Laa Raiba Fiih lalu Yukminuna Bil Ghaib: Kepastian Dulu, Baru Keyakinan

banner 2560316

TROBOS.CO | Ada urutan yang sangat penting dalam cara Al-Qur’an membangun kesadaran manusia. Dan urutan itu sering kali terlewat begitu saja ketika kita membaca pembukaan Surah Al-Baqarah.

Epistemologi Qur’ani tidak dimulai dari spekulasi. Ia dimulai dari kepastian.

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ

Di sini, wahyu meletakkan fondasi paling mendasar: kebenaran yang tidak menyisakan raib tidak mengguncang akal, tidak meresahkan hati, tidak membuka celah kebimbangan yang menyesatkan. Ini bukan sekadar klaim kebenaran biasa. Ini adalah standar epistemologis: bahwa manusia membutuhkan pijakan yang pasti sebelum berani melangkah lebih jauh.

Ketika Kepastian Hilang, Akal Kehilangan Arah

Tanpa fondasi ini, pencarian manusia akan berakhir pada kebingungan yang tak bertepi. Akal bisa terus bekerja, tapi tanpa arah. Ia mampu menganalisis, mendebat, menyusun argumen tapi tidak mampu memastikan.

Dan ketika kepastian hilang, manusia mudah terseret di antara dua kutub yang sama berbahayanya: penolakan total atau penerimaan tanpa batas.

Karena itulah, setelah kepastian ditegakkan, wahyu baru mengarahkan manusia pada wilayah berikutnya:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ

Di sinilah ghaib mendapatkan tempatnya yang benar bukan sebagai spekulasi liar, bukan sebagai mitos yang ditelan begitu saja, melainkan sebagai keyakinan yang dibingkai oleh kepastian wahyu.

Bukan Semua yang Tidak Terlihat Layak Dipercaya

Ini penting untuk dipahami. Manusia tidak diminta untuk mempercayai semua yang tidak terlihat. Ia diminta untuk beriman pada yang ghaib yang ditetapkan oleh wahyu yang telah dipastikan kebenarannya terlebih dahulu.

Inilah urutan yang sangat menentukan:

Laa raiba fiih memastikan sumber kebenaran terlebih dahulu.

Yu’minuna bil ghaib baru kemudian menentukan apa yang boleh diyakini dalam wilayah yang tidak terlihat.

Tanpa langkah pertama, iman kepada yang ghaib berpotensi berubah menjadi mitos. Tanpa langkah kedua, kepastian wahyu tidak akan pernah membentuk kesadaran eksistensial yang sesungguhnya.

Keseimbangan yang Jarang Disadari

Di sinilah keseimbangan epistemologi Qur’ani berdiri dengan kokoh.

Kebenaran tidak lahir dari spekulasi, tapi dari wahyu yang pasti. Keyakinan tidak dibangun dari imajinasi, tapi dari petunjuk yang terjaga. Keduanya tidak bisa dibalik. Keduanya tidak bisa berdiri sendiri.

Dalam perspektif Iqra sebagai epistemologi esensial manusia, ini adalah fase lanjutan dari perjalanan ilmu. Setelah manusia membaca, menguji, dan sampai pada kepastian ia tidak berhenti di sana. Ia melangkah ke dimensi yang lebih dalam: mengimani yang tidak terlihat, tapi dengan dasar yang benar dan pijakan yang kokoh.

Karena masalah manusia, pada akhirnya, bukan hanya tentang apa yang ia lihat tapi tentang bagaimana ia memahami apa yang tidak ia lihat.

Dan di situlah urutan ini menjadi kunci yang sering kali kita lewatkan.

Bukan percaya untuk mencari kebenaran. Tapi menemukan kebenaran lalu percaya dengan benar.

Ketika itu terjadi, akal tidak lagi tersesat. Bukan karena ia berhenti bertanya, tapi karena ia telah menemukan pijakan yang pasti dan horizon yang terarah.

Laa raiba fiih bukan sekadar pernyataan tentang Al-Qur’an.

Ia adalah undangan: untuk datang dengan akal yang terbuka, menguji dengan jujur, dan ketika kepastian itu ditemukan melangkahlah lebih jauh, menuju yukminuna bil ghaib yang sesungguhnya. *

Tim Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *