Dicoret PKH, Siti Banting Tulang Sendiri hingga BAZNAS Hadir

banner 2560316

TROBOS.CO | Siti tidak ada di rumah ketika tim Monitoring dan Evaluasi BAZNAS Lumajang datang berkunjung, Rabu (13/5/2026).

“Sobung Pak, Siti sobung,” kata Hasanah, kakak Siti yang rumahnya bersebelahan menggunakan kata dalam bahasa setempat yang berarti tidak ada.

Hasanah kemudian menjelaskan ke mana adiknya pergi. Siti sedang ngasak mengais sisa-sisa panenan padi atau palawija di sawah orang. Itulah salah satu cara perempuan 53 tahun itu mengisi hari-harinya sejak namanya dicoret dari daftar penerima Program Keluarga Harapan (PKH).

Seseorang dikirim untuk memanggilnya. Tak lama kemudian, Siti datang mengayuh sepeda ontel butut dengan senyum yang masih tersimpan di wajahnya.

“Monggo, silakan masuk Pak,” katanya, mempersilakan tamu masuk ke rumah kecilnya di Dusun Sukorame, Desa Sukorejo, Kunir.

Sejak Dicoret PKH, Hidup Berubah

Siti Nur Aminah (53) , saat bercerita kepada Baznas tentang kehidupannya yang dilakoni seorang diri. Meski berat, disela sela kesibukannya Ia ngaku tetap menjalan kewajiban sholat lima waktu.

Begitu duduk, cerita itu mengalir. Hasanah benar Siti memang rajin. Tapi di balik ketekunan itu ada beban yang tidak ringan.

Sejak namanya dicoret dari PKH, bantuan yang selama ini menjadi penopang hidupnya lenyap begitu saja. Sejak saat itulah kehidupan Siti berubah menjadi serba kekurangan, dan ia harus banting tulang sendirian.

Ia membuat keripik pisang. Memotong pisang sendiri. Menggoreng sendiri. Lalu pergi ngasak ke sawah sendiri. Semua dikerjakan sendiri tidak ada yang membantu, tidak ada yang berbagi beban.

“Potong pisang sendiri, goreng sendiri, ngasak juga sendiri,” tegasnya, bukan dengan nada mengeluh, tapi dengan ketenangan seseorang yang sudah terbiasa.

Vertigo Kambuh, tapi Harus Tetap Bekerja

Yang membuat cerita Siti semakin berat adalah kondisi fisiknya yang terus menurun. Vertigo menjadi tamu tak diundang yang bisa datang kapan saja bahkan di tengah-tengah proses menggoreng keripik.

Tapi Siti tidak bisa berhenti. Keripik harus selesai. Pesanan harus dipenuhi.

“Tiap hari saya harus minum obat. Biar vertigonya tidak kumat,” ujarnya.

Ia menahan sakit itu. Setiap hari.

BAZNAS Hadir, Siti Tak Lagi Sendirian

Di titik itulah BAZNAS Lumajang hadir melalui program Lumajang Makmur.

Siti menerima bantuan modal usaha sebesar Rp2 juta sebuah angka yang mungkin terlihat kecil, tapi bagi Siti artinya sangat besar. Ini adalah modal untuk melanjutkan usaha keripik pisang yang selama ini ia rintis dengan tangan kosong.

Lebih dari sekadar uang, BAZNAS juga akan memberikan pendampingan dan pembinaan usaha — agar modal itu tidak berhenti menjadi angka, tapi benar-benar tumbuh dan berkembang.

Siti tidak kuasa menahan haru saat menceritakan semua ini kepada tim Monev BAZNAS yang duduk di hadapannya.

“Untung ada BAZNAS hadir. Alhamdulillah saya dibantu sama BAZNAS,” ujarnya dengan air mata yang pelan-pelan mengalir.

Lukman Hakim

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *