Menyukuri Kedipan Mata, Karunia Kecil yang Sering Terlupa

banner 2560316

TROBOS.CO | Berapa kali Anda berkedip hari ini? Puluhan? Ratusan? Ribuan? Hampir pasti Anda tidak tahu karena kedipan mata terjadi begitu otomatis, begitu senyap, hingga nyaris tak pernah kita sadari kehadirannya.

Padahal, coba bayangkan: bagaimana kalau kelopak mata Anda tiba-tiba macet dan tidak bisa berkedip?

Kedipan mata memiliki fungsi yang jauh lebih vital dari yang kita kira. Setiap kali kelopak mata menutup dan membuka, ia melumasi permukaan mata agar tidak kering, membersihkan debu dan partikel asing yang beterbangan di udara, serta melindungi mata dari paparan cahaya berlebih. Tanpa kedipan, mata akan cepat mengering, iritasi, dan rusak.

Bahkan, kedipan adalah salah satu cara kita berkomunikasi dengan dunia ketika tubuh tidak lagi bisa berbicara. Seorang pasien yang terbaring tak berdaya masih bisa menjawab ya atau tidak lewat kedipan. Seorang yang tidak mampu menggerakkan anggota tubuhnya masih bisa menjalankan salat lewat isyarat kedip.

Mereka yang kehilangan kemampuan berkedip tahu betul betapa mahalnya fungsi sederhana ini. Mereka menjadi akrab dengan klinik dan rumah sakit, mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, hanya demi menggantikan fungsi yang bagi kita datang gratis setiap detik.

Kedipan bukan hanya soal kesehatan mata. Ia menyimpan bahasa tersendiri yang kita gunakan setiap hari tanpa kita sadari.

Kedipan seorang guru yang tegang, tanpa senyum, tanpa kelembutan, bisa membuat seisi kelas merasa dimarahi. Sebaliknya, kedipan seorang presiden yang disertai senyuman hangat bisa membuat seluruh ruangan rapat terasa cair dan nyaman. Kedipan bisa mempererat persahabatan, bisa pula memantik permusuhan tergantung konteks dan cara ia disampaikan.

Dan ada juga kedipan yang satu itu yang penuh daya tarik, penuh magnet rasa yang bisa membuat hati seseorang berdegup lebih kencang. Atau sebaliknya, kalau salah sasaran, bisa membuat keluarga berantakan.

Sejak kita lahir, Allah sudah menganugerahkan kemampuan berkedip tanpa syarat, tanpa retribusi, tanpa perlu kita minta terlebih dahulu. Dengan rahman dan rahim-Nya, karunia ini diberikan kepada semua orang, di seluruh penjuru bumi, tanpa terkecuali.

Pertanyaannya: sudahkah kita pernah sekali saja mengucapkan terima kasih atas kedipan itu?

Allah sudah mengingatkan dengan tegas: siapa yang bersyukur, akan ditambah kenikmatan. Tapi siapa yang menutup-nutupi nikmat, mengingkarinya, berlaku kufur maka azab-Nya sungguh pedih.

Bersyukur tidak harus dengan hal-hal besar. Kadang cukup dengan menyadari hal-hal yang selama ini kita anggap terlalu biasa untuk disyukuri seperti kedipan mata yang baru saja kita lakukan, tanpa kita minta, tanpa kita bayar, dan tanpa kita sadari.

Semoga kita senantiasa berkedip dengan sehat, bersyukur dengan penuh kesadaran, dan Allah karuniakan kenikmatan yang lebih banyak lagi.

Ridhoi, tinggal di Plaihari, Kalimantan Selatan

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *