TROBOS.CO | Ada pertanyaan yang terdengar sederhana, tapi menyimpan kedalaman yang luar biasa: apakah Allah benar-benar “senang” ketika kita beribadah? Dan jika ya, mengapa Dzat yang Maha Sempurna itu membutuhkan ketaatan makhluk-Nya yang lemah ini?
Jawabannya, ternyata, justru membalik cara kita memandang ibadah selama ini.
Allah memang meridhai hamba-hamba-Nya yang beribadah. Tapi ridha-Nya bukan karena Dia memerlukan sesuatu dari manusia. Dalam QS. Fatir ayat 15, Allah dengan tegas menyatakan bahwa manusialah yang memerlukan Allah, bukan sebaliknya. Allah adalah Dzat yang Mahakaya dan Maha Terpuji.
Sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan Muslim menegaskan hal ini dengan cara yang menggetarkan. Allah berfirman bahwa seandainya seluruh jin dan manusia, dari yang pertama hingga yang terakhir, semuanya bertakwa seperti orang paling bertakwa di antara mereka itu sama sekali tidak akan menambah kerajaan-Nya sedikit pun.
Maka rasa “senang” Allah tidak bisa disamakan dengan emosi manusia. Ridha-Nya adalah ekspresi dari kesempurnaan hubungan antara Pencipta dan makhluk bukan kebutuhan, melainkan kehendak yang agung.
Lalu mengapa Allah memerintahkan ibadah, jika Dia tidak membutuhkannya? Inilah yang dijelaskan dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56 Allah menciptakan jin dan manusia semata-mata untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah bukan sekadar ritual, melainkan cetak biru tujuan hidup manusia itu sendiri.
Ketika seseorang beribadah, ia sedang menjalankan fungsi tertinggi keberadaannya. Di sanalah cinta dan ridha Allah mengalir bukan karena manusia memberi sesuatu kepada-Nya, tapi karena manusia sedang menjadi dirinya yang paling sejati.
Di antara sekian banyak bentuk ibadah, ada amalan-amalan yang secara khusus sangat dicintai Allah. Rasulullah SAW menyebutkan dalam riwayat Bukhari bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara konsisten, meski jumlahnya sedikit. Bukan yang paling besar, tapi yang paling istiqamah.
Menariknya, Allah juga sangat mencintai amal yang berdampak langsung bagi sesama. Sebuah hadis riwayat Thabrani menyebutkan bahwa manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Membuat sesama Muslim bahagia pun masuk dalam kategori amalan yang disukai-Nya.
Satu syarat yang tidak bisa ditawar: keikhlasan. Amal sebesar apa pun, jika tidak murni mengharap ridha Allah, tidak akan sampai kepada-Nya.
Inilah paradoks indah dari ibadah manusia beribadah untuk Allah, tapi seluruh dampaknya kembali kepada manusia itu sendiri. QS. Al-Ankabut ayat 45 mengingatkan bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Bukan Allah yang terjaga dari keburukan, melainkan si pelakunya.
Sebuah hadis qudsi riwayat Tirmidzi menyampaikan janji Allah yang meneduhkan: siapa yang meluangkan waktunya untuk beribadah, Allah akan memenuhi dadanya dengan kekayaan dan mencukupi kebutuhannya. Kekayaan bukan selalu soal materi melainkan kecukupan hati yang tidak semua orang mampu meraihnya.
Jadi, ketika seseorang malas beribadah, sesungguhnya ia tidak sedang merugikan Allah. Ia sedang merugikan dirinya sendiri.
Sudono Syueb, Pengurus DDII Jawa Timur Bidang Kominfo



