinginan manusia.
Barangkali, selama ini yang perlu diperbaiki bukan solusi atas masalah hidup, melainkan cara memandang hidup itu sendiri. Barangkali yang ruwet bukan hidup kita tapi keinginan kita, ego kita, dan cara berpikir kita.
Sebelum menyalahkan keadaan, sebelum menyalahkan orang lain, sebelum menyalahkan takdir dengarkan kembali pertanyaan yang Allah ulangi 31 kali dalam Surat Ar-Rahman: “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Sebab mungkin, seluruh ketenangan hidup justru bermula dari satu hal sederhana berhenti mendustakan nikmat yang sudah ada di depan mata.
(Tim Trobos.co)









