TROBOS.CO | Air adalah kebutuhan paling mendasar bagi manusia untuk hidup dan berkembang biak. Ketahanan suatu negara, bahkan peradaban di dalamnya, sangat ditentukan oleh ketersediaan pangan yang erat kaitannya dengan penyediaan air, baik untuk konsumsi maupun budi daya pertanian.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana cara mengetahui bahwa kondisi hutan yang menentukan jalannya siklus hidrologi berjalan teratur tanpa anomali? Apakah kondisinya baik-baik saja, atau justru sudah terjadi kerusakan yang tidak disadari?
Seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, penginderaan jarak jauh atau remote sensing kini berkembang pesat dengan berbagai perangkat pendukungnya, mulai dari satelit, drone, hingga sonar. Ilmu yang semula hanya berkisar pada pemetaan tanah ini kini telah meluas cakupannya, mencakup perekaman, pemantauan, analisis citra, dan sistem informasi geografis untuk berbagai sektor, mulai dari pertanian, perikanan, kelautan, kehutanan, hingga pembangunan wilayah dan tata kota.
Fenomena yang saat ini mengkhawatirkan publik dunia adalah perubahan iklim akibat kerusakan lingkungan, dengan suhu udara yang memanas di muka bumi bahkan telah melanda negeri-negeri beriklim dingin seperti Eropa.
Jauh sebelum isu perubahan iklim menjadi perbincangan global, Al-Qur’an telah lebih dulu memberikan peringatan.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum [30]: 41)
Ayat ini menegaskan bahwa kerusakan di daratan dan lautan terjadi akibat ulah tangan manusia, dan manusia akan merasakan akibat dari perbuatannya sendiri sampai mereka kembali memperbaikinya.
Lalu, apa yang bisa dilakukan ketika suatu daerah mengalami debit sungai dan mata air yang menurun tajam saat kemarau, namun berubah menjadi banjir bandang saat musim penghujan tiba? Salah satu asumsi yang paling mungkin adalah kondisi hutan yang sebagian sudah rusak, bahkan dalam kategori rusak parah, sebagai biang keladi dari malapetaka tersebut.
Untuk memastikan dugaan itu, langkah yang diambil adalah melalui bantuan survei penginderaan jarak jauh. Survei ini dilakukan dengan pemetaan zonasi menggunakan citra satelit beresolusi tinggi, mencakup tiga hal utama.
Pertama, pemetaan zona kritis, yakni lokasi-lokasi erosi aktif yang vegetasinya telah hilang total. Kedua, zona fragmentasi, di mana pepohonan masih ada namun kondisinya sudah renggang dan tidak lagi rapat. Ketiga, peta jalur air tanah, yaitu identifikasi daerah resapan air atau catchment area yang terhubung langsung ke mata air di kaki gunung.
Dari hasil analisis, diperoleh temuan bahwa kerusakan vegetasi berada dalam kategori sedang hingga berat. Agar debit mata air kembali normal saat kemarau dan banjir tidak lagi terjadi saat musim hujan, ada sejumlah rekomendasi perbaikan yang perlu ditempuh.
Langkah pertama adalah pembuatan bangunan konservasi tanah dan air untuk menahan air sementara waktu, sebelum vegetasi kembali tumbuh dan berfungsi normal. Langkah kedua berupa reforestasi aktif dan agroforestri, yaitu memulihkan fungsi resapan air tanah lewat reboisasi di area yang rusak, dikombinasikan dengan pola tumpang sari.
Selanjutnya, penanaman tanaman lokal berakar dalam di sekitar alur resapan menjadi penting untuk mengunci struktur tanah agar mampu menyerap air hingga ke lapisan akuifer dalam tanah. Area yang masih tersisa juga perlu mendapat proteksi total lewat penetapan zona lindung mutlak, khususnya di lereng-lereng atas, guna mencegah kerusakan meluas. Terakhir, pemantauan perlu dilakukan secara kontinu menggunakan citra satelit agar perkembangan kondisi hutan dapat terus terpantau dari waktu ke waktu.
Ada sesuatu yang menarik untuk direnungkan dari seluruh proses ini. Kebenaran yang nyata dari apa yang disampaikan Al-Qur’an berabad-abad silam tentang kerusakan di muka bumi, baik di daratan maupun lautan akibat perbuatan tangan manusia, kini terbukti selaras dengan temuan ilmu pengetahuan modern.
Solusi yang diambil untuk mengembalikan keadaan seperti semula pun ternyata sejalan dengan anjuran Al-Qur’an, dikerjakan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir masa kini. Ketepatan yang begitu presisi ini menambah keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah, dan kebenarannya adalah haq yang tak terbantahkan.
Tim Trobos.co





