4 Tahapan Bekerja agar Bernilai Ibadah dalam Islam

banner 2560316

TROBOS.CO | “Bekerjalah! Maka, Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu.” Penegasan dalam Surat At-Taubah ayat 105 itu sering terdengar di mimbar pengajian, tetapi tidak banyak yang benar-benar menghayatinya dalam keseharian. Bagi kebanyakan orang, bekerja semata soal bertahan hidup, soal upah yang masuk di akhir bulan.

Namun bagi seorang mukmin, ada dimensi lain yang jauh lebih dalam dari sekadar angka di slip gaji. Islam ternyata memiliki tuntunan yang runut tentang bagaimana sebuah pekerjaan bisa berubah menjadi ladang ibadah, mulai dari niat hingga muaranya pada tawakkal kepada Allah.

Ada dua tipe orang dalam menyikapi pekerjaan. Tipe pertama menganggap bekerja sekadar tuntutan hidup, sehingga orientasinya melulu soal hasil. Berapa upah yang didapat, itu yang utama, sementara proses dan caranya kerap diabaikan begitu saja.

Tipe kedua berbeda jauh. Mereka memandang pekerjaan sebagai perintah Tuhan, sehingga setiap langkah yang diambil bernilai ibadah. Bagi golongan ini, sebuah pekerjaan baru disebut mulia jika dikerjakan dengan cara yang mulia pula, bukan sekadar dilihat dari hasil akhirnya. Allah, dalam pandangan ini, justru lebih menyoroti proses ketimbang hasil semata.

Sebelum tangan bergerak dan keringat menetes, ada satu hal yang harus lebih dulu tertata, yakni niat. Niat inilah yang menjadi semacam “proposal” batin seseorang sebelum memulai segala aktivitas.

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” Hadis yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab RA ini menjadi pengingat bahwa niat seseorang sejatinya hanya diketahui oleh dirinya sendiri dan Allah.

Ada gambaran menarik untuk memahami posisi manusia di hadapan Allah, yakni seperti sekelompok itik yang patuh pada penggembalanya. Selama mereka percaya dan mengikuti arahan sang penggembala, mereka akan dibawa ke tempat yang aman dan penuh makanan. Sebaliknya, mereka yang memilih jalan sendiri akan menanggung risikonya sendiri pula.

Allah pun memberi kebebasan penuh kepada manusia untuk menentukan arah niatnya, apakah sekadar mengejar keuntungan dunia, atau menyasar pahala akhirat, atau bahkan keduanya sekaligus. Pilihan itu sepenuhnya ada di tangan masing-masing orang yang bekerja.

Setelah niat tertata, langkah berikutnya adalah usaha yang sungguh-sungguh. Namun Islam tidak meminta seseorang memaksakan diri di luar kapasitasnya. Setiap orang dianjurkan bekerja sesuai bidang dan keahliannya masing-masing.

قُلْ كُلٌّ يَّعْمَلُ عَلٰى شَاكِلَتِهٖۗ

“Setiap orang berbuat (bekerja) sesuai pembawaan (skill)-nya masing-masing.” Begitu bunyi penggalan Surat Al-Isra ayat 84. Tuhan, kata ayat ini, lebih mengetahui siapa yang berada di jalan yang benar.

Yang juga ditekankan adalah pentingnya ilmu. Seseorang diingatkan untuk tidak asal mengikuti sesuatu yang tidak diketahui dasarnya, sebab pendengaran, penglihatan, dan hati nurani kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sebuah riwayat dari Imam Thabrani bahkan menegaskan, siapa yang menghendaki dunia, akhirat, atau keduanya sekaligus, jalannya tetap sama: harus dengan ilmu.

Di tengah kesibukan bekerja, ada satu hal yang kerap terlewat, yaitu doa. Padahal doa adalah bentuk pengakuan paling jujur dari seorang manusia bahwa dirinya hanya diberi kesempatan untuk berusaha, sementara hasil akhirnya tetap menjadi otoritas Allah.

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu,” demikian firman Allah dalam Surat Ghafir ayat 60. Ada juga ayat lain yang menyebut Allah dekat dan siap mengabulkan doa hamba-Nya yang memohon dengan kesabaran dan salat.

Dengan berdoa, seseorang sebenarnya sedang menjaga hatinya sendiri. Ketika usahanya berhasil, ia tidak akan jatuh pada kesombongan, karena ia menyadari keberhasilan itu bukan murni hasil kemampuannya, melainkan rahmat Allah semata.

Tahapan terakhir, dan barangkali yang paling sering disalahpahami, adalah tawakkal. Banyak yang mengira tawakkal berarti pasif, padahal justru sebaliknya. Tawakkal datang setelah niat dipasang, usaha dikerahkan, dan doa dipanjatkan.

فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“Apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal,” demikian bunyi Surat Ali Imran ayat 159. Pada titik ini, seseorang menyerahkan seluruh hasil kepada ketentuan Allah, dengan kesadaran bahwa apa pun yang didapat adalah takdir terbaik yang patut disyukuri.

Pada akhirnya, bekerja bukan lagi sekadar rutinitas mengisi waktu atau memenuhi kebutuhan perut. Ia bisa menjadi rangkaian ibadah yang utuh, dari niat yang lurus, usaha yang sesuai kapasitas dan ilmu, doa yang tak putus, hingga tawakkal yang menenangkan hati. Wallahu a’lam bishawab.

Tim Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *