Membangun Manusia Sebelum Membangun Negara, Ini Alasannya

banner 2560316

TROBOS.CO | Bangsa-bangsa berlomba. Jalan dibangun, pelabuhan diperluas, bandara dipercantik, kawasan industri bermunculan, kecerdasan buatan dikembangkan. Semua bergerak cepat, seolah kemajuan hanyalah soal seberapa canggih sistem yang dimiliki.

Tapi sejarah tidak berbohong. Sehebat apa pun sistem yang dibangun, ia tidak akan pernah melampaui kualitas manusia yang mengelolanya.

Konstitusi terbaik bisa diselewengkan oleh mereka yang tidak amanah. Teknologi tercanggih bisa menjadi alat kerusakan ketika jatuh ke tangan yang kehilangan nilai. Kekayaan alam yang melimpah bisa berubah menjadi kutukan ketika dikelola oleh yang tamak. Bahkan demokrasi, ekonomi, dan hukum yang dirancang paling sempurna pun kehilangan makna ketika pelakunya kehilangan integritas.

Maka akar seluruh pembangunan bukanlah sistem. Akar seluruh pembangunan adalah Sumber Daya Insani — SDI.

SDI bukan sekadar istilah. Ia memiliki kedudukan yang unik dan paradoksal sekaligus: ia adalah objek pembangunan karena kualitas dirinya harus terus dibentuk, namun pada saat yang sama ia adalah subjek pembangunan karena dialah yang merancang kebijakan, membangun institusi, mengembangkan teknologi, dan menentukan arah peradaban. Kualitas sebuah bangsa, pada akhirnya, hanyalah cermin dari kualitas insan yang membangunnya.

Di sinilah Al-Quran memberikan sesuatu yang tidak ditemukan pada teori pembangunan mana pun. Allah tidak memulai perubahan dengan memperkuat ekonomi atau menyusun sistem politik. Wahyu pertama justru dimulai dengan membangun cara manusia memahami ilmu.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)

Perubahan peradaban dimulai dari perubahan epistemologi. Cara membaca menentukan cara berpikir. Cara berpikir menentukan cara memandang kehidupan. Cara memandang kehidupan menentukan keputusan. Keputusan melahirkan tindakan. Tindakan membentuk karakter. Karakter membangun budaya. Dan budaya melahirkan peradaban.

Rantai sebab-akibat itu panjang, tapi pangkalnya selalu satu: bagaimana manusia membaca dan memahami realitas.

Epistemologi Qurani bukan sekadar teori tentang ilmu. Ia adalah cetak biru pembangunan SDI membentuk insan yang bertauhid, berilmu, berintegritas, produktif, amanah, dan berorientasi pada kemaslahatan. Dari insan seperti inilah lahir ekonomi yang adil, politik yang bersih, teknologi yang memuliakan manusia, dan masyarakat yang berkeadaban.

Sebaliknya, jika SDI-nya rapuh, maka semua yang dibangun pun ikut rapuh. Tidak peduli seberapa besar anggarannya, seberapa canggih teknologinya, atau seberapa kuat institusinya.

Indonesia tidak kekurangan program pembangunan. Yang kerap absen adalah kesadaran bahwa semua program itu hanya akan bekerja optimal jika digerakkan oleh SDI yang kokoh.

Revolusi terbesar yang dibutuhkan negeri ini bukan revolusi ekonomi, bukan revolusi digital, bukan pula revolusi industri. Revolusi terbesar adalah revolusi pembangunan SDI melalui Epistemologi Qurani.

Sebab hanya dari insan yang dibentuk oleh semangat “Iqra’ bismi rabbik” akan lahir peradaban yang mampu mewujudkan cita-cita Al-Quran

بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

Negeri yang baik, makmur, berkeadilan, dan berada dalam naungan ampunan Allah.

Bangsa tidak runtuh karena kekurangan sumber daya alam. Bangsa tidak gagal karena kekurangan teknologi. Bangsa runtuh ketika SDI-nya kehilangan arah. Maka membangun manusia bukan sekadar salah satu program ia adalah fondasi bagi seluruh bangunan peradaban.

Cak Muhid

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *